
"Saya ingin meminta bantuan kepada Tuan, apa Tuan bisa?"
"Bantuan?" wanita yang duduk di kursi tunggu, depan ruangan rawat inap itu mengangguk. "Bantuan apa?"
wanita itu menunnduk. Sejenak dia menghela nafasnya dalam dalam untuk mengumpulkan keberanian. "Keluarga kami butuh uang banyak banyak. Saya ingin menjual kesucian saya kepada Tuan, apa Tuan mau?"
Kening Rafi seketika langsung berkerut. Di tatapnya wanita yang masih menunduk tanpa berani membalas tatapannya. Rafi mengusap wajahnya secara kasar lalu dia duduk di sebelah wanita itu. Kini pikiran Rafi kembali teringat pada sistem yang beberapa hari ini dia abaikan karena kesibukannya dengan dunia kantor. Rafi bahkan nyaris melupakan misi itu. Tapi kini, jalan untuk menuntaskan misi malah mendatangainya sendiri tanpa Rafi cari.
"Jelaskan dulu, alasan yang tepat, kenapa kamu sampai memutuskan menjual mahkota kamu?" tanya Rafi dengan mata terus menatap wanita di sebelahnya.
Wanita itu menoleh, membalas tatapan Rafi sejenak, lalu pandangannya beralih lurus ke depan. "Kami terlilit hutang yang cukup besar pada salah satu pinjaman online. Sebenarnya itu bukan perbuatan kami, tapi itu berbuatan orang tua kami. Karena hutang yang menurut kami terlalu banyak, kedua orang tua kami kabur entah kemana, meninggalkan aku, abang dan dua adikku."
"Astaga!" Rafi memekik. "Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Ya, seperti itu adanya, Tuan. Sedangkan satu satunya barang berharga yang kami miliki adalah rumah. Tapi sertifikat rumah itu sudah digadaikan orang tuaku dan sudah tiga bulan ini kami mendapat ancaman kalau rumah kami akan disita. Kami bingung, Tuan. untuk makan sehari hari saja kami sering kekurangan," wanita itu bercerita dengan bibir yang bergetar dan mata yang sudah memerah menahan tangis.
Rafi menghembus pelan nafasnya dan dia juga mengedarkan pandangannya ke arah lain. Rafi tak habis pikir, ada saja masalah yang dihadapi tiap manusia. Dan yang membuat Rafi heran, kenapa setiap orang miskin selalu mendapat masalah yang berhubungan dengan uang.
"Apa kamu sudah memikirkan matang matang? Jangan ambil keputusan yang nantinya akan kamu sesali?" Rafi mencoba memberi nasehat terlebih dahulu. Biar bagiamnapaun Rafi tidak mau menikmati sesuatu yang nantinya menumbuhkan penyesalan terbesar pada wanita itu.
"Aku sudah memikirkan dengan sangat matang, Tuan. Aku bahkan sudah membicarakan semua ini sama abang."
"Dia setuju?' tanya Rafi dengan tatapan terkejutnya dan wanita itu mengangguk. "Astaga!"
Rafi lantas mengangguk tanda mengerti akan kebimbangan dan beban yang ditanggung wanita itu. "Kamu mau jual berapa? Apa untuk menebus hutang atau gimana?"
Wanita itu kembali menoleh dan menatap Rafi cukup lama lalu dia kembali menunduk. "Aku nggak tahu, harga Mahkota itu berapa. Niatnya uang itu memang untuk menebus hutang agar kami tidak dikejar kejar depkolektor, Tuan."
__ADS_1
Rafi nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Kalau aku boleh usul, mending kalian pindah dari tempat tinggal yang itu. Uangnya kamu bisa gunakan untuk memulai usaha bersama kakak kamu. Daripada uang itu nantinya buat bayar hutang yang tidak kamu nikmati. Terus kedepannya kamu bingung lagi karena semua uang sudah kamu pakai untuk menutupi hutang orang tua kamu."
Wanita itu terdiam, tapi pikirannya mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Rafi. "Apa lebih baik aku bicarakan dulu dengan Abangku, Tuan? Aku sendiri bingung mahkotaku mau dijual berapa?"
"Ya terserah kamu enaknya gimana. Tapi ya memang ada baiknya sih jika kakakmu tahu hal itu juga."
"Baik, Tuan. terima kasih atas sarannya. Tapi Tuan mau membayar mahkotaku, kan?"
Rafi pun mengangguk tanpa beban. Wanita lantas tersenyum dan dia segera beranjak menuju ruang rawat kakaknya. Sedangkan Rafi memilih pamit begitu dia kembali menemui kakak dari wanita itu.
Sementara itu di tempat lain, nampak lima pria berbadan kekar sedang terlibat pembicaraan serius. Para pria yang punggung tangannya terdapat tato tulang ikan bertuliskan TGM, sepertinya sedang merencanakan sesuatu seperti rencana yang pernah merekalakuka kepada target targetnya.
"Jadi besok, kalian harus sudah berada di lokasi sekitar rumah Tuan Moreno, dan kamu tetap awasi di lokasi sekitar tempat kost anak sialan itu," ucap Bawor, sang pemimpin dari kelompok tersebut. "Sedangkan yang lainnya termasuk aku berjaga di lokasi pesta. Kiali ini, kita harus benar benar mendapatkan target kita, mengerti?"
__ADS_1
"Mengerti bos!"
...@@@@@...