
Pagi kini telah datang lagi. Di sana, di dalam salah satu kamar sebuah tempat kost, seorang pria baru saja membuka matanya di saat waktu menunjukkan pukul enam pagi. Ketika mata pria itu terbuka sempurna, pria itu sedikit terkejut saat matanya menatap rambut milik wanita yang sedang terbaring di dadanya.
Namun rasa terkejut itu hanya terjadi sesaat saja, karena tak lama setelahnya, pria itu tersemnyum sambil mengusap lembut rambut tersebut. Seketika pikiran pria itu teringat tentang apa yang dilakukan oleh si pemilik rambut tersebut, semalam menjelang tidur.
Masih teringat jelas dalam ingatan Rafi, saat wanita bernama Marisa diam diam memainkan miliknya dengan mulut. Rafi tidak menyangka, wanita secantik Marisa bisa melakukan hal yang terbilang jorok dan menjijikan bagi sebagian wanita lainnya.
Jika kebanyakan wanita mungkin sangat tidak menyukai bau asam ketiak seorang pria, atau memainnkan batang pria sampai nyembur di mulut, Berbeda dengan wanita itu. Marisa, seorang gadis kaya raya, dengan segala kecantikan dan keanggunannya, justru terlihat sangat menggemari itu semua.
Rafi tersenyum sendiri ketika ingatanya kembali melayang pada saat batang miliknya menyembur di dalam mulut Marisa. Meski wanita itu terkejut sampai meludahkan cairan yang keluar dari dalam batang itu, Rafi sempat mendengar ucapan Marisa kalau benih Rafi rasanya gurih. Rafi benar benar dibuat takjub saat itu.
Puas mengenang peristiwa semalam, Rafi perlahan mengyingkirkan kepala Marisa dari dadanya, karena Rafi harus menuntaskan urusan lainnya di dalam kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian kala urusannya dengan kamar mandi selesai, Rafi langsung keluar kamar untuk memeriksa pekerja barunya yang ada di post jaga.
"Kamu sudah bangun, Dan?" Wildan yang saat itu tengah melamun sambil memperhatikan barisan motor yang terparkir sempat terkejut mendengar suara Rafi sampai anak muda itu langsung menoleh.
"Sudah, Bang," jawab Wildan sambil menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Adik kamu mana? Masi tidur?" tanya Rafi lagi sambil duduk di tembok yang ada di sana. Wildan menjawab dengan anggukan. "Gimana? Betah nggak, berada di tempat ini?"
"Ya betah, Bang. Malah adikku seneng banget tidur di kasur yang empuk."
"Ya syukurlah kalau betah. Nanti kalau mau makan tinggal ambil aja di warung depan ya? Sekalian juga buat adik kamu. Bilang aja disuruh Rafi gitu."
"Baik, Bang. makasih. Padahal kita baru kenal loh, Bang. Tapi Abang sudah sangat baik sama kami. Uang dari abang aja kemarin masih cukup."
Rafi lantas tersenyum. "Nggak apa apa. Uang itu untuk jajan adik kamu. Dia pasti nanti sangat kesepian berada disini. Nggak ada teman mainnya. Kamu beliin dia mainan yang dia mau, agar betah."
Rafi nampak manggut manggut. "Emang kamu nggak punya nenek atau saudara dari ayah atau ibu?"
"Ada sih, bang, tapi mereka jauh ada di luar pulau dan aku tidak tahu alamatnya. Lagian kalau kami datang kesana, belum tentu keluarga mau menerima kami yang hanya akan menjadi beban buat keluarga."
Rafi kembali tersenyum. Lagi lagi dia menemukan seseorang yang nasibnya hampir mirip sama dia. Memang benar, meskipun ada hubungan darah, anggota keluarga yang lain belum tentu mau menerima saudaranya yang sedang dalam keadaan susah dan hanya akan menjadi beban saja. Keputusan Wildan memang tepat, meski berat, dia lebih memilih hidup berdua dengan adiknya daripada nanti makan hati jika ikut menumpang pada keluarga dari ayah maupun ibunya.
__ADS_1
Dua pemuda itu kembali melanjutkan obrolannya hingga para penghuni kost mulai bermunculan. banyak yang bertanya tentang siapa anak muda yang bersama Rafi. Dia menjawab kalau Wildan adalah penjaga baru di kost tersebut, berdua dengan dirinya.
"Oh iya, Mas, tolong bilang sama yang lain, mulai bulan depan, biaya sewa perbulannya di potong seratus ribu ya," ucap Rafi pada dua orang penghuni kost yang kamarnya berselahan. Saat itu kebetulan dua orang itu hendak ke dapur untuk membuat kopi dan lewat di depan Rafi lalu, mereka ikut ngobrol sejenak.
"Di potong seratus ribu? maksudnya, Mas?"
"Ya biasanya kan satu bulannya sembilan ratus ribu, mulai bulan depan menjadi delapan ratus. Mulai bulAn depan loh ya. Kalau bulan ini masih sama."
"Benaran, Mas?" wajah dua orang itu bertanya dengan tatapan tak percaya dan Rafi dengan mantap mengiyakan. "Wuih, beres, Mas. bilangin makasih kepada bos kamu, Mas."
"Oke!"
Kedua orang itu terlihat sangat senang, begitu juga dengan Rafi dan Wildan. Di saat bersamaan, Rafi melihat motor masuk ke area kost dan rafi cukup terkejut melihat siapa yang datang sepagi ini.
"Bukankah dia ..."
__ADS_1
...@@@@@...