
Rafi pulang dengan meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak Bulan. Wanita itu bingung dengan apa yang dimaksud Rafi saat mengatakan membayar dengan apa yang dimiliki wanita tersebut. Dua kali wanita itu mendapat jawaban yang sama jika dia berkata tentang ketidak sanggupannya untuk membayar hutangnya nanti.
Namun di sisi lain, Bulan juga mendapat kabar baik. Setidaknya untuk sementara anak anak panti akan tetap aman tinggal di bangunan itu. Dilihat dari sikap tegas Rafi, Bulan yakin kalau pemuda itu memang bukan orang sembarangan. Apa lagi kedatangan Rafi memang untuk memberi undangan kepada seluruh penghuni panti agar mau menghadiri sebuah pesta yang diadakan sebuah perusahaab. Bulan pun segera bersiap diri untuk memberi tahu semuanya, termasuk pada Ibu panti dan temannya yang saat ini berada di rumah sakit.
"Yang benar, Lan? Kamu nggak lagi bohong kan?" seru temannya begitu Bulan menceritakan semuanya yang terjadi di panti setelah beberapa menit yang lalu dirinya sampai di rumah sakit.
"Ya benerlah," balas Bulan dengan penuh kepastian. "Nih kartu namanya," Bulan memberikan kartu nama yang dia dapat dari Rafi. Dua wanita yang ada di ruangan itu pun bergiliran memperhatikan kartu nama itu.
"Folcano grup? Kalau perusahaan ini memang sering ngasih bantuan ke kita," ucap wanita tua yang terbaring di atas brangkar.
"Hah! Yang benar, Bu?" Bulan dan temannya nempak begitu terkejut mendengarnya.
Wanita itu mengiyakan. "Dia bukan donatur tetap, tapi memang sudah sering memberi bantuan kepada kita beberapa kali. Yang punya perusahaan orang asing jadi jarang berada di negara ini. Namanya saja bukan Rafi, lalu Rafi ini siapa? Anaknya?"
__ADS_1
"Ya mungkin saja, Bu," balas Wulan. "Soalnya tadi juga dia dipanggilnya dengan panggilan Tuan muda."
Ibu Panti nampak mengangguk. Obrolan merekapun masih berlanjut hingga beberapa menit kemudian waanita pengasuh panti merasa ngantuk setelah meminum obatnya. Dua wanita muda yang ada disana lantas meninggalkan ibu panti yang sudah membesarkan mereka di ruangannya.
"Tapi aku tuh bingung loh, Wi, orang yang bernama Rafi itu minta, aku disuruh bayar utang dengan apa yang aku miliki. Dia kan tahu aku anak panti, harusnya dia juga tahu aku tidak memiliki apa apa kan?" ucap Bulan begitu keduanya duduk di kursi yang ada di depan ruangan ibu panti di rawat.
"Loh, kamu nggak berterus terang kalau kamu tidak memiliki barang berharga?" tanya si teman yang akrab dipanggil Dewi itu.
"Ya sudah, tapi dia malah nyuruh aku untuk merenung dan berpikir. Mana senyumnya nakal banget lagi. Aku jadi pikirannya kotor tahu nggak," gerutu Bulan sedikit kesal dengan pemikirannya sendiri.
"Lalu apa?" Bulan terlihat begitu bingung.
"Bisa saja dia tertarik dengan kamu atau tubuh kamu."
__ADS_1
Bukan seketika membelalakan matanya. "Mana mungkin!" serunya dengan suara cukup keras sampai beberapa orang menoleh ke arah dua wanita muda itu. Bulan pun langsung gelagapan dan merasa tidak enak hati. Dia langsung ceengengesan dan salah tingkah sendiri. "Apa dia ingin aku membayar utang itu dengan tubuhku?" tanya Bulan dengan suara yang lebih lirih.
"Ya bisa jadi seperti itu. kamu tahu kan kehidupan orang kaya raya, pasti tidak jauh dari yang namanya gaya hidup bebas. Mungkin saja dia memang tertarik dengan milik kamu sampai dia mau melakukan bantuan segila itu. Sepuluh miliar, bagi kita itu uang yang tidak sedikit loh."
Untuk sejenak, Bulan terdiam. Sebagai wanita tentu saja dia tidak ingin menyerahkan dirinya pada sembarang pria. Hampir semua wanita pasti ingin menyerahkan tubuhnya untuk suaminya kelak, begitu juga dengan Bulan. Tapi untuk kasus yang Bulan hadapi saat ini, wanita itu memang merasa harus membalas apa yang Rafi lakukan untuk panti asuhan.
"Tapi masa membayar hutang dengan tubuh sih, Wi? Apa nggak ada cara lain?" Bulan terlihat frustasi mendengarnya.
"Ya kalau adanya cuma cara seperti itu ya mau gimana lagi. Apa kita serahkan saja tubuh kita berdua tapi dengan syarat kalau hutang kita pada tuan itu lunas?"
Mata Bulan kembali membelalak. "Kamu gila?"
"Ya gimana lagi. Ini masalah bersama loh, Lan. KIta harus hadapi bersama juga. Di panti ini cuma kita yang bisa diandalkan. Kalau dengan tubuh kita, bisa menjamin selamanya panti asuhan tetap berdiri. Bukankah pengorbanan kita nggak akan sia sia?"
__ADS_1
Bulan terbungkam. Untuk saat ini hatinya masih dalam dilema.
...@@@@@...