SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Pagi ini Rafi bangun agak lebih siang. Mungkin karena hari ini libur kerja, jadi Rafi bisa lebih santai dalam melakukan kegiatan pagi. Begitu mata Rafi terbuka, beberapa menit kemudian pemuda itu memilih mencari keringat dengan melakukan olahraga menggunakan alat olah raga yang ada di salah satu ruang yang terletak di kamarnya.


Marisa sendiri malah terbangun lebih siang dari Rafi. Begitu mata wanita itu terbuka, Marisa merasa kalau segitiga bermudanya sudah tidak berada di tempatnya. Benar saja, Marisa melihat benda di bawah perutnya sudah tidak berpenutup lagi. Marisa tahu itu perbuatan siapa, karena hal ini sudah sering terjadi sejak beberapa hari ini.


Begitu turun dari ranjang, Marisa memungut segitiga bermuda yang tergeletak di atas lantai. Tanpa memakainya kembali, wanita itu melangkah ke tempat di mana Rafi berada saat ini. Terlihat Rafi sedang melakukan olahraga lari dengan salah satu alat yang ada di sana. Marisa memilih duduk duduk di salah satu alat olahraga yang menghadap ke arah Rafi.


"Astaga! itu kenapa celananya nggak di pakai sih, Sha? Kelihatan itu bakpau kamu," ucap Rafi disela sela olah raganya. Bukannya menutup kedua kakinya agar lubang nikmatnya tidak terlihat, Marisa malah duduk dengan kaki yang agak terbuka, sehingga benda yang ada di bawah perutnya sedikit kelihatan.


Marisa bukannya langsung memakai segitiga bermudanya, dia malah tersenyum lalu dengan sengaja membentangkan kedua kakinya hingga benda di bawah perutnya semakin terlihat dengan jelas, seketika membuat Rafi semakin membelalakan matanya. "Ya biarin aja. Lagian jarang jarang kan ada orang olahraga sambil memandang aset pribadi wanita?" ucap Marisa sambil cengengesan.


"Ah, sialan kamu," umpat Rafi. "kan isi celanaku jadi tegang, Sha," gerutunya. Tanpa pikir panjang, Rafi menghentikan alat yang sedang dia gunakan dan melangkah menuju ke hadapan Marisa. "Nih tanggung jawab karena sudah bikin aku kepengin."


"Hahaha ..." Marisa malah terbahak, tapi wanita itu tidak menolak perintah Rafi. Tangan Marisa langsung bergerak untuk mernurunkan celana kolor Rafi, dan kenyataanya, milik Rafi memang sudah sangat tegang akibat ulah Marisa. Tanpa pikir panjang, Marisa langsung melahap batang Rafi dengan rakusnya. "Nanti kita jadi ke tempat kost?" tanya Marisa disela sela menikmati batang Rafi dengan mulutnya.

__ADS_1


"Jadi, setelah ini kita mandi, sarapan terus berangkat," jawab Rafi. "Kamu bawa pakaian, kemungkinan nanti kita nginep disana sampai urusan Kalina dan Wildan selesai."


Marisa sontak mengiyakan dan tanpa ada perbincangan lagi, wanita itu terus memainkan batang Rafi dengan penuh semangat hingga beberapa puluh menit kemudian rafi pun mengeluarkan cairan kental putih yang cukup banyak dan kental. Cairan itu sengaja Marisa tumpahkan ke bukit kembarnya yang dia keluarkan dari pakaiannya. Begitu permainan mulut selesai, mereka memilih segera mandi dan bersiap diri untuk pergi.


Setelah sarapan dan meminta ijin pada Moreno mengenai apa yang akan Rafi lakukan, dia dan Marisa berangkat menggunakan tiga mobil sesuai saran yang dikatakan Moreno. Pria itu bahkan memberi beberapa nasehat yang bisa Rafi sampaikan kepada Wildan agar Wildan bisa lebih elegan dan berwibawa jika menghadapi musuhnya nanti.


Hingga waktu terus bergulir, kini Rafi dan Marisa sudah berada di tempat kost. Mereka saat ini sedang duduk di ruang tamu untuk membahas apa saja yang perlu Wildan lakukan nanti. "Jadi kamu ngaku aja kalau kamu anak dari pemilik perusahaan ternama di kota besar. Tapi ingat, akting kamu harus benar benar terlihat senatural mungkin."


"Hehehe ... siap, Bang," balas Wildan sambil cengengesan. "Berarti aku memakai jass ini?" Wildan menunjukkan setelan pakaian yang tergelatak di atas meja.


"Siap, Bang," Wildan menjawab dengan sangat antusias lalu dia terlebih dulu beranjak dari tempat duduknya.


"Mmakasih ya, Fi. Lagi lagi aku merepotkan kamu," ucap Kalina.

__ADS_1


"Nggak apa apa. Kalau aku masih bisa bantu, kenapa nggak?" jawab Rafi. "Setelah urusan di kampung selesai, apa yang akan kamu lakukan?"


Saat ini mereka memang sedang duduk berhadapan. Ada Marisa juga di sana yang duduk di sebelah Rafi. "Ya kemungkinan aku akan kembali tinggal disini, Fi. Aku masih takut tinggal di kampung."


Rafi nampak manggut mabnggut. "Bener juga sih. Takutnya paman kamu atau orang yang ingin menikah denganmu malah berbuat nekat dan kamu nggak ada yang menolongnya."


"Aku juga mikirnya gitu," jawab Kalina. "Kemungkinan aku sama Wildan juga berencana akan membuka usaha di sini."


"Kamu sama Wildan? Kok bisa?"


Kalina lantas tersenyum. "Kan aku sama Wildan sekarang pacaran."


"Hah!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2