
Setelah melalui kesibukan dalam mmepalajari segala hal tentang perusahaan yang akan di pimpinnya, Rafi kini sudah berada di ruangan sang pemilik perusahaan. Selain untuk istirahat, Rafi disana juga sekalian menikmati makan siang bersama pria yantg telah menganggapnya sebagai anak.
Disela sela menikmati makanannya, dua pria berbeda usia itu juga terlibat perbincangan seru tentang semua yang dilakukan Rafi dari pagi sampai siang hari ini. sesekali Moreno menunjukkan rass kagum dengan ketekunan Rafi dalam mempelajari semua materi yang ada di bagian perusahaan. Sesekali Moreno juga memberikan masukan yang bisa menjadi pedoman dan juga pegangan yang bisa digunakan oleh pemuda itu.
"Dad, apakah hari sabtu dan minggu aku libur ke kantor?" tanya Rafi ketika makanan yang dia nikmati telah habis.
"Tentu, setiap sabtu minggu kita libur, kenapa?" tanya Moreno yang masih menikmati hidangannya sedikit lagi.
"Apa aku boleh meminjam mobil Daddy dan salah satu supirnya?"
Kening Moreno sontak berkerut, tapi tak lama setelahnya senyumnya terkembang. "Kenapa harus minta ijin? Semua fasilitas yang ada di rumah itu bebas kamu nikmati termasuk mobil."
"Tapi aku menggunakan mobil itu untuk menolong teman, Dad. bagaimana?"
Alis moreno terangkat satu dan Rafi tahu kalau pria di hadapannya meminta penjelasan. Rafi lantas menceritakan tujuan dirinya meminjam mobil. itu semua karena dia ingin menyelesaikan masalah yang menimpa Kalina. Apa lagi kata Wildan, Kalina sudah lebih baik, jadi mereka siap menjalankan aksinya.
__ADS_1
Moreno lantas tersenyum. "Ternyata kamu sama persis kayak ayahmu ya, Nak. Kalau nolong orang nggak tanggung tanggung. Baiklah, Daddy ijinkan."
Senyum Rafi langsung terkembang dan terlihat begitu sangat lega. "Makasih, Dad."
Moreno lantas mengangguk. Dia juga menceritakan kalau dia dan Rafi mendapat undangan pesta peresmian sebuah perusahaan malam ini. Awalnya Rafi rada terkejut dan sedikit keberatan karena dia tidak terbiasa menghadiri pesta kalangan sultan. Tapi karena tidak enak hati dengan Moreno, akhirnya Rafi setuju menghadiri acara pesta itu. apa lagi Marisa juga katanya diajak, jadi setidaknya Rafi ada temannya nanti disana.
Begitu selesai makan siang, Rafi memutuskan pulang sesuai yang diperintahkan Moreno. Sembari istirahat, saat siang hari juga waktunya untuk Rafi belajar dengan Marisa. Rafi pun pulang dengan diantar sang supir yang biasa mengantar jemput dirinya.
"Tumben siang siang macet, apa yang terjadi?" gumam sang supir saat sedang dalam perjalanan tiba tiba terjebak kemacetan.
"Nggak tahu, Tuan muda. Mungkin ada kecelakaan di depan. Biasanya sih gitu kalau ada kemacetan."
Raafi hanya menganggukkan kepala beberpa kali lalu kembali fokus membalas pesan Lingze yang baru saja sempat dia baca. Lingze memberti tahu kalau Rafi diminta hati hati jika brhadapan dengan Rania. Rafi cukup terkejut, ternyata Lingze kenal Tania juga. Rafi pun penasaran, ada hubungan apa antara Tania dan Amanda? dan jawaban Lingze cukup membuat Rafi terkejut. Ternyata Tania adalah keponakan dari istri mudanya Sergio. Lebih tepatnya Tania adalah anak dari kakaknya Lupita. Dengan fakta seperti itu Rafi jadi tadi kalau Tania adalah sepupunya.
Selesai berkirim pesan dengan Lingze, Rafi mengedarkan pandangannya ke sisi jalanan. Tanpa sengaja matanya menatap seseorang yang sedang dianiaya seorang satpam dan tiga pria berseragam. Rafi ingin bersikap acuh, tapi jiwa penolongnya seakan memberontak dan memaksa Rafi untuk menolong orang itu. Rfi pun meminta sang supir untuk menepi ke tempat yang ditunjuk Rafi.
__ADS_1
"Tuan muda mau ngapain?' tanya sang supir bingung.
"Sudah, lakukan saja," titah Rafi dan sang supir pun memang harus menurutinya.
Sementara itu ditempat yang tadi Rafi lihat, nampak seseorang sedang merintih kesakitan dan berusaha menahan serangan demi serangan yang dilayangkan oleh seorang satpam dan juga tiga pria berseragam.
"Ampun! saya tidak mencuri. sumpah! Tolong, lepaskan saya, ampun," rintih orang itu.
"Ah, bohong kamu! Mana ada maling mau ngaku!" bentak sang satpam dengan segala amarahnya dan dia langsung memberi tendangan pada orang itu.
"Habisi saja, Pak! Biar kapok orang orang seperti itu!" teiak seseorang yang mamakai seragam dengan logo nama supermarket yang ada di tempat itu.
"Tolong, ampun! Aku tidak mencuri, ampun," tapi rintihan orang itu tidak satupun ada yang peduli, dan dia tetap menerima pukulan dan tendangan bertubi tubi. Orang yang menyaksikan peristriwa itu, hanya menjadi penonton tanpa ada yang niat memberikan pertolongan. Bahkan tak sedikit pula orang orang yang merekam kejadian tersebut.
Namun tak lama kemudian aksi satpam dan tiga pria berseragam itu langsung terhenti saat Rafi berteriak dengan lantang. "Hentikan!"
__ADS_1
...@@@@@...