SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Permintaan Sergio


__ADS_3

"Marisa," Moreno sengaja bersuara untuk menghentikan ucapan wanita yang emosinya sedang meledak.


"Maaf, Om, jika sikap aku membuat Om Moreno tidak nyaman. Tapi saya heran aja dengan Om Sergio. Entah apa yang ada dipikirannya. Keberadaan anak kandungnya saja dia tidak tahu, apa lagi aku, Om. Aku sudah lama kehilangan kontak dengan Tante Leticia dan anak anaknya," kali ini suara Marisa sudah tidak selantang tadi saat meluapkan isi hatinya kepada Sergio. Meskipun saat ini masih terlihat, ada amarah di wajahnya.


Untuk beberapa saat, suasana di ruang tamu cukup hening, sampai seseorang diantara mereka mengeluarkan suara yang membuat semuanya terkejut. "Saya tahu dimana mantan istri dan anak anak Sergio berada." Semua mata langsung tertuju pada orang itu.


"Apa, Fi? Kamu tahu dimana mereka? Kamu kenal dengan istri dan anak anaknya Om Sergio?" anggukan kepala Rafi kembali membuat Marisa dan yang lainnya terkejut, terutama Sergio. "Kamu kenal dimana?"


"Nanti aku ceritakan, yang jelas saat ini mereka telah bahagia karena bisa hidup dan lepas dari Sergio," ucap Rafi, lalu dia menatap Sergio dengan sikap yang lebih tenang meski Rafi sendiri juga memiliki amarah yang besar kepada pria itu. "Amanda dan adik adiknya saat ini sudah hidup bahagia. Jujur, mantan istri anda sebenarnya juga minta tolong kepada saya untuk meminta hak atas harta anda untuk anak anaknya. Jadi karena anda datang sendiri dan menyerahkan semua aset anda, maka, saya tidak perlu repot repot memaksa anda bukan?"


Sergio terlihat mengangguk. Wajahnya nampak cukup senang setelah mendengar kabar tentang keadaan mantan istri dan anak anaknya. Meski dia juga sangat penasaran darimana Rafi bisa mengenal Amanda dan istrinya, tapi Sergio saat ini tidak bisa melakukan apa apa. Setidaknya, apa yang menjadi keinginan terakhirnya bisa dia wujudkan yaitu menyerahkan harta miliknya untuk orang yang lebih berhak.

__ADS_1


"Memang kapan Tante Leticia ngomong seperti itu? Kamu ketemuan dimana? Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" cecar Marisa karena sangat penasaran kepada pemuda yang duduk di sebelahnya.


"Astaga! Nanti aku ceritakan, Marisa, oke," balas Rafi merasa gemas dengan wanita yang merengeknya sambil mengguncang lengannya tadi.


"Kenapa nanti? Kenapa nggak cerita dari kemarin kemarin? Pasti kamu awalnya nggak niat cerita sama aku, kan?"


"Ya ampun, Sha. Bukan begitu. Maksud aku ..."


Karena masih ada yang harus dia sampaikan dengan Sergio, Rafi memilih tetap duduk di sana. Urusan Marisa biar diselesaikan nanti jika urusan dengan Sergio telah selesai. Rafi pun kembali menatap pria yang sedari tadi menatapnya dengan penuh tanya dan juga penyesalan.


"Tidak perlu menatap saya seperti itu. Bukankah selama ini anda sangat benci terhadap saya? Tatap saya saja dengan segala kebencian seperti biasanya. Karena saya tidak mungkin akan mengasihani anda meski tatapan anda sangat memelas," ucap Rafi denga emosi yang dia tahan sekuat tenaga.

__ADS_1


Moreno mengulas senyum begitu melihat Rafi yang bisa menguasai dirinya sendiri. Pria itu sangat tahu bagaimana suasana hati Rafi saat ini. Tidak mudah menahan emosi pada orang yang sudah berbuat jahat, tapi Rafi bisa melakukannya. Moreno lantas menatap pria yang lebih banyak diam dengan segala rasa penyesalan. "Lalu apa yang akan anda lakukan setelah ini, Tuan Sergio?"


Pria yang namanya disebut oleh Moreno, melayangkan tatapannya ke arah orang yang bertanya, lalu dia memandang pria lain yang sedari tadi membantunya. Pria yang sebenarnya adalah anak buah Moreno itu mengangguk sebagai tanda mengerti dengan tatapan yang ditunjukan kepadanya.


"Mungkin setelah ini, jika Tuan muda Rafi ijinkan, Tuan Sergio akan menyerahkan dirinya ke polisi. Dia memilih dihukum sesuai peraturan yang berlaku di negara ini. Dia akan mengakui segala perbuatannya. Kalaupun dia kembali ke rumah, dia sudah tidak sudi untuk menemui keluarga istrinya."


Kening Rafi berkerut. Tatapannya tertuju pada dua orang dihadapanyya. Sepertinya Rafi juga sedang memikirkan ucapan anak buahnya itu, hingga tak lama setelahnya, Rafi terlihat menghirup nafas dalam dalam lalu menghembuskannya secara pelan. "Baiklah, jika itu sudah menjadi kemauan Sergio, aku bisa apa. Aku tidak bisa berbuat banyak. Untuk memaafkannya pun aku sulit. Mungkin, penjara memang lebih pantas untuk anda."


Sergio lantas mengangguk dan tersenyum sebagai ucapan terima kasih.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2