SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Meminta Izin


__ADS_3

"Berarti kamu sering melakukan hubungan badan dengan cewek yang berbeda beda, Fi?"


Pertanyaan Marisa tentu saja tak langsung dijawab oleh Rafi. Mau dijawab dengan jawaban jujurpun percuma, pasti wanita itu tidak akan percaya begitu saja. Rafi memutar otak dengan cepat. Hingga beberapa saat kemudian dia bangkit dari berbaringnya dan duduk di tepi kasur. Rafi meraih ponsel dan menunjukkan beberapa chat yang ada di aplikasi kencan. Tentu saja chat bersama beberapa wanita yang sudah dia cicipi mahkotanya di hapus terlebih dahulu.


"Nih baca," titah Rafi pada wanita yang masih berbaring di belakangnya. Kening Marisa sontak berkerut lalu dia menerima ponsel Rafi dan membaca beberapa chat yang ada di aplikasi kencan milik pemuda itu.


"Kamu mencari wanita bersegel, Fi?" tanya Marisa beberapa saat kemudian setelah membaca chat tersebut.


"Sekarang kamu bisa menyimpulkan sendiri bukan? Aku sering tidur dengan cewek lain atau tidak?" bukannya menjawab pertanyaan Marisa. Rafi melah melempar pertanyaan yang tadi cukup membuat kesal atas tuduhan yang dilontarkan marisa.


Marisa tersenyum lalu dia bangkit dari berbaringnya dan memeluk Rafi dari belakang. "Ya maaf, habisnya kamu beberapa waktu ini ngomongnya soal hubungan badan terus. Wajarkan jika aku curiga?"


"Ya gimana aku nggak berhenti ngomong hubungan badan. Orang kamu nempel terus sama aku, wajar kan kalau aku jadi pengin? Jujur nih ya, aku tuh sebenarnya pengin menjaga wanita sampai dia benar benar halal, tapi kalau wanitanya selalu nempel kayak kamu, bagaimana aku bisa menjaganya coba? Sedangkan kamu tidur sendiri nggak berani?"


Marisa malah cengengesan tanpa rasa bersalah. "Ya abis meluk kamu tuh nyaman banget tahu Fi. Eh, tapi, kamu serius mau halalin aku?"

__ADS_1


Rafi laangsung mendengus. "Itu hanya contoh. Lagian kalau aku halalin kamu mana mungkin orang tua kamu bakalan merestui. Yang ada, aku hanya akan di hina karena aku laki laki miskin."


"Jangan asal nuduh! Orang ngak kenal dengan orang tuaku juga, pakai nuduh kayak gitu."


"Bukannyua asal nuduh, tapi aku pernah mengalaminya. Gara gara aku miskin, aku sampai dihina dan dimaki. Makanya, seandainya ada, mending jodohku dari wanita kalangan biasa saja."


"Nggak amin. aku malah berharap, aku lah jodoh kamu, Fi, hihiii ... Eh tapi kamu serius hanya ingin mencicipi wanita yang mahkotanya masih utuh?"


"Iyalah. kamu sudah baca chat ku kan? Yang nggak bermahkota aku skip. Makanya aku tadi minta pendapat kamu."


"Ya kalau wanita itu benar benar butuh uang ya silakan kalau kamu mau menerimanya, Fi. Tapi kamu juga harus hati hati, jangan sampai dia hamil. Perjanjiannya kan dia jual kamu beli."


"Lah masa gitu? kalau melakukannya siang hari bisa nggak? Aku nggak berani kalau harus tidur sendirian."


Rafi mendngus kesal lalu dia seketika berpikir mencari jalan keluarnya. berhubungam badan kapan saja memang enak, tapi bukankah lebih baik berhubungan badan dilakukan pada malam hari. Lagian tidak mungkin juga Rafi akan melakukannya di tempat kost. Hingga beberapa saat kemudian setelah Rafi berpikir, akhirnya dia menemukan ide.

__ADS_1


"Gimana kalau kita bujuk Alisa untuk menemani kamu tidur?"


"Alisa? Adiknya Wildan?" Rafi mngiyakan. "Ya, sana coba kamu yang bujuk.Tapi kalau Alisa nggak mau, kamu melakukannya siang hari aja ya?"


"Baiklah."


Kesepakatan pun akhirnya terjadi. Tanpa membuang waktu Rafi dan Marisa mencoba mengakrabkan diri kepada bocah kecil yang sekarang tinggal di tempat kost juga. Tapi sepertinya usaha mereka tidak akan mudah. Dilihat dari sikapnya, Alisa sangat susah untuk dekat dengan orang yang baru dia kenal. Meski berbagai rayuan telah dilakukan oleh kedua orang tersebut, dan demi kelancaran segala urusan, akhirnya Rafi yang mengalah, dia akan berhubungan dengan wanita laoin di siiang hari.


Hingga hari itupun tiba. Kini Rafi dengan Amanda sudah berada di sebuah restoran di salah satu hotel yang letaknya tidak jauh dari tempat kost. Awalnya Amanda keberatan saat Rafi mengajaknya untuk melakukan hubungan siang hari. Tapi dengan berbagai alasan yang sangat meyakinkan, wanita itu akhirnya luluh juga. Dari sana Rafi tahu kalau wanita itu benar benar butuh uang.


"Kamu serius nggak mau ngasih tahu aku alasan kenpa kamu menjual mahkota kamu?" tanya Rafi disela sela menikmati hidangan yang ada di hadapnnya.


"Kamu sangat penasaran ya?" tanya Amanda setelah menyesap es kopi pesanannya.


"Wajar kan kalau aku penasaran. Kamu cantik, masih muda, anak orang kaya, masa mau menjual aset kamu kepada pria biasa kayak aku?"

__ADS_1


Amanda tersenyum getir lalu dia mulai menceritakan sesuatu yang membuat Rafi cukup terkejut.


...@@@@@...


__ADS_2