
Kluntang
Sebuah nada pesan menggema memenuhi ruang kamar yang di isi oleh dua anak manusia, yang sedang saling berpelukan tanpa kain menutupi tubuh mereka. Dua anak manusia yang barru saja bertemu pada siang hari, saat ini malah terlihat bagai dua orang yang sudah saling kenal dalam kurun waktu yang cukup lama.
Hujan deras masih mengguyur kota besar. Dua anak manusia yang belum kenal satu salam lain itu justru baru saja menuntaskan gejolak liar dari titik utama sebuah hubungan antara wanita dan pria. Hubungan yang seharusnya ditandai dengan pernikahan, tapi keduanya malah melakukan hubungan tersebut karena sebuah kebutuhan satu sama lainnya.
Mendengar ponsel jadulnya berbunyi, Rafi yang sedang menikmati hangatnya memeluk tubuh wanita, langsung bangkit dan sedikit merangkak meraih ponsel jadulnya di dalam tas. Sebuah pesan yang sama yang mampu membuat senyum Rafi terkembang sempurna. Rafi langsung mengikuti setiap perintah yang tertera disana. Kini saldo Rafi kembali bertambah lebih banyak.
Begitu semua interupsi selesai, Rafi menaruh kembali ponsel jadul dan buku rekeningnya ke dalam tas, lalu merangkak kembali di atas dada si wanita dengan senyum yang masih terkembang. Selain karena uang seratus miliar yang baru saja masuk ke dalam rekeningnya, yang membuat senyum Rafi terkembang adalah bukit kermbar milik wanita yang bersamanya, ukurannya lebih besar dari tiga wanita yang pernah tidur dengannya.
Si wanita mengusap kepala Rafi dengan lembut. "Kamu kok tiduran disitu? Sesak tahu, Mas."
Rafi tertawa lirih. "Bukit kembar kamu bikin nyaman, Sayang. betah tiduran disini."
Wanita itu malah tersenyum dan dia pasarah saja. Biar bagaimanapun sebagai wanita dalam hatinya juga ada rasa senang diperlakukan oleh Rafi seperti itu. Kini wanita itu bahkan merasa kalau tangan Rafi sedang memainkan rumput rimbun dibawah perutnya.
"Apa kamu sangat menyukai tubuhku, Mas?"
"Tentu," Rafi lantang. "Semua laki laki pasti sangat menyukainya. Bukit kembar kamu gede, terus lubangnya tembem. Aku aja gemas lihatnya, pengin gigit gitu."
__ADS_1
"hehehe .. bisa aja kamu, Mas."
Rafi ikut terkekeh lalu dia mengangkat kepalanya dan berpindah tempat menjadi di sebelah wanita itu. "Kamu punya rekening Bank tidak?" wanita itu menggeleng. "Lah terus nanti gimana cara aku ngasih uangnya? Eh tapi kamu ada KTP,nkan?"
"Kalai Ktp sih ada, Mas, kenapa?"
"Besok kamu ke bank ya, bikin rekening, pakai uang aku."
Wanita itu tidak langsung menjawab tapi dia memiringkan tubuhnya menghadap Rafi. Diusapnya pipi pria itu lekat lekat. "Kenapa ada pria sebaik kamu, Mas?"
Rafi lantas tersenyum. "Selagi aku ada rejeki, aku akan membantu semampuku. Apa lagi kamu sudah menyerahkan segalanya untukku, wajar, kan, kalau aku juga menolongmu semaksimal mungkin."
"Hhhehe benar. Bukit kembar kamu deketin ke mulutku lah, Yang. Aku pengin ngenyot."
"Astaga kayak bayi aja," Rafi hanya nyengir. wanita itupun tak mau menolak. sekarang Rafi benar benar mirip bayi yang sedang kehausan. wanita itu hanya bisa diam dengan segela tingkah pria itu.
"Nama kamu siapa sih, Mas? Kok tadi wanita itu memanggil kamu Rafi gitu," tanya si wanita dengan salah satu tangannya mengusap lembut pipi Rafi.
Rafi melepas sejenak pucuk bukit kembar milik si wanita yang sedang dikenyot. "Ya namaku Rafi, kalau nama kamu?" Rafi kembali menempelkan mulutnya begitu selesai bertanya.
__ADS_1
"Nama aku Nadia."
"Nama yang cantik, tapi khusus untuk malam ini, aku panggil kamu sayang saja lah ya?"
"Hahaha ... terserah kamu aja, Mas."
Rafi tersenyum dan untuk sementara keheningan melanda kamar itu. Hanya ada gemericik air hujan yang terdengar, mengiringi tingkah Rafi yang sedang asyik menyesap satu persatu pucuk bukit kembar. Sedangkan Nadia juga terdiam sambil mengusap pipi Rafi serta menikmati perlakuan tangan Rafi di sekujur tubuhnya. Karena Rafi tidak hanya menyesap bukit kembarnya saja, tangan Rafi juga memijat mijat dan memainkan lubang tembem milik wanita itu.
"Mas?" panggil Nadia setelah mereka terdiam cukup lama.
"Apa, Sayang?" sahut Rafi tanpa menoleh.
"Aku pengin lagi."
Rafi sontak menghentikan aksinya dan mendongak. "Mau dimasukin lagi?" Nadia mengangguk. "Ya udah kamu nikmati punyaku dulu ya pakai mulut, biar cepat bangun."
Dengan sangat antusias, Nadia mengangguk. Rafi bangkit dan duduk bersandar dengan kaki lurus ke depan. Sedangkan Nadia bergeser dan ambil posisi tengkurap diantara kaki Rafi lalu mulai memainkan milik Rafi sebagai tanda kalau ronde kedua akan segera di mulai.
...@@@@@...
__ADS_1