SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Sebuah Ancaman


__ADS_3

"Apa itu?" tanya Kalina begitu wildan kembali datang ke ruangan dimana wanita itu sedang menemani gadis kecil yang sedang main masak masakan.


"Nggak tahu, paketan untuk Bang Rafi, tapi aneh banget," ucap Wildan sembari duduk di sebelah wanita yang kini menjadi kekasihnya.


"Aneh gimana?" tanya Kalina lagi sembari meraih gelas dan meminum isinya sedikit.


Rafi menunjukkan keanehan dalam wadah kotak dari kardus yang terlilit perekat sangat kencang. "Lihat, nih! Disini cuma ada nama untuk Tafi, tidak ada alamat, tidak ada jasa pengiriman. Terus tadi yang ngirim paket juga langsung permisi begitu aja."


Kening Kalina sontak berkerut sambil mengambil alih paket dari tangan Wildan. "Ah iya, kok aneh banget ya? Terus isinya apa kira kira? kok ringan banget?"


Wildan mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban kalau dia tidak tahu, lalu dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya. "Biar aku hubungin Bang Rafi, kali aja Bang Rafi memang benaran pesan sesuatu."


Di tempat yang berbeda, Rafi masih memperhatikan Marisa yang sedang menerangkan suatu data yang tersaji di layar laptop. Data tersebut berisi tentang beberapa contoh laporan yang terkait dengan laporan kinerja para karyawan sesuai dengan bidangnya masing masing. Secara gamblang, Marisa menjelaskan data tersebut sampai Rafi benar benar bisa memahami.


Kluntang! Kuntang! Kluntang!


Ponsel Rafi berbunyi. Pemuda itu minta jeda sebentar karena ponselnya mendapat telfon masuk dan tertampang nama Wildan pada layarnya. Setelah Marisa mengijinkan, Rafi langsung menggeser tombol hijau dan terdengarlah suara Wildan dari seberang.


Rafi terlihat terkejut begitu mendapat laporan dari penjaga kostnya. Rafi menyangkal kalau dirinya membeli suatu barang dan memerintahkan Wiildan untuk mengambil tindakan.


"Ada apa?" tanya Marisa begitu pembicaraan Rafi dan Wildan selesai.

__ADS_1


"Ada paket untuk aku. Kata Wildan paketnya aneh," jawab Rafi.


"Aneh kenapa?" Marisa terlihat penasaran. Rafi lantas menceritakan kembali informsi yang dia dapat dari wildan. "Loh, kok bisa?" Marisa juga terlihat terkejut.


"Ya makanya aneh kan? Makanya aku nyuruh Wildan untuk membuka saja paketan itu."


Marisa mengangguk tanda setuju dengan tindakan Rafi, lalu setelah berbincang sedikit, mereka kembali melanjutkan pelajarannya yang sempat tertunda. Beberapa menit kemudian, ponsel Rafi kembali berbunyi dan itu adalah tanda ada pesan masuk. Rafi langsung memeriksanya.


"Astaga! apa ini?" Rafi terlihat terkejut saat mendapat kiriman foto dari Wildan.


"Kenapa lagi?" tanya Marisa yang nampak terkejut melihat sikap Rafi, lalu dia ikutan melongok ponsel yang masih berada di dalam genggaman pemuda di sebelanya. "Astaga! itukan tikus mati!"


"Iya, itu isi kotak dalam paketan tadi," terang Rafi.


Begitu Marisa selesai melempat pertanyaan, telfon Rafi berdering dan dia langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Dari sebarang sana, Wildan memberi tahu kalau Rafi mendapat ancaman untuk menjauhi Marisa. Jika tidak, maka hal buruk akan terjadi pada Rafi.


"Pengecut!" umpat Rafi penuh kekesalan begitu pembicaraan dengan Wildan berakhir. Dia benar benar terlihat marah tapi tidak bisa melakukan sesuatu.


"Gimana nih, Fi. aku takut," rengek Marisa yang tadi ikut mendengar percakapan Rafi dan Wildan karena dia meminta Rafi untuk mengaktifkan simbol pengeras suara.


"Nggak usah takut," Rafi mencoba menenangkan wanita yang wajahnya mendadak berubah menjadi panik.

__ADS_1


"Tapi, Fi, kalau ancamannya kayak gitu pasti nggak main main."


"Aku tahu, tapi kalau kita menuruti perintah dari ancaman itu, kamu malah dalam bahaya. Makanya, kamu nggak boleh jauh jauh dari aku." Marisa menempelkan tubuhnya pada tubuh Rafi, dan Rafi memeluk wanita itu dari samping serta menenangkan wanita itu dari rasa takut yang melandanya tiba tiba.


Sementara Kalina dan Wildan juga masih diliputi rasa terkejut setelah membuka paket itu. Wildan berbegas membuang bangkai tikus tersebut setelah memberi tahu Rafi.


"Marisa itu siapa? kok bisa ngirim ancaman seperti itu pada Rafi?" tanya Kalina yang jadi penasaran.


"Marisa itu anak yang selalu bersama Rafi itu yang tadi aku ceritakan," terang Wildan.


"Loh, emang Rafi sekarang menjadi menjaga wanita itu?"


"Ya nggak tahu juga. Mungkin saja seperti itu, Buktinya Marisa menempel terus sama Rafi," terang Wildan lagi dan Kalina nampak manggut mangut. "Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Wildan yaang merasa aneh dengan diamnya Kalina


"Hahaha ... ngapaian cemburu?" bantah Kalina.


"Yaa kali aja, secara kamu sama Rafi kan ..."


"Tu kan! Baru aja jadian, udah ngungkit ngungkit? Ini yang paling aku takutkan jika menjalin hubungan serius setelah aku jujur dengan keadaanku."


"Ya bukan begitu, maksud aku .."

__ADS_1


"Udahlah, percuma juga kita pacaran, " Kalina langsung bangkit meninggalkan Wildan yang seketetika memukul kepalanya sendiri.


...@@@@@@...


__ADS_2