SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kabar Dari Asisten


__ADS_3

Hari kini berganti lagi. Begitu pagi telah datang, Rafi bergegas melakukan tugas yang biasa dia kerjakan saat masih berjaga di tempat kost. Sampai pagi ini, Rafi juga belum mendapat kabar dari Wildan. Entah apa yang terjadi pada mereka saat ini, Rafi cukup mengkhawatirkan keduanya.


"Tuan muda kenapa repot repot melakukan semua pekerjaan ini?" tanya salah satu pengawal yang ternyata sudah bangun terlebih dahulu. Mereka berdua memilih tidur di dalam mobil, meski Rafi sudah menawari mereka agar istirahat di dalam kamar. "Biar aku saja yang membersihkannya, tuan."


Awalnya Rafi menolak, tapi karena dua pengawalnya terus memaksa, akhirnya Rafi mengalah dan memberikan alat bersih bersih kepada pengawalnya. Rafi juga memberi petunjuk bagian bagian mana yang harus dibersihkan. Setelah dua pengawal itu mengerti, Rafi pamit pergi menuju post jaga. Dia mengambil ponselnya untuk memberi kabar kepada Moreno, kalau dia mungkin akan telat datang ke kantor dengan alasan yang cukup masuk akal.


Moreno pun dengan senang hati mengijinkan. Bahkan pria itu memberikan waktu bebas kepada


Rafi untuk menyelesaikan semua urusannya terbelih dahulu sampai semua masalah benar benar selesai. Tentu saja rasa senang juga menghampiri Rafi saat itu juga. Rafi akan menggunakan kesempatan itu sebaik baiknya.


Masih di pagi yang sama, Dito juga nampak terbangun dari tidurnya. Padahal semalam dia sudah bermain tiga ronde dengan wanita yang saat ini masih terlelap. Tapi entah kenapa, Dito malah terbangun sepagi ini. Begitu kesadarannya telah memenuhi jiwa dan raganya, Dito bangkit dan duduk di atas kasur dengan mata menatap wanita yang terlelap.


Puas memandangi wanita lawan mainnya, Dito melangkah ke kamar mandi untuk buang air dan membersihkan batangnya. Karena tidak membawa perlangkapan mandi, jadi Dito membersihkan badan dibagian bagian tertentu saja. Setelah urusan kamar mandi selesai, Dito memunguti pakaiannya dan mengenakan pakaian itu.

__ADS_1


"Wuih! Seger banget nih yang baru saja main," ledek Rafi begitu melihat Dito datang menghampirinya. "Kok kamu pagi banget bangunnya, Dit? Main berapa ronde semalam?"


"Entahlah, aku juga nggak tahu. Padahal main tiga ronde, eh malah bangunnya terlalu pagi," jawab Dito sembari duduk di teembok yang biasa dijadikan tempat duduk.


"Tiga ronde? Wow mantap! Tepar dong wanita itu."


"Hhahah ... nggak juga. Dia benar benar maniak. Gila! Untung aku bisa mengimbangi cewek mondelan kayak gitu."


"Ya kita lihat saja reaksi dia nanti bagaimana, eh tapi dia juga belum bayar sewa kamar, soalnya semalam saat aku minta, dia malah memancingku."


"Ya mending kamu jangan pulang dulu deh, Dit. Kamu tuntasin dulu urusan dengan dia. Nanti aku kasih uang deh buat kamu."


"Hahaha ... baiklah."

__ADS_1


Lelaki manapun pasti akan senang jika melakukan pertolongan seperti itu. Udah dapat enak enak, di tambah dapat duit. Pasti menyenangkan bukan. Setelah berbincang cukup lama dengann Rafi, Dito mau tidak mau kembali ke kamar setelah tadi menambah daya dengan semangkuk bubur ayam bersama Rafi.


Begitu sampai di kamar yang sama, Dito masih melihat tubuh wanita itu masih terlelap tanpa busana. Untuk menyempurnakan rencananya, Dito kembali melepas pakaiannya dan membaringkan tubuhnya di dekat wanita itu. Tangan Dito mulai bergerak nakal, menyentuh dua benda penting milik wanita yang tubuhnya tidak tertutup selimut. Hingga beberapa saat kemudian, rasa kantuk kembali menyerang Dito, dan tak butuh waktu lama, pria itu kembali tertidur.


Paginya di tempat lain, Moreno sedang menikmati menu sarapannya seorang diri. Sesekali matanya menatap llayar ponsel yang terus mengeluarkan bunyi sebagai tanda ada telfon masuk ataupaun sebuah pesan. Moreno hanya menatapnya tanpa berniat untuk merespon semua yang masuk di dalam ponselnya. bagi Moreno, waktunya makan adalah untuk makan, bukan untuk melakukan pekerjaan.


Setelah selasai sarapan, Moreno bergegas bersiap diri dan keluar rumah menuju mobil yang akan membawanya ke kantornya. Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Moreno melaju meninggalkan kediamannya. Dari dalam mobil, Moreno baru merngecek semua pesan yang masuk di ponselnya.


Kening Moreno sempat berkerut saat matanya membaca pesan dari asistennya. Entah kenapa tiba tiba wajahnya terlihat sediikit panik begitu selesai membaca pesan itu. Moreno langsung menelfon sang asisten untuk meminta penjelasan. Setelah mendapat informasi lebih lengkap, Moreno memutuskan panggilan telfon tersebut.


"Ngapain dia nyuruh orang datang ke negara ini? Apa mau membuat masalah?" gumam Moreno dengan mata mengedar ke arah tepi jalan.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2