
Rafi tertegun mendengar kisah pria tua berwajah bule di hadapannya. Pada saat pria itu ditolong oleh orang tuanya, Rafi memang sudah lahir, tapi dia tidak ingat kapan peristiwa itu terjadi. Bahkan dari mulut pria yang belum diketahui namanya, Rafi pada saat itu baru berusia tiga tahun.
Tubuh Rafi bergetar, hatinya berdesir. Ada rasa haru saat pria itu mencerritakan segala kebaikan orang tuanya. Meski dalam susah sekalipun, orang tua Rafi masih bisa memberi pertolongan yang sangat berarti. Cerita pria bule itu tentu saja membuat Rafi teringat nasehat sang ibu. Dalam satu waktu ibu berkata, kita itu orang miskin, karena kita hanya memiliki kebaikan, maka berikanlah kebaikan kita kepada orang yang membutuhkan pertolongan.
"Lalu, anda tahu darimana? Kalau saya adalah anak dari Mail dan Rosida?" tanya Rafi tatkala pria itu mengakhiri kisah masa lalunya.
"Saya sendiri sebenarnya sudah lama mencari orang tua kamu. dari tempat tinggal yang dulu pernah kalian tempati, di sana kalian sudah tidak ada. Tapi beberapa saat yang lalu, saya mendengar berita tentang kasus yang menimpa Alexander. Betapa terkejutnya saya saat saya tahu salah satu korbannya penyerangan adalah ayah kamu. dari sanalah anak buah saya bergerak, mencari keberadaan kamu."
"Anda mengenal ayah saya?" kini Marisa yang bertanya. Sonntak saja pertanyaan tersebut membuat pria itu mengerutkan keningnya.
"Kamu putrinya Alexander Walliington?" tanya pria itu dan Marisa mengangguk mengiyakan. "Astaga! Tentu saja saya kenal. Dia teman kuliah saya. Meski usaha kita tidak pernah bekerja sama, tapi saya dan ayah kamu berhubungan dengan sangat baik."
"Lalu, apa tujuan anda membawa saya datang kemari?" kembali Rafi yang mengeluarkan pertanyaan.
Pria itu tersenyum. "Lebih baik kamu istirahat dulu. Pelayan sudah menyiapkan kamar untuk kamu. Dan untuk Nona, saya akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar juga."
"Tidak!" tolak Marisa lantang sembari memeluk lengan Rafi dengan erat. "Aku tidak mau tidur sendirian."
__ADS_1
kening pria itu berkerut dan menatap lekat ke arah dua anak muda di hadapannya. sedangkan Rafi langsung salah tingkah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria tua itu lantas tersenyum dan mencoba mengerti keadaan mereka. Pria itu lalu memanggil salah satu asisten rumah tangga untuk mengantar Rafi ke kamarnya.
"Wahh! besar sekali! Lebih besar dan luas dari kamarku!" seru Marisa penuh kekaguman begitu memasuki kamar yang akan digunakan untuk istirahat Rafi
"Selamat istirahat, Tuan muda. Jika Tuan membutuhkan sesuatu, silakan tekan tombol yang ada di dekat ranjang."
"Baik, terima kasih," balas Rafi dengan segala kecanggungan yang melanda.
Sang pelayan lantas pamit dan kini tinggalah Rafi dan Marisa yang masih menatap kagum kamar yang begitu luas lengkap dengan beberapa fasilitas.
"Nggak mungkin, paling ini kamarnya anak yang punya rumah," bantah Rafi.
"Kayaknya nggak deh. Orang tadi pria itu bilang kalau ini kamar kamu."
"Udahlah, mending kita istirahat. Mungkin besok akan ada kejadian yang lebih mengejkutkan lagi."
Marisa lantas tersenyum dan dia setuju dengan apa yang Rafi katakan. Mereka lalu membaringkan tubuh mereka di atas kasur yang tersedia di sana. Meski Marisa tidak meminta, Rafi melepas kaosnya sebelum berbaring dan sekarang dia hanya memakai kolor sejak dirinya masih berada di tempat kost sampai sekarang.
__ADS_1
Pagi kini menjelang lagi, dan hari ini ada yang berbeda dalam diri Rafi. begitu dia bangun tidur, beberapa pelayan baik pria maupun wanita sudah mempersiapkan segala keperluan untuk pemuda itu. Dari mandi air hangat, pakaian yang akan dikenakan, dan juga makanan. Sedangkan Marisa hanya sebagai penikmat dari apa yang terjadi di pagi ini.
"Apa aku harus memakai pakaian seperti ini?" tanya Rafi begitu selesai mandi dan mendapatkan jass putih lengkap bersama dasi dan yang lainnya.
"Benar, Tuan muda, anda harus memakai pakaian itu," jawab sang asisten.
"Ini kan bukan baju saya? Apa pemiliknya nanti nggak marah?"
Kening para pelayan sontak berkerut dan saling pandang. "Itu memang baju milik anda, Tuan muda. semua yang ada di kamar ini memang disiapkan khusus untuk anda."
"Apa!" rafi memekoik tak percaya. "Berarti semua barang mahal yang ada di sini milik saya semua?"
"Benar, Tuan muda. Sekarang, Tuan muda bersiaplah, Tuan besar sedang menunggu anda di bawah."
"Baiklah," Rafi menjawab pelan. Dirinya masih sangat syok dengan semua yang terjadi pagi ini. "Apa mungkin ini hadiah misterius itu?"
...@@@@@...
__ADS_1