SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Sebuah Pesan


__ADS_3

"Hallo!"


"Apa!"


"Oke."


"Nanti aku bilang. yang penting anda di sana harus harus hati hati."


"Oke."


kilk.


Sambungan telfon pun berakhir. Rafi terdiam tapi pikirannya langsung tertuju pada wanita yang saat ini sedang berada di rumahnya karena bertemu denga sang ibu. Rafi lantas bergerak cepat langsung menghubungi orang terkdekat yang dia kenal yaitu teman kerja ayahnya.


Setelah bercakap cakap sebentar dengan orang yang dia tuju melalui sambungan telefon, Rafi baru terlihat lega. Biar bagaimanapun Rafi tidak ingin anak dari bos ayahnya tidak bernasib tragis. Karena sebuah keserakahan sampai ada yang menjadi korban.


Saat Rafi kembali memainkan game diponselnya, terlihat wanita yang semalam menaminya tidur, melangkah dari arah luar menuju ke tempat dirinya berada dengan senyum terkembang sempurna. Di tangannya memegang sebuah buku tabungan berwarna biru.


"Sudah?" tanya Rafi saat wanita itu sudah berada didekatnya.


"Sudah, nih." Nadia menunjukkan buku tabungannya.

__ADS_1


"Ya udah aku transfer sekarang uangnya. Sini bukunya, aku lihat nomer rekeningnya," Nadia menyerahkan buku yang Rafi pinta dan tak butuh waktu lama, Rafi langsung mentransfer sejumlah uang kedalam rekening baru tersebut.


"Mas, apa aku boleh menggunakan uang ini untuk beli ponsel?" tanya Nadia sambil menerima kembali buku tabungannya.


"Ya silakan. Itu kan hak kamu. Tapi belinya kalau bisa jangan yang mahal mahal. Beli yang dibawah harga dua juta saja."


"Ya udah deh, Mas. Aku beli ponsel dulu ya?"


"Ya udah sana."


Nadia tersenyum dengan riang. Dia kembali keluar area kost untuk mencari atm dan mengambil sejumlah uang buat pegangan sekaligus membeli ponsel. Batapa kagetnya wanita itu saat melihat saldo tabungannya yang menurutnya begitu sangat banyak.


Rafi memang memberikan lebih banyak dari harga kesepakatan. Dilihat dari keadaan Nadia, Rafi berpikir kalau wanita itu memang butuh lebih banyak uang dari sekedar untuk biaya berobat orang tuanya. Rafi berharap Nadia menggunakan uang itu dengan baik.


Rafi sontak tersenyum. "Nggak. itu cukup. Kamu kan melayani aku nggak hanya sekali?"


"Berarti ini benaran mas Rafi ngasih segini? Ya ampun, Mas, aku sampai panik melihatnya."


"Iya, Tapi digunakan dengan bijak loh. Bukan untuk dihambur hamburkan."


"Iya, Mas, makasih." Nadia terlihat lega. Bahkan wajahnya lebih ceria kali ini. Dia lantas pamit menuju kamarnya. Sedangkan Ra fi kembali larut dalam ponselnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Rafi mendengar kalau terlfon jadulnya berdering. Dia tahu itu pasti misi berikutnya. Ternyata benar, itu misi yamg sama dengan hadiah lebih gede yaitu dua ratus miliar dan untuk misi kelima ada hadiah misteriusnya.


"Hadiah misterius? Kira kira apa ya?" gumam Rafi dalam hati. Disaat dia sedang berpikir tentang misi dan hadiahnya, Telfon Rafi kembali berdering dan terpampang nama Pak budi disana. Rafi langsung menggeser tombol hijau. dari telfon tersebut, Rafi dapat kabar kalau Marisa akan datang menjelang petang. Rafi mengiyakan dan meminta agar Marisa jaga diri baik baik.


Sekarang jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu siang kurang beberapa menit. Udara begitu panas dan Rafi memilih bertelanjang dada di dalam kamar sambil memasang kipas angin agar tidak kepanasan, Di saat yang sama terdengar suara Nadia berteriak memnggali namanya.


"Aku di kamar, Nad. Masuk saja!" ucap Rafi sambil berteriak. Wanita bernama Nadia lantas masuk ke dalam kamar dan tanpa rasa canggung, dia langsung duduk di dekat Rafi yang sedang terbaring. Tentu saja mendapat kesempatan itu, Rafi langsung memasukkan tangannya ke dalam pakaian Nadia dan meraiah bongkahan bukit kembar.


"Aku rencananya besok pulang, Mas. Nggak apa apa kan?"


"Ya nggak apa apa," Rafi bangkit dan mengangkat baju yang Nadia pakai hingga kaos itu menyentuh leher dan rafi juga mengeluarkan bukit kembar dari sarangnya. "Emang kamu tahu caranya pulang?"


"Tadi aku habis berkirim pesan chat sama temen, katanya aku langsung aja nyaari agen bis yang jurusan keluar pulau tempat tinggalku."


Meskipun kini mulut Rafi sedang menikmati bukit kembar Nadia, tapi telinga pria itu mendengar dengan jelas apa yang diucapkan wanita di hadapannya itu. "Di sini, dimana beli tiket bisnya yang akan kamu naiki? Kamu tahu?"


"Enggak. Mas Rafi tahu enggak?"


" Nggak tahu. Ya udah nanti kita tanyakan aja bareng bareng sama orang depan. Penjual makanan disini pasti banyak yang tahu."


Nadia mengangguk setuju. Sekarang tidak ada lagi pembahasan yang dibicarakan oleh kedunya. Yang ada dua orang di dalam kamar itu sepertinya akan kembali melakukan hubungan di dalam panas terik siang ini.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2