SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Penyelidikan Sergio


__ADS_3

Rafi tertegun mendengar pertanyaan dari wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan serius. Pemuda itu tidak menyangka, wanita yang pernah menjual mahkota kepadanya, kembali membuat penawaran yang cukup mengejutkan. Mendadak Rafi menjadi dilema. Dia ingin bilang mau, tapi di sana ada Marisa, ingin menolak tapi rasanya sayang untuk dilewatkan. Jika benar hanya Rafi yang baru memasuki lubangnya, bisa dipastikan kalau lubang milik Nancy pasti masih sangat sempit walau sudah tak bermahkota lagi.


"Seandainya aku mau melakukannya, kita akan melakukannya dimana, Nan? Kamu tahu kan tadi disini ada cewek? Bukannya aku menolak loh ya," ucap Rafi dengan kata yang disusun serapi mungkin agar Nancy tidak salah paham dan mengerti akan keadaannya saat ini. "Kamu sudah pernah merasakan bukan, aku kalau bermain ranjang tidak cukup satu ronde? Paling nggak dua ronde."


Nancy pun mengangguk tanda mengerti. senyumnya terkembang meski ada rasa sedikit kecewa dengan penolakan yang Rafi lakukan. "Padahal aku sedikit kangen loh sama isi celanamu, hehehe ..."


"Hahaha ... bisa aja kamu," Rafi ikutan terkekeh. "Lain waktu kalau ada kesempatan aku mau deh. Kamu catat nomerku dan kirimi nomer rekening kamu ya? Aku akan ngirim uang buat jajan kamu."


"Loh, nggak usah. Kita kan nggak main ranjang?"


"Ya kan ngasih uang nggak harus bermain di atas ranjang, Nan. Lagian kalau suatau saat ada waktu, kita bisa melakukannya bukan?" dengan sedikit paksaan, akhirnya Nancy memberikan apa yang Rafi minta. Karena hari yang sudah menjelang sore, Nancy pun memilih pamit. Begitu Nancy menghilang dari pandangan, Rafi langsung mengirim sejumlah uang ke rekening wanita yang baru saja pergi.

__ADS_1


"Pak, kalau mau istirahat, pake aja salah satu kamar yang ada di gedung itu ya?" tunjuk Rafi kepada dua orang pengawal yang sedari tadi nampak ngobrol di dekat parkir mobil.


"Baik, Tuan muda," jawab salah satu dari pengawal itu. Setelah itu Rafi bergegas beranjak ke kamar dimana Marisa saat ini berada. Tak lupa Tafi juga menitip beberapa pesan kepada dua pengawalnya sebelum dia beranjak ke kamar.


"Kamu lagi ngapaian, Sha?" tanya Rafi begitu dia masuk kamar dan melihat Marisa sedang menatap layar ponselnya. Rafi lalu merebahkan tubuhnya di sisi kanan wanita itu dengan sebagian kakinya menyentuh lantai.


"Lagi ngobr aja sama teman teman," jawab Marisa tanpa menoleh ke arah pemuda yang melempar pertanyaan. rlRafi hanya bergumam lalu dia memilih diam dan mencoba memejamkan matanya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, tapi rasa kantuk sungguh menyerang pemuda itu. Tak butuh waktu lama, Rafi pun terlelap.


"Ya ampun, Sha! Kamu kenapa harus pamer tubuh gitu sih? bikin pengin aja tahu," ucap Rafi sembari bangkit dari rebahannya. Wajahnya nampak cemberut karena dia tahu, Marisa tidak akan mengabulkan keinginannya.


Marisa hanya tertawa lalu dia mengambil pakaian yang sudah dia pilih dan membawanya di dekat Rafi. Sontak saja pemuda itu tidak menyia nyiakan kesempatan untuk meraba dan menyentuh benda benda penting milik Marisa. Rafi bahkan menciumi benda di bawah perut Marisa yang baunya sangat wangi.

__ADS_1


Di lain tempat, anak buah Sergio baru saja mendapat laporan kalau target mereka saat ini sedang berada di tempat kost. Salah satu anak buah Sergio memang sejak beberapa hari yang lalu ada yang bertugas mengawasi tempat kost tersebut. Setelah mendapat informasi kalau Marisa selalu bersamanya, anak buah Sergio langsung berbagi tugas untuk menjalankan rencananya.


Selain bekerja sama dengan anggota TGM, Sergio sendiri juga selalu berupaya mencari jalan untuk memuluskan rencananya. Beberapa kali pria itu mendatangi kediaman sang adik untuk mencari informasi. Tapi sayang, Sergio benar benar tidak boleh masuk di kediaman Alexander. Meski dengan berbagai ancaman, para pekerja yang ada di rumah Alexander melarang keras kakak dari tuan Alexander itu masuk ke rumah besar itu.


Seperti saat ini,laki laki itu sedang merasa kesal bukan main atas penolakan yang dilakukan penjaga rumah Alexander. "Heh! kamu itu jangan macam macam! Kamu tahu aku siapa bukan!" bentak Sergio berang.


"Maaf, Tuan, kami hanya menjalankan tugas," jawab salah satu penjaga rumah tanpa ada rasa gentar.


"Baiklah, tapi kalian harus jawab pertanyaanku! Di sini ada pekerja yang bernama Mail, Bukan?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2