
"Kamu nanti siang jadi ke panti asuhan, Nak?" tanya pria tua yang sedang menikmati roti panggang berlapis selai coklat dan parutan keju. Dulu saat baru singgah di negara ini, pria itu merasa aneh karena ada keju dan coklat dicampur dalam maakanan, tapi sekarang lidahnya sudah terbiasa merasakan nikmatnya perpaduan coklat dan keju tersebut.
"Jadi, Dad, aku harus jadi saksi jika tanah, tempat berdirinya panti asuhan itu sudah resmi menjadi milik pihak panti," jawab pria muda yang setiap kali menu makanannya harus pakai nasi karena memang warga asli negara ini. Berbeda dengan pria yang dia panggil Daddy. Pria tua itu berasal dari negara dimana roti adalah jadi makanan utamanya.
"Kalau kamu, Marisa, kapan mulai jadi sekretarisnya, Raffi?" sekarang pria tua bernama Moreno itu melempar pertanyaan kepada wanita yang juga sedang menikmati roti yang sama seperti pria itu nikmati sebagai menu sarapannya.
Sebelum menjawab, wanita bernama Marisa menoleh ke arah Rafi sejenak, lalu kembali menatap ke arah pria yang tadi melempar pertanyaan. "Aku sih inginnya secepatnya, Om, tapi sebentar lagi Daddy akan pulang. Aku ingin menyambutnya dan menemaninya beberapa hari. Kemungkinan juga aku tidak akan tinggal disini lagi, jika Daddy pulang nanti."
Kening pria tua berkerut, menatap dua anak muda di seberang meja. "Kalau Om sih nggak keberatan. Kamu mau tinggal dimana saja silakan. Tapi apa Rafi mau ditinggal kamu lagi?"
Rafi malah mendongak menatap Moreno lalu mendengus. Dia tahu, Daddy sedang meledeknya. "Maka itu Dad, nanti jika Tuan Alexander pulang, Daddy bantu aku untuk bujuk Tuan Alexander, agar mau menikahkan anaknya denganku. Di saat nggak ada ayahnya, maunya nempel terus sama aku, giliran ada ayahnya aja, seenaknya mau pindah rumah."
Marisa dan Moreno sontak tersenyum. Salah satu dari mereka hendak membuka suaranya kembali, tapi diurungkan saat tiba tiba salah satu asisten rumah tangga menghampiri mereka. "Maaf, Tuan, di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan muda dan Nona Marisa."
__ADS_1
"Bertemu dengan saya? Siapa, Bi?" tanya Marissa.
"Namanya Sergio, Nona."
"Apa! Mau apa dia kesini!" seru Marisa. Rasa terkejut juga tergambar jelas di wajah Moreno dan Rafi saat ini.
"Udah, kita temui aja," ucap Moreno kelihatan nampak lebih tenang. Berbeda dengan dua anak muda yang memang memiliki dendam dan rasa marah pada tamunya itu.
menuruti saran Moreno, ketiganya lantas mengakhiri acara sarapan pagi mereka secara mendadak dan segera menemui tamu yang katanya sudah menunggu di ruang tamu. Kening Rafi semakin berkerut saat langkah kakinya telah sampai di ruang tamu. Bukan hanya Sergio yang membuatnya heran, tapi di ruang tamu juga ada orang yang Rafi perintahkan untuk mengawasi Sergio.
Sergio kembali menunjukan senyum kecutnya. Pria itu tahu benar kalau sang keponakan pasti sangat marah atas perbuatannya. Bukan hanya sang keponakan, tapi juga anak muda yang tatapannya begitu dingin tanpa bersuara apapun. Sergio tahu, Rafi pasti sedang menahan amarahnya saat ini dan juga penasaran apa yang dilakukan Sergio di rumahnya.
"Ada perlu apa anda pagi pagi datang kesini, Tuan?" tanya Moreno yang lebih bisa bersikap tenang karena pria itu memang tidak ada masalah dengan tamunya itu.
__ADS_1
Sergio menatap pria yang duduk disebelahnya. Pria yang sebenarnya menjadi anak buah Moreno dan Rafi pun mengangguk lalu menatap si tuan rumah. "Maaf, Tuan besar dan Tuan muda, saya yang akan mewakili Tuan Sergio untuk berbicara."
"Apa kamu sudah menjadi pengkhianat?" Rafi bertanya dengan sangat sinis.
"Tidak, Tuan, saya sama sekali tidak ada niat untuk mengkhianati Tuan muda dan tuan besar," bantah si anak buah yang sebenarnya juga sedang merasa takut saat ini. Tuduhan yang Rafi lontarkan memang sangat rentan membuat dia disebut pengkhianat.
"Lalu, kenapa kamu malah datang bersama dia dan membantunya? Apa dia membayarmu dengan mahal?" Rafi masih melemparkan pertanyaan intimidasinya.
"Maaf, Tuan muda, sebenarnya saya berat untuk memutuskan menolong Tuan Sergio. Tapi setelah saya ngobrol dengan dia dan dia juga sangat membutuhkan pertolongan, akhirnya saya memutuskan menolong Tuan Sergio untuk menemui Tuan muda dan Nona Marisa."
"Minta tolong? Minta tolong apa dia? Minta tolong untuk dimaafkan atas segala kesalahannya?" Marisa melempar pertanyaan dengan sinis.
"Tidak, Nona," anak buah itu mengambil sesuatu yang di bawa Sergio yang membuat ketiga tuan rumah cukup tercengang.
__ADS_1
...@@@@@...