SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Proses Belajar


__ADS_3

Sementara itu di gedung sebuah perkantoran, Rafi saat ini sedang diajak oleh Moreno untuk menyaksikan sebuah agenda yang disebut rapat perusahaan. Rapat yang dihadiri para pemimpin dari beberapa bagian cabang pekerjaan yang ada di perusahaan tersebut. Moreno sengaja mengajak Rafi mengikuti rapat tersebut agar Rafi belajar tentang cara mepimpin rapat dan semua yang dilakukan dalam memimpin rapat itu.


Selama rapat berlangsung, Rafi benar benar memperhatikan bagaimana Moreno memimpim jalannya rapat di salah satu ruang yang ada di gedung kantornya. Rafi memperhatikan setiap gerak gerik pria itu dalam berbicara dan juga bertindak. Rafi sungguh takjub melihat ketegasan dan kewibawaan pria yang dipanggil Daddy olehnya.


Hingga satu jam kemudian, rapat pun usai. Banyak para pemimpin bagian memberi hormat pada Rafi yang memang sudah dikenalkan sebagai calon pemimpin perusahaan tersebut. Begitu para karyawan sudah meninggalkan ruang rapat satu persatu, kini diruang tersebut tinggalah Rafi dan Moreno yang terlbat suatu pembahasan.


"Bagaimana, Nak? Apa kamu bisa mempelajari sesuatu dari rapat yang baru saja terjadi?" tanya Moreno setelah mematikan layar laptop dan pandangan matanya beralih ke pemuda di sebelahnya.


"Yah, lumayan, Dad," jawab Rafi. "Ternyata jadi pemimpin perusahaan, tugasnya banyak juga ya, Dad?"


Moreno sontak tersenyum. "Maka itu, sikap kita juga harus bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan. Mesikpun ini perusahaan kita sendiri, kita tidak bisa seenaknya mengambil keputusan yang hanya mementingkan kita saja. Di sini juga ada ratuasan karywan yang rejekinya tergantung dengan keputusan kita."


Rafi nampak menganggukkan kepalanya beberapa kali. Rafi memang menyaksikan sendiri bagaimana Moreno memperlakukan para karyawannya dan juga saat pria itu mengambil keputusan. Semua dilakukan dengan segala pertimbangan yang sangat matang setelah melalui serangkaian diskusi yang cukup alot dan ketat.


"Setelah makan siang, apa kamu akan langsung pulang?" tanya Moreno.

__ADS_1


"tidak, Dad, saya akan pergi ke kost dulu. Ada orang yang ingin bertemu aku di sana."


Kini giliran Moreno yang nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Lebih mudah mana? Menjalani usaha tempat kost apa menangani perusahaan seperti ini?"


"Hahaha ... ya lebih mudah menjalankan usaha tempat kost, Dad. Tidak terlalu banyak yang harus dipikirkan. Dan pastinya persaingan usahanya juga tidak terlalu mencolok seperti perusahan besar milik Daddy."


"Hehehe ... kamu benar. Ya sudah lebih baik kita sekarang makan siang. Nanti kalau kamu jadi berangkat, pakai saja supir kantor ya?"


"Baik, Dad, terima kasih." obrolan dua pria beda usia pun seketika berakhir. Keduanya secara bersamaan keluar dari ruang rapat dan menuju ke ruangan Moreno. Tak lupa juga, sang pemimpin perusahaan meminta tolong kepada sekretarisnya untuk memesankan menu makan siang untuk dua pria tersebut.


Seperti yang sudah direncanakan, setelah makan siang, Rafi langsung meluncur menuju ke tempat kost. Dengan menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, Rafi pun sampai di tempat tujuan. Dia bergegas masuk ke kamar, setelah mendapat laporan dari Wildan kalau Kalina masih terbaring di dalam kamar yang digunakan untuk istirahat.


"Udah mendingan kok, Fi. Itu penjaga kost, pijatannya lumayan juga. Enak banget," jawab Kalina yang saat ini sudah duduk bersandar sebelum Rafi datang ke sana.


"Syukurlah," Rafi merasa lega mendengarnya. "Gimana kabar Madi beserta anak dan istrinya? Apa mereka betah tinggal di sana?"

__ADS_1


"Ya betah. Aku aja betah. Lingkunganna nyaman sih," jawab Kalina antusias. "Kalau bukan karena aku ada urusan, aku mending tetap berada di rumah kamu."


Rafi seketika langsung tersenyum karena merasa senang. Di tempat tinggal Rafi memang suasananya nyaman. Meski kadang ada persaingan antar warga, tapi hal itu tidak menjadikan alasan terjadinya pertengkaran ataupun perselisihan yang berkepanjangan.


"Ya sudah, sekarang kita bicarakan saja rencana kamu untuk memberi pelajaran kepada paman kamu. Kalau nggak segera dituntaskan, takutnya malah semakin berlarut larut masalahnya."


"Aku pikir juga begitu. Makanya aku memutuskan kesini untuk menemui kamu. Kalau bukan sama kamu, aku minta tolong sama siapa lagi, Fi."


"Baiklah," lalu Rafi menceritakan tentang rencana yang akan dia lakukan untuk menolong Kalina agar bisa lepas dari jeratan.


"Wildan? Emang dia bisa bersandiwara?" tanya Kalina yang cukup terkejut denga ide yang Rafi berikan.


"Aku yakin dia bisa. Kalau aku nggak ada kerjaan lain juga, aku yang akan akan turun tangan. Sayangnya sekarang aku punya kesibukan lain, gimana? Apa kamu setuju?"


"Aku nurut kamu aja baiknya gimana lah, Fi."

__ADS_1


"Oke, nanti kita bicarakan sama Wildan juga." dan Kalina kembali mengangguk tanpa keraguan.


...@@@@@@...


__ADS_2