
"Kamu lagi ngapain, Fi? Kok bengong?" tanya Marisa beberapa saat kemudian setelah dia selesai merapikan barangnya dan langsung masuk ke dalam kamar pemuda itu. Suara Marisa cukup mengenutkan Rafi hingga dirinya tersadar dari lamunan dan menoleh ke arah wanita yang sedang mendekatnya.
"Tidak ada apa apa," kilah Rafi lalu dia menaruh ponsel jadulnya ke dalam tempat seperti semula. "Aku hanya merasa lelah saja."
"Kalau lelah ya mending isitarahat," saran wanita yang sekarang sudah duduk di sisi Rafi. "Emang tadi kamu di kantor ngapain saja? Kok jam segini sudah lelah? Baru juga jam tiga sore."
Rafi malah tertawa lirih. "Nggak ngapa ngapain sih. Cuma keliling kantor saja sekaligus tuan Morerno memperkenalkanku kepada seluruh karyawan."
Marisa pun ikut tertawa lirih. "Beruntung ya, Fi, nasib kamu. dari seorang anak supir, sekarang mau jadi presdir."
Rafi malah tersenyum kecut. "Tapi sayang, orang tuaku tidak bisa menikmati semua ini. Lalu apa artinya aku bisa mendapatkan ini semua?"
Marisa terdiam dengan matanya lekat memandang pria yang sedang menunduk dengan segala kesedihan yang mendadak hadir. Siapapun orangnya, jika hidupnya sukses, pasti orang yang akan dia bahagiakan adalah orang terdekat, termasuk orang tua. Wajar jika Rafi menjadi sedih, karena tanpa adanya orang tua, terus apa gunanya dia memiliki banyak harta dan kedudukan?
__ADS_1
Marisa meraih tangan Rafi dan menggenggam erat telapak tangan yang kekar dengan kulit yang cukup kasar itu. "Setidaknya orang tua kamu, pasti merasa senang di alam sana, karena pada saat mereka tidak ada, hidup anaknya tidak dalam kesusahan. Apa lagi kamu jadi sosok pria yang baik, orang tua kamu pasti sangat bangga dengan kebaikan anaknya."
Rafi menghembus nafasnya secara perlahan. Ucapan wanita di sebelahnya terlihat cukup menenangkan perasaan Rafi yang sempat berkecamuk. Rafi lalu berdiri dan melepas genggaman tangan wanita di sisinya. Dia ingin berganti pakaian lalu merebahkan tubuhnya.
Sementara itu di tempat lain, seperti yang sudah didunga oleh orang suruhannya, Sergio dibuat terkejut setelah mendapat informasi dari anak buahnya. Ingin rasanya dia tidak percaya dengan informasi tersebut, tapi bukti bukti yang ada membuat Sergio tidak bisa menyangkal tentang keberanan laporan itu.
"Kurang ajar! Ternyata Alexander sudah terlebih dahulu mengambil kesempatan untuk mendekati Moreno! dasar serakah!" maki Sergio.
"Papi kenapa marah marah?" tanya sang istri yang kelihatannya baru saja selesai mandi. Wanita yang kelihatan lebih muda dari sang suami itu keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di tubuh mulusnya.
Istri muda Sergio yang bernama Lupita itu nampak tersenyum tipis sembari memilih pakaian yang akan dia kenakan. "Papi yakin kalau mereka sudah bekerja sama?"
"Yakin banget lah. kalau nggak yakin, lalu apa gunanya mobil Moreno berada di rumah Alexander? Pasti karena sebuah kerja sama bukan?" sungut Sergio berapi api.
__ADS_1
Lupita melepas handuknya dan tubuh seksi nan mulus terpampang jelas dihadapan pria yang usianya sudah menginjak angka empat puluh delapan tahun itu. Perbedaan usia sergio dengan Lupita memang cukup jauh. wanita itu usianya baru menginjakkan kakinya di usia dua puluh tujuh tahun saat berhasil menjadi kekasih gelap Sergio dan menghancurkan rumah tangga Sergio dengan istri pertamanya lima tahun yang lalu.
Meskipun usia Lupita bertambah, tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya sangat terawat dengan baik. Karena itulah, Sergio sangat bertekuk lutut di dahadapan wanita itu. "Maka itu sayang, kamu harus setuju dengan rencanaku. Kalau kita tidak bisa membujuk Tuan Moreno, bukankah lebih baik kita membujuk anaknya. Aku yakin jika aku yang memberi penawaran, anak muda itu pasti akan sangat setuju menjalain kerja sama dengan perusahaan kita."
Sergio memandang wanitanya dengan begitu lekat. "Aku sih setuju saja, asal kamu memang menggunakan orang lain untuk umpan. Aku nggak mau kalau sampai tubuh kamu disentuh pria lain."
Wanita yang sedang berpakaian itu lantas tersenyum lebar. "Astaga! Ya tentu saja aku menggunakan orang lain lah. Masa iya aku menggunakan tubuhku sendiri? inikan sudah menjadi milik kamu."
"Aku tahu, makanya aku tidak ingin membagi tubuhmu dengan pria lain."
Lupita malah mendekat sebelum pakaiannya sempurna digunakan. Dia duduk meringsek dalam pangkuan pria tua tersebut. "Percaya sama aku, Sayang, aku pasti akan melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan kita."
Sergio lantas tersenyum dan mengangguk sebagai tanda kalau dia sangat percaya pada istri keduanya. Tanpa Sergio sadari kalau wanita itu juga memiliki rencana lain yang akan membuat Sergio bisa terkena serangan jantung.
__ADS_1
...@@@@@...