
Suasana tegang saat ini sedang terjadi di ruang tamu di dalam sebuah rumah mewah, milik pemimpin perusahaan yang sangat terkenal dan memiliki banyak cabang di berbagai negara. Dua tuan rumah yang usianya masih cukup muda, merasa sangat heran dengan tamunya yang datang di pagi ini. Rasa benci dan marah juga terlihat jelas dari wajah mereka. Tapi, mereka juga penasaran, apa yang akan dilakukan tamunya, hingga dia memiliki keberanian untuk menemui orang orang di rumah mewah itu.
"Minta tolong? Minta tolong apa dia? Minta tolong untuk dimaafkan atas segala kesalahannya?" Marisa melempar pertanyaan dengan sinis.
"Tidak, Nona," anak buah itu mengambil sesuatu yang di bawa Sergio. "Tuan Sergio ingin minta tolong pada Nona Marisa."
Moreno, Marisa dan Rafi, serentak mengerutkan keningnya dengan apa yang mereka lihat di atas meja saat ini. "Apa itu?" tanya Marisa.
"Ini adalah surat surat kepemilikan aset aset berharga milik Tuan Sergio, Nona."
"Apa!" Marisa memekik dengan cukup kencang. "Kenapa dibawa kesini?"
__ADS_1
"Karena Tuan Sergio ingin anda menyerahkannya surat surat ini kepada Nyonya Leticia, Nona. Tuan Sergio ingin menyerahkan semua harta yang dia miliki untuk anak anaknya."
"Apa! Bagaimana bisa?"
"Sudah, kita dengarkan dulu penjelasanya," ucap Moreno masih dengan tenangnya. "Om kamu pasti memiliki alasan sendiri, kenapa dia melakukan ini." Marisa pun terdiam dengan segala rasa penasarannya.
"Terima kasih, Tuan besar. Jadi begini, "pria itu menceritakan semua yang dia tahu saat Sergio mengungkapkan isi hatinya melalui tulisan. Kekecewaanya pada keluarga istri keduanya dan juga rasa sesal dengan segala kejahatan yang dia lakukan, membuat Sergio harus cepat bertindak. Dia juga menceritakan alasan Sergio menyerahkan surat surat berharga miliknya kepada mantan istrinya.
"Jadi Om menyesal?" ujar Marisa terlihat begitu sinis. "Waktu Om sehat, Om kemana aja? bahkan dengan tidak punya hati, Om menyerang Daddy, adik Om Sendiri dan Ayah Rafi pun Om lenyapkan. Lalu apa manfaatnya OM menyesal dan minta maaf sama kami, hah! Aku beruntung, Daddy masih selamat, tapi OM lihat Rafi. Dia telah kehilangan satu satunya keluarga yang ada. Bahkan dengan kejamnya, Om juga ingin menghabisi nyawanya, apa salah Rafi sama Om Sergio, apa!"
"Sudah, Nak, percuma kamu marah marah. Semua tidak akan bisa mengembalikan keadaan apapun. Semua sudah terjadi," Moreno mencoba menenangkan Marisa yang emosinya sudah meledak. Pria itu juga memberi isyarat pada Rafi agar lebih tenang, meskipun pemuda itu sedari tadi memang lebih banyak diam, menahan segala rasa amarahnya saat ini.
__ADS_1
"Gimana aku tidak marah, Om. Om Sergio ini orang yang sangat tidak tahu diri. Udah serakah dan maunya maunya menang sendiri. Makin tua, bukannya makin menyadari kesalahahannya, malah makin bertingkah dan serakah. Udah beruntung dapat istri yang baik, eh malah nggak kuat dengan isi celana cewek lain. Sekarang udah tahu kebusukan keluarganya, baru menyesal. Dari dulu kemana aja? Aku aja bisa melihat kalau Lupita itu gila harta, tapi Om yang berpendidikan tinggi sampai S3, malah menjadi orang yang bodoh."
Ke empat pria yang mendengar Marisa meluapkan amarahnya hanya bisa diam dengan pikiran masing masing. Semuanya menyadari, apa yang dikatakan Marisa memang benar, dan kemarahannya terlihat sangat menakutkan. Mungkin karena dia seorang wanita, jadi kalau marah, semua yang dia pendam langsung dikeluarkan tanpa ada sisa sedikitpun.
"Apa Om sama sekali tidak tahu, mantan istri dan anak anak Om sekarang tinggal dimana?" Moreno sengaja melempar pertanyaan kepada Sergio agar amarah Marisa reda. Tapi gelengan kepala Sergio sebagai jawaban kalau dia tidak tahu, kembali meledakkan amarahnyaa.
"Kan! Anak anaknya sekarang berada dimana aja Om tidak tahu. Hanya karena paha mulus Lupita, Om sampai melupakan anak anak Om? Hebat wanita itu. Pasti Om juga mengabaikan mereka soal nafkah bukan?" Sergio semakin menunduk, membuat suara tawa Marisa meledak dengan kencang. "Hahaha ... Sama anak kandung sendiri aja tega berbuat seperti itu, apa lagi sama orang lain. Kenapa Om nggak bunuh aja anak anak Om sekalian, biar Om makin bebas."
"Marisa," Moreno kembali memperingati wanita yang tidak bisa menahan emosinya itu. Meskipun suaranya pelan, tapi tatapan matanya mengisyaratkan kalau dia sangat meminta kepada Marisa untuk bisa menahan diri.
"Maaf, Om, jika ucapan saya membuat Om Moreno tidak nyaman. Tapi saya sangat marah dengan Om saya. Dia sendiri tidak tahu keberadaan anak anaknya saat ini. Apa lagi saya, Om."
__ADS_1
"Saya tahu dimana mereka," Rafi yang sedari tadi diam, tiba tiba membuka suaranya dan sukses mengejutkan semua yang ada di sana.
...@@@@@@...