
"Apa! Besok ketemu ayah kamu!" pekik Rafi dengan mana sedikit melebar, menatap wanita yang saat ini pucuk bukit kembarnya sedang dia mainkan dengan jari jarinya. Wajahnya terlihat terkejut dengan kabar yang dia baru saja dengar. "Kamu yakin Tuan Alexander besok pulang?"
Wanita bernama Marisa dengan sangat antusias menganggukan kepalanya sembari tersenyum kepada pria yang sedang tidur di atas pangkuannya. "Iya, besok Daddy pulang ke negara ini. Kenapa? Kok kamu kayak keberatan?"
"Keberataan sih nggak, Sha. Tapi kenapa mendadak banget ngasih kabarnya? Kenapa kamu tadi siang nggak ngasih kabar gitu?" Rafi melayangkan protesnya. "Kalau kamu mengatakanya sejak tadi siang, aku bisa langssung cari cincin buat sekalian ngelamar kamu. Kalau malam malam begini, mau nyari cincin dimana?"
"Hahaha ..." Marisa malah terkekeh. "Ya aku juga tahu kabar Daddy akan pulang tadi sore. Lagian kamu tadi sore juga sedang ada urusan di panti. Jadi ya sekarang aku baru bisa ngasih kabar. Lagian, nyari cincin besok kan bisa, Fi?"
"Bisa sih bisa, tapi kan kamu pasti besok menjemput Tuan Alexander dan akan tinggal di rumah kamu kan? Terus mana ada waktu nyari cincin bareng bareng? Aku kan nggak tahu ukurran jari kamu, Sha. Lagian ini pertama kalinya aku akan membelikan perhiasan sama cewek. Jadi ya aku nggak tahu selera kamu yang kayak gimana."
Marisa kembali tersenyum. Tangan kanannya mengusap dengan lembut kepala pria yang sedang memainkan bukit kembarnya. "Ya sudah, besok kita cari cincin di sekitar kantor kamu aja. Nanti setelah kita cari cincin, baru deh aku pulang jemput Daddy."
"Baiklah, begitu juga boleh," ucap Rafi, setuju dengan usulan yang terlontar dari mulut Marisa. "Berarti besok kamu ke kantor?" Marisa langsung mengiyakan.
Karena waktu yang sudah semakin menuju larut, keduanya lantas berpindah tempat dari sofa menuju ranjang untuk tidur bersama seperti biasanya.
__ADS_1
Keesokan paginya, wajah wajah tegang nampak sekali sangat jelas terlihat dari satu keluarga yang sangat gila akan harta. Mereka begitu sangat terkejut saat mendengar kabar yang dialami anak perempuan yang ada di keluarga itu. Mereka tidak menyangka kalau anak mereka yang hobby menaklukan para pria kaya, mengalami nasib yang membuat mereka begitu murka.
"Bagaimana ini, Bu? Aku sudah tidak punya muka lagi, aku malu, hiks ... hiks ..." wanita bernama Lupita itu menangis tersedu dipelukan Ibunya.
"Kamu yakin ini perbuatan Moreno?" sang ayah bertanya sekaligus menegaskan. Ada kilatan amarah dalam sosok matanya yang sangat tidak terima dengan nasib yang menimpa anak perempuannya.
"Yakin sekali, Ayah. karena yang tahu kamar hotel itu cuma dia," adu Lupita.
"Kurang ajar! Kita harus membuat perhitungan dengan dia sekarang juga!" seru Ayah dengan segala rasa geramnya saat ini. "Moreno harus bisa menikahi kamu karena telah sangat melecehkan kamu!"
"Serahkan saja sama Ayah. Nanti kita ke kantornya. Aku yakin jika kita ke kantor, Moreno tidak akan bisa menolak kedatangan kita. Kalau dia berani macam macam, aku tidak akan segan segan menuntutnya. Dikiranya aku tidak berani melawannya apa gimana?" terlihat ayah begitu yakin dengan ucapannya dan hal itu cukup membuat hati istri dan anaknya terlihat lebih baik. Setidaknya, mereka masih punya harapan untuk menjadi bagian dari keluarga Anderson Fox.
Sementara itu di rumah Rafi, Moreno cukup senang mendengar kabar tentang kepulangan Alexander. Pria itu juga sangat antusias dan menyetujui rencana Rafi yang akan segera melamar Marisa. Ditambah lagi kabar kabar lainnya, membuat Moreno terlihat cukup senang. Seperti kabar dari panti asuhan dan juga kabar tentang memberi pelajaran kepada wanita yang ingin menjeratnya dengan sebuah kebohongan.
Hingga saat sarapan selesai, Moreno dan Rafi sama sama pergi ke kantor dengan mobil yang berbeda. Sejak ada Dito, Rafi memang tidak pernah berangkat kerja bareng bersama ayah angkatnya lagi.
__ADS_1
"Tuan, di bawah ada orang yang memaksa, ingin bertemu dengan anda, Tuan," lapor aisten Moreno, beberapa puluh menit kemudian saat Moreno sudah berada di kursi kerjanya dengan segala berkas yang menumpuk di atas meja.
"Siapa?" tanya Moreno sembari menoleh sekilas ke arah sang asisten.
"Mereka keluarga Cahaya Gemilang, Tuan," ucap sang asisten membuat gerakan Moreno terhenti sejenak karena cukup terkejut dengan tamunya.
"Mau ngapain mereka kesini?" tanya Moreno kali ini menatap sang asisten lebih lama.
"Tidak tahu, Tuan. Katanya ada yang ingin mereka bicarakan."
Moreno menghembuskan nafasnya secara kasar. Pria itu sudah pasti tahu, tujuan mereka datang menemuinya. "Baiklah, suruh saja mereka ke ruangan saya."
"Baik, Tuan."
...@@@@@@...
__ADS_1