SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Rafi Yang Tak Terduga


__ADS_3

"Maafkan nenek, cucuku. Nenek harap kamu mau memaafkan nenek dan kakekmu yang berdosa ini," ucap wanita tua itu sembari meneteskan airmatanya. Meski sudah tua, nenek itu sangat totalittas dalam menjalankan perannya yang penuh kepalsuan. Dalam hati wanita itu sebenarnya sedang tersenyum dengan bayangan masa tua yang lebih baik lagi.


"Kakek juga minta maaf, Cucuku. Kakeklah yang sangat berdosa atas perginya Ayah kamu dari rumah kakek. Kakek sangat menyesal melakukan itu semua," kini giliran pria tua, suami dari wanita yang sedang bersandiwara. Pria tua itu juga tak kalah bagus dalam menunjukkan bakat aktingnya. Wajahnya begitu terlihat sedih dan sangat menyentuh hati siapapun yang melihat.


"Kamu mau kan, Nak, memaafkan kami? Kami akan lebih tenang jika kamu sudi memaafkan kesalahan Nenek dan Kakekmu ini, Nak," wanita tua itu kembali bersuara. "Nenek mohon kamu mau ikut tinggal bersama Nenek dan Kakek, agar kami bisa merawatmu sebagai usaha kami untuk menebus kesalahan kami kepada Mail, ayah kamu, Nak."


"Apa yang dikatakan Nenek kamu benar, Cucuku. Ikutlah dengan kami dan hidup di rumah kami. Kami dengan senang hati akan menerima kamu sebagai penebus dosa atas perbuatan kami, Nak."


Rafi masih terdiam. Meski banyak suara yang mendukung Rafi untuk mau menerima maaf dan juga menerima tawaran nenek dan kakeknya, Rafi memilih diam untuk beberapapa saat. Hingga tak lama setelahnya, Rafi tersenyum tipis penuh rasa licik lalu dia menoleh ke arah Moreno.


"Dad, sepertinya aku tidak jadi menerima jabatan sebagai presiden direktur yang Daddy berikan," ucapan Rafi sontak saja membuat semua yang mendengarnya begitu terkejut. hampir semua orang ternganga dengan pandangan mata yang menunjukan ketidak percayaaan dengan apa yang mereka dengar, termasuk Moreno dan keluarganya serta keluarga besar Cahaya gemilang, dimana nenek dan kakek itu masih berada di atas panggung.

__ADS_1


"Maksud kamu, Nak? Kamu nggak main main kan?" tanya Moreno dengan tatapan tak percaya kepada pemuda yang berdiri di depannya.


"Tentu tidak, Daddy, saya sangat serius. Saya menyerahkan kembali jabatan presiden direktur ke tangan Daddy,: Rafi sungguh mengatakan dengan wajah yang terlihat penuh keyakinan.


"Apa alasannya? Bukankah kamu tadi sudah menerimanya?" tanya Moreno lagi yang masih tidak yakin dengan keputusan Rafi meskipun wajah pemuda itu terlihat sangat yakin dengan keputusan yang dia ambil.


"Alasannya adalah nenek dan kakek saya," jawab Rafi dengan santai dan tanpa beban, Tapi cukup membuat semua yang mendengarnya langsung terperangah.


"Karena kami? Apa maksudnya, Nak?" tanya wanita tua dengan tatapan sama seperti yang lain, tidak percaya dengan apa yang dia dengar mengenai keputusan pemuda yang mereka sebut sebagai cucu.


"Demi kami? kenapa?" sekarang pria tua yang mengeluarkan pertanyaannya dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


Rafi kembali tersenyum dengan ringan. "Bukankah kalian mau menerima saya kembali sebagai cucu kalian, jadi saya mau menjadi cucu kalian dengan tidak membawa apa apa, seperti kalian saat mengusir ayah dan ibuku dengan tidak memberikan apa apa."


Deg!


Sungguh alasan yang dikatakan Rafi seakaan menampar semua anggota keluarga Cahaya gemilang. Bukan ini yang mereka inginkan. Justru karena kedudukan Rafi sebagai presiden direktur yang membuat mereka mau menerima Rafi kembali.


Berbeda dengan Moreno. Meski awalnya sangat terkejut, tapi setelah mendengar alasan yang dikatakan Rafi, pria itu kini bisa mengerti. Bahkan Moreno sampai tersenyum sendiri dengan penuh rasa kagum karena kecerdikan Rafi yang sangat diluar dugaan.


"Tapi, nak, apa kamu tidak sayang dengan jabatan itu? Itu jabatan yang sangat bagus, dan banyak orang yang menginginkannya," sang kakek berusaha membujuk Rafi agar membatalkan niatnya.


"Tidak!" tolak Rafi dengan tegas. "Demi bisa hidup dengan nenek dan kakek, aku rela kehilangan jabatan ini. Apa lagi kakek dan nenek juga punya perusahaan, bukan? Pasti jabatan pemimpin akan kakek berikan kepadaku juga. Jadi aku tidak butuh jabatan ini, gimana? Nenek dan kakek setuju bukan?"

__ADS_1


Dua orang tua itu terbungkam. Mereka seakan telah kehabisan kata kata dan tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Tindakan Rafi sungguh diluar rencana mereka. Bukan akhir seperti ini yang mereka inginkan. Di saat dua orang tua itu sedang kebingungan, tiba tiba kembali suara lantang terdengar dan tentu saja semua orang kembali dibuat terkejut, terutama Rafi.


...@@@@@@...


__ADS_2