
Rafi tidak mengerti dengan jalan pikiran anak orang kaya yang saat ini duduk di hadapannya. Padahal mereka juga wanita yang cukup cantik dan juga berasal dari keluarga yang sangat terhormat. Tapi entah kenapa, mereka bisa dengan mudsh dan seenaknya menjual sesuatu yang seharusnya sangat dijaga dari seorang wanita.
Jika Lingze menjual mahkotanya karena kecewa pada sang kekasih, berbeda dengan Amanda. Dia tidak menjelaskan secara pasti alasan dirinya menjual mahkotanya. Dia hanya berkata konsumen tidak perlu tahu alasan dirinya menjual mahkotanya. Bukankah yang penting pada akhirnya sama sama saling diuntungkan?
Biar bagaimanapun, ucapan Amanda ada benarnya juga. Pada akhirnya kedua belah pihak melakukan berhubungan badan hanya demi sebuah keuntungan masing masing. Rafi bisa menikmati mahkota wanita tanpa beban tanggung jawab berkepanjangan, sedangkan Amanda juga merasa untung karena mendapat semjumlah uang dengan cara cepat.
Setelah terjadi perbincangan yang cukup lama, akhirnya terjadi kesepakatan antara Amanda dan Rafi kalau mereka akan melanjutkan rencana mereka melalui pesan. Dua wanita itu akhirnya memilih pamit setelah adanya kesepakatan lanjutan.
"Mereka mau sewa kamar apa, Bang?" tanya Wildan yang sedari tadi menyaksikan interaksi Rafi dan dua wanita yang baru meninggalkan area kost.
"Enggak, mereka cuma mampi, mumpung lewat di daerah sini," balas Rafi dusta.
"Oh, kiarain mau sewa kost. Teman Bang Rafi cantik cantik ya?" puji Wildan dan ucapnnya mampu membuat Rafi cengengesan. "Bang Rafi beruntung, bisa memilik temen wanita yang banyak dan bisa dijadikan teman tidur."
"Hehehe ... nggak lah, Dan. Temen tidur satu aja nggak habis habis, ngapain banyak banyak," kilah Rafi. "Ya udah aku kembali ke kamar dulu, Dan. Jangan lupa nanti itu kasur yang ada didepan kamarku, kamu bawa ya? taruh di dalam kamar kamu."
"Baik, Bang."
__ADS_1
Rafi melangkah meninggalkan Wildan menuju kamarnya. Karena pekerjaan sudah di ambil alih oleh penjaga kost baru, membuat pemuda itu tidak ada kegiatan untuk dilakukan pada pagi ini. Rafi memilih kembali ke kamar untuk merebahkan badannya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Rafi begitu sampai kamar, matanya menangkap sosok wanita yang sedang terbaring sembari memainkan ponselnya.
Wanita itu menoleh sejenak lalu kembali menatap layar ponsel. "Fi, nyari kegiatan apa ya? biar nggak bosen tiap harinya?"
Rafi merebahkan tubuhnya di samping Marisa dengan posisi menghadap langit langit. "Nggak tahu, aku belum kepikiran soal itu."
Marisa meletakkan ponselnya di sembarang tempat lalu merebahkan kepalanya di dada Rafi serta memeluknya. "Bisa bosen tiap hari kalau begini. Di kamar mulu nggak ada kegiatan."
Kening Marisa langsung berkerut saat mendengar Rafi menyebut nama Omnya. Wanita itu bahkan langsung mendongak menatap Rafi. "kenapa kamu tanya gitu?"
"Katanya kita akan menghancurkan Om kamu, ya kita harus tahu kelemahan apa yang bisa kita gunakan untuk melumpuhkan Om kamu, bukan?"
Marisa mengangguk pelan dan dia kembali merebakan kepalanya di dada Rafi. "Kalau menurutku sih ada dua, anaknya dan perusahaannya. Tapi kalau perusahaanya, itu kayaka akan sulit deh Fi. Paling nggak kita harus bisa menguasainya."
"Emang usaha dia bergerak di bidang apa sih?"
__ADS_1
"Makanan ringan dan sejenisnya gitu. Kalau ingin menghancurkan perusahannya, setidaknya kita harus tahu rahasia atau masalah apa yang terjadi disana yang bisa kita manfaatin."
Rafi lantas terdiam. Jujur sebagai orang awam, Rafi mana tahu tentang seluk beluk dunia perusahaan. Paling tidak Rafi harus menemukan seseorang yang bisa di ajak kerja sama untuk hal itu. Rafi juga memikirkan bagaimana caranya dia bisa bertemu dengan Amanda tanpa diketahui oleh Marisa. Apa jadinya jika Marisa tahu Amanda menjual tubuhnya sendiri kepada Rafi, yang ada nanti Marisa malah berpikiran buruk kepadanya.
"Aku boleh minta pendapat kamu nggak, Non?" tanya Rafi.
"Minta pendapat bagaimana?" tanya Marisa tanpa memandang lawan bicaranya. dirinya terlalu nyaman berada dalam dada Rafi yang memang sangat bidang.
"Jika ada wanita yang akan menjual mahkotanya kepadaku, menurut kamu, aku lebih baik menerimanya atau tidak?"
Kening Marisa kembali berkerut dan dia kembali mendongak menatap Rafi. "Apa kamu mendapatkan penawaran seperti itu?"
Rafi mengangguk. "Wanita kenalan lewat aplikasi kencan tadi datang menemuiku membawa teman. Katanya temannya itu lagi butuh duit yang sangat banyak dan dia mau menjual mahkotanya sama aku. Menurut kamu bagaimana? apa aku harus menerimanya?"
"Ya terserah kamu. Kalau kamu mau ya silakan, Fi. kalau ada wanita yang berani memberi penawaran kepada kamu, apa kamu sering melakukan hubungan badan dengan cewek berbeda beda, Fi?"
...@@@@@@...
__ADS_1