
"Astaga! kenapa aku bisa teledor kayak gini?" gerutu seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya. Wanita itu tak menyangka kalau dirinya bisa ketangkap basah tidak memakai segitiga bermuda di bawah perutnya. Wanita itu ingat sekali karena merasa underwearnya kotor, dia melepasnya saat buang air. dengan niat akan memakainya kembali nanti setelah buang air, tapi malah dia ketiduran.
Wajar kalau wanita itu ketiduran, hampir semalaman wanita itu belum tidur, mencari tempat aman untuk bersembunyi. Bukan hanya sembunyi dari orang mengejarnya, tapi juga melindungi diri dari orang yang mungkin bisa melakukan kejahatan jika ada kesempatan. Maka itu begitu menemukan tempat yang nyaman dan aman, wanita itu terlelap begitu saja karena terlalu lelah dalam pelarian.
Wanita yang lengannya terluka memandang kantung plastik tergeletak diatas lantai keramik. Wanita itu melongkok dan membuka sedikit kantung terrsebut. Di dalamnya ternyata ada nasi bungkus dan juga sebotol air mineral. Wanita itu terharu, bahkan di saat dia tidak memiliki apa apa, masih ada orang yang mau menolongnya.
"Sepertinya pria itu adalah pria yang baik," gumam wanita itu lalu dia bersiap menikmati makanan tersebut. Bahkan dia sempat meneteskan airmata karena rasa haru yang menyeruak serta menyesali kebodohannya yang percaya pada seorang pria yang telah sangat menipunya.
Rafi sendiri kembali ke post jaga dengan senyum yang lebar. Pikirannya masih membayangkan keindahan yang baru saja dia saksikan. Tiga kali berhubungan dengan wanita yang berbeda, tiga kali pula dia melihat lubang wanita yang berbeda beda. dan kali ini Rafi baru menyaksikan milik wanita yang benar benar ditumbuhi rumput hitam yang sangat lebat dengan bentuk seperti pipi yang gemuk, sangat tembem.
"Apakah milik wanita itu masih tingting? Bagaimana cara aku mencari tahu ya?" gumama Rafi dengann mata yang fokus menatap layar ponsel. "Tapi kalau masih tingting, aku mainnya dimana? Di sini ada Marisa," Rafi mendadak galau.
Rafi masih asyik bermain ponsel hingga beberapa menit berlalu, sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. "Sibuk, Mas?"
Rafi langsung mendongak dan dia cukup terkejut saat kepalanya menoleh dan ada sosok wanita yang dia kunjungi. "Eh, nggak. Lagi santai nih," jawab Rafi agak tergagap. "Kamu udah makan?"
Wanita itu mengangguk dan dia duduk di atas tembok. "Pacar Mas tadi mana? Kok nggak kelihatan?"
Rafi tercenung. "Pacar?" wanita itu mengangguk. "Pacar yang mana?"
__ADS_1
"Itu tadi wanita yang bersama kamu, dia pacar kamu kan?"
Rafi berpikir sejenak lalu setelah menemukan sosok yang dimaksud, mata Rafi agak berbinar. "Oh, dia? Bukan, dia bukan pacar aku."
Wanita itu malah terkekeh. " Hehehe ... pacar juga nggak apa apa, Mas. Nanti orangnya marah loh kalau tidak akui."
"hahaha ... nggak bakalan. Lagian orangnya juga lagi di kamar. Mungkin lagi tidur dia."
"Siapa yang tidur!" teriak seseorang dari dalam kamar.
"Astaga! kirain dari tadi diam karena lagi tidur," ceteluk Rafi.
Wanita itu mengangguk sembari tersenyum tipis. "Mbak nya tidur disana?" tanya wanita itu yang tadi sempat terkejut saat melihat Marisa keluar dari kamar.
"Iya, aku tidur di kamar ini, bareng dia," jawab marisa dengan cueknya menunjuk Rafi.
Kening wanita yang tadi melempar pertanyaan langsung berkerut dan memindai dua orang yang ada dihadapannya satu persatu. "Kalian suami istri?"
"Bukan!" Rafi tahu pasti wwanita itu sudah berpikir yang tidak tidak. "Dia yang maksa minta tidur bareng. Aku sih awalnya nolak."
__ADS_1
Marisa malah cengenngesan. "Kenapa? Kamu heran ya?" Lagi lagi wanita itu dengan jujur hanya mengangguk cepat. "DI luaran sana banyak kok pasangan yang belum menikah tapi sudah tinggal serumah. Malah banyak juga yang sudah melakukan berkali kali hubungan suami sendiri. Kamu sendiri gimana? Bukankah kamu kemarin sama pacar kamu juga tidur sekamar bukan?"
Wanita itu tersenyum tipis dan menggeleng lemah. "Aku itu kenal dengan pacarku lewat dunia maya."
"Loh, kok bisa?"
"Ya mungkin karena aku wanita bodoh jadi gampang aja luluh sama dia. Orangnya memang ganteng. Bahkan saat aku mau berangkat merantau, kita ketemuan dulu di kota dekat kampung aku. Sungguh dia terlihat pria yang baik. Tapi ternyata, semua itu hanya kedok."
"Sepertinyya pria itu sindikat?"
"Sepertinya sih iya. Mungkin bukan cuma aku saja korbannya."
"Memang waktu itu kamu akan dijual dengan harga berapa?"
"Saat aku mendengar pembicaraan pacarku di telfon, aku mau dijual tiga puluh juta."
"Gila, mahal banget!' seru Marisa. sedangkan Rafi lebih banyak diam dan menyimak wawancara dadakan tersebut antara Marisa dan wanita itu. "Apa jangan jangan punya kamu masih bersegel?"
...@@@@@...
__ADS_1