
"Waah! selamat datang, Tuan Anderson, selamat datang," sambut Sergio penuh dengan senyum kehangatan tapi juga penuh kepalsuan. Melihat kedatangan tamu istimewa, hampir semua keluarga dari Tuan rumah langsung menyambut kedatangan Moreno dengan penuh kehangatan. Moreno pun membalas sambutan tersebut dengan senyum yang tidak kalah hangatnya dengan sang tuan rumah.
Namun dua orang yang datang bersama Moreno, nampak menunjukkan wajah datarnya. Senyum dua anak muda itu merekah tatkala sang tuan rumah mengajak mereka saling berjabat tangan, selebihnya mereka memilih diam menyaksikan para tuan rumah yang sedang menyanjung pemilik perusahaan alat transportasi kelas dunia tersebut.
Jika Marisa menatap Swergio dan Lupita dengan penuh rasa benci, Rafi sendiri memandang penuh dendam kepada dua oang tua yang dulu pernah dengan terang dan jelas menolak kehadirannya juga mengusir orang tua dari kehidupan dua orang itu. Dada Rafi bergemuruh kala matanya memandang senyum lebar nenek dan kakeknya yang tanpa beban sedang berbincang dengan Moreno. Ingin rasanya Rafi meluapkan amarah pada mereka, tapi sayang, demi menjaga nama baik sang ayah angkat, Rafi harus meredam amarahnya saat ini.
"Tuan Rafi kenapa diam? Apa tuan Rafi mau berkeliling?" Tania langsung melancarkan aksinya setelah tadi ikut berbasa basi.
"Benar, Tuan Rafi, jangan hanya diam. Silakan ikuti putri saya untuk menikmati pesta ini," Burhan ikut bersuara.
Rafi dan Marisa sontak saling pandang sejenak. "Nanti saja, kekasih saya butuh waktu saat berada di pesta seperti ini. Maklum, anak muda, jadi dia lebih suka pesta yang memang hanya untuk kalangan anak muda, benar kan, Sayang?" Marisa yang mermbalas ucapan sang tuan rumah hingga sukses membuat Tania langsung menunjukkan wajah cemberutnya.
"Justru karena itu, agar Tuan Rafi bisa beradaptasi dengan cepat, Tuan Rafi ikut Tania saja, bergabung dengan yang lain. Dijamin, Tuan Rafi tidak akan bosan menikmati pestanya," Lupita ikutan bersuara dengan segala keramahan palsunya.
"Benar," merasa mendapat dukungan, dengan sangat antusias, Tania kembali bersuara. Dia bahkan berani mendekati Rafi dan mencoba meraih lengannya. "Saya akan kenalkan anda pada teman teman saya, Tuan. Pasti anda akan senang."
__ADS_1
Rafi mendengus kesal. Dia langsung melepas tangan Tania dengan sedikit lebih kasar, dan hal itu cukup mengejutkan Tania dan juga keluarganya. "Maaf, jangan pegang pegang tangan saya. kita tidak begtu dekat."
Tania sontak ternganga mendengar ucapan Rafi yang cukup menohok. "Oh, maaf, saya hanya berusaha agar kita bisa menjadi akrab saja, Tuan."
"Tidak perlu repot repot," tolak Rrafi, dan penolakan Rafi kembali menampar Tania dengan telak. Karena malas berada disekitar orang yang Rafi benci, pemuda itu mengajak Marisa untuk berkeliling dan keduanya pamit meninggalkan orang orang yang sedang cari muka tersebut.
"Maafkan putra saya. Putra saya memang seperti itu," ucap Moreno begitu Rafi pergi.
"Tidak apa apa, Tuan. namanya anak muda," ucap Lupita masih dengan keramahan palsunya. "Tapi apa benar Tuan Rafi sedang kencan dengan Marisa?"
"Padahal saya ingin mengenalkan Tuan Rafi dengan putri saya, Amanda," Sergio kini yang bersuara. "Saya yakin, jika Tuan Rafi dekat dengan putri saya, pasti dia akan sangat suka."
Moreno seketika tersernyum. "Benarkah? Lalu dimana putri anda? Apa dia ada disini?" sebenarnya Moreno sudah tahu apa yang terjadi, tapi dia memilih pura pura tidak tahu seperti yang diminta Rafi dan Marisa.
"Kebetulan dia tidak bisa hadir karena sedang sibuk dengan kuliahnya," Sergio langsung berdusta. Padahal dia sendiri tidak tahu dimana anak anak dan mantan istrinya sekarang berada.
__ADS_1
"Yah, sayang sekali," ucap Moreno pura pura kecewa.
Di saat Sergio akan kembali bersuara, Burhan langsung memotong pembicaraan yang tidak penting tersebut dengan menanyakan tentang bisnis dan perusahaan. Sesuai dengan tujuan mereka mengundang Moreno adalah agar mereka bisa mendapat jalan mudah untuk bergabung dengan perusahaan kelas dunia milik tamunya itu.
"Apa Tuan Moreno tidak berminat mengembangkan usaha di sektor lain?" tanya Burhan mulai mencoba memancing percakapan yang nantinya akan menjurus ke arah permintaan kerja sama.
"Kalau saya pribadi sih, sudah tidak berminat untuk menambah sektor lain," tolak Moreno secara halus. "Tapi saya tidak tahu jika nanti pimpinan perusahaan dipegang putra saya, Rafi. Mungkin dia mau mengembangkan usaha pada sektor lain."
Sang tuan rumah cukup terkejut mendengar jawaban tamu istimewanya. "Tapi tuan, apa saya boleh bertanya?" kini ibu dari tuan rumah yang mengeluarkan suara.
"Silakan, Nyonya?"
"Sebelumnya saya minta maaf, jika pertanyaan saya agak lancang. Tapi apa benar Tuan Rafi adalah putra anda? Saya merasa wajah Tuan dengan tuan Rafi sangat jauh berbeda?"
...@@@@@@...
__ADS_1