
"Mas, pernah lihat wanita ini nggak di sini?"
Kening Rafi langsung berkerut saat salah satu tamunya meunjukkan sebuah foto. "Nggak loh, Mas. Nggak ada wanita seperti itu disini."
Dua pria itu nampak saling tatap. Sepertinya mereka tidak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut penjaga kost tersebut. "Yakin, Mas, tidak melihat wanita ini? Soalnya saya sudah tanya orang depan sana, katanya tadi melihat wanita masuk ke sini."
Rafi sontak mendengus kasar. "Yang jaga di tempat ini tuh siapa? Orang yang tadi Mas tanyain atau saya? Apa saya juga harus menunjukkan cctv untuk membuktikan ucapan saya?"
Mendengar ucapan Rafi yang menjadi kesal, dua orang itu langsung salah tingkah. Pria itu pun langsung tersenyum lebar dan segera pamit karena merasa tak enak sendiri. Di saat dua orang itu pergi, Rafi melihat wanita yang tadi pamit ke kamar, turun dari lantai atas dengan menarik sebuah koper. Rafi langsung saja bergegas menghampiri wanita itu.
"Nona Marisa mau kemana?"
"Mau pergi dari sini," jawab Marisa tanpa menoleh ke arah Rafi. Dengan perasaan yang sangat kesal, wanita itu terus melangkah.
"Mau pergi kemana? Nanti kalau Pak Budiman nyariin Nona, aku harus jawab apa? Nona jangan nekat deh," Rafi mengekor berusaha mencegah wanita itu.
"Bilang aja kalau aku pergi dari sini, gampang, kan? Lagian kan kamu nggak suka aku ada di sekitarmu? Jadi nggak usah sok peduli."
"Astaga!" Rafi nampak frustasi. Jika bukan karena Pak Budiman, Rafi tak sudi mencegah wanita yang suka seenaknya sendiri. Rafi tak kehilangan akal, dia merebut koper wanita itu dan membawanya menuju post.
"Kamu apa apaan sih, Fi! Siniin kopernya!" bentak Marisa. Tapi Rafi tidak peduli. Dia membawa koper Marisa ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintu kamar itu dari luar. "Rafi! Kamu apa apaan sih?" Buka pintunya!"
"Bodo amat! Tinggal nurut apa susahnya sih? Kamu itu sadar nggak sih kalau kamu sedang dalam bahaya?" Rafi berkata dengan suara yang cukup tinggi.
__ADS_1
"Tahu! Tentu saja aku tahu. Tapi kalau keberadaanku disini tidak diinginkan, ngapain aku berada disini?" balas Marisa tidak mau kalah.
"Yang tidak menginginkan kamu ada disini siapa?"
"Kamu! Bukankah kamu tadi ngusir aku!"
"Astaga! Siapa yang ngusir?" Rafi sungguh dibuat takjub. Bisa bisanya ucapannya malah disalah artikan oleh wanita yang saat ini sedang menatapnya tajam. Oke, aku minta maaf, anggap saja tadi aku hilaf."
"Hilih, hilaf. Orang jelas jelas kamu tadi ngusir aku."
"Ya ampun! Aku nggak ada niat buat ngusir Nona, Oke! Sebagai permintaan maaf, saya akan mengabulkan keinginan Nona satu kali."
"Kok satu kali?"
"Pelit amat," cibir Marisa lalu dia mencebikan bibirnya kemudian wanita itu terlihat sedang memikirkan permintaan yang ditawarkan pemuda yang sedang menatapnya dengan kesal. "Aku tahu harus meminta apa, tapi benar kan? Kamu mau mengabulkannya?"
"Iyalah. Aku cowok, aku pantang mengingkari ucapanku."
Bibir Marisa kembali mencebik, lalu dia tersenyum penuh maksud. "Oke! Mulai malam ini kamu harus menemani aku tidur."
Mata Rafi sontak membelalak. "Yang benar saja?"
"Tu kan, katanya pantang untuk mengingkari!"
__ADS_1
Rafi seketika tergagap. "Ya, bukan begitu maksud aku. Masa kita tidur bareng? Apa kata orang nanti? Kita belum nikah, Nona!"
Wanita itu terlihat kesal. "Ya udahlah," Marisa langsung mengambil langkah keluar dari post jaga dengan cepat. Rafi makin dibuat gelagapan dibuatnya. Dia langsung mengejar Marisa.
"Iya, iya, oke! Kita tidur bareng! Oke! Aku setuju!"
Langkah Marisa langsung terhenti. Wanita itu memutar badan dan menatap Rafi penuh selidik. "Paling bohong."
"Nggak! Aku serius." mendengar ucapan Rafi yang sangat meyakinkan, Wanita itu dengan angkuhnya melangkah meninggalkan Rafi menuju ke post jaga. "Hih! Dasar betina!" umpat Rafi gemas, lalu dia mengikuti langkah Marisa.
Sesampainya di post jaga, Rafi membuka pintu kamar dan dengan anggun dan senyum kemenangan, Marisa masuk ke dalam kamar, terus merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rafi yang kesal melihat tingkah Marisa, memilih keluar dari kamar dan duduk di post jaga.
Gubrak!
Tiba tiba kedua orang itu dikejutkan dengan suara yang begitu keras. Suara itu berasal dari arah bangunan yang terdiri dari ruang tamu, tempat olah raga, dapur, kamar mandi dan gudang.
"Suara apa itu?" tanya Marisa yang langsung keluar kamar.
"Nggak tahu," jawab Rafi. Keduanya lantas beranjak menuju sumber suara. "Kok gudangnya terbuka?"
"Fi, takut!" Marisa langsung bergelayut di lengan Rafi. Keduanya perlahan melangkah menuju gudang.
...@@@@@@...
__ADS_1