
Hari kini berganti lagi. Di pagi hari, di dalam salah satu kamar kost, terlihat seorang pria muda nampak menggerakakn badannya disertai suara lenguhan, sebagai tanda kalau pria itu sudah terbangun dari tidurnya. Tak lama setelah badannya bergerak, mata pemuda itu perlahan terbuka hingga dia menatap langit langit kamar itu.
Pemuda bernama Wildan itu meregangkan kedua tangannya dan saat kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, pemuda itu langsung bangklit dan terpaku menatap keadaan kamar yang cukup berantakan. Wildan melihat tubuhnya sendiri yang sudah tidak memakai pakaian apapun dan semua yang dia pakai terlihat berserakan di lantai. Wildan juga tidak melihat wanita yang semalam membantu dirinya melampiaskan hasratnya di kamar itu.
Meski dalam pengaruh obat, Wildan masih sedikit teringat dengan yang dia lakukan bersama Kalina semalam. Ladahal dia sangat tidak berpengalaman dalam berhubungan badan, tapi berkat bantuan Kalina dan insting liar dalam jiwanya, Wildan bisa melakukan itu semua. Yang Wildan sesali, kenapa dia melakukannya dalam pengaruh obat. Wildan merasa kurang menikmati permainan karena ada keterpaksaan dalam hubungan badan itu.
Tapi Wildan cukup senang dan merasa beruntung. Dia bisa terlepas dari wanita yang semalam hendak menjebaknya. Entah ada tujuan apa wanita yang baru menghuni kamar kost melakukan itu semua, Wildan benar benar tidak habis habis pikir. Setelah termenung cukup lama di dalam kamar, Wildan segera bangkit, memunguti pakaiannya dan mengenakannya lalu beranjak keluar kamar.
Ternyata hari ini Wildan kesiangan. Pintu gerbang bahkan sudah terbuka dan beberapa penghhuninya sudah ada yang berangkat melakukan aktifitas masing masing. Wildan tersenyum tatkala matanya melihat dua wanita berbeda usia sedang bergandengan tangan msuk ke area kost dengan tangan salah satu wanita itu menenteng sebuah kantung plasitik.
"Alisa darimana?" tanya Wildan sembari mendekap tubuh gadis kecil yang tadi sempat lari ke arah pemuda itu.
"Habis beli sayur," jawab gadis kecil itu.
"Yang, nanti lama lama uang kamu habis loh, buat ngasih makan kita terus," ucap Wildan begitu Kalina berdiri di dekatnya.
"Ya kan bulan depan giliran pakai uang kamu," jawab Kalina lalu dia mendaratkan pantatnya di tembok yang ada di post jaga.
__ADS_1
Wildan hanya tersenyum. Mereka memang sudah membahas hal ini ketika mereka memutuskan memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran. Wildan pun ikutan duduk di sebelah Kalina dan membiarkan sang adik masuk ke kamar mengambil mainannya. "Kamu semalam pindah kamar jam berapa sih, Yang?"
"Ya begitu kita selesai berhubungan badan. Takut Alisa terbangun," jawab Kalina.
"Aku semalam psti terlihat bodoh banget ya, Yang?"
Kalina sontak terkekeh. Padahal dia sendiri juga belum banyak pengalaman soal hubungan ranjang. Tapi melihat Wildan yang lebih tidak berpangalaman, membuat tawa wanita itu pecah. Wildan hanya bisa senyum senyum gemas karena ditertawakan oleh wanita di sebelahnya.
Sementara itu paginya di tempat lain, Rafi sudah kelihatan rapi dengan pakaian santainya. Karena hari ini libur, Rafi memilih memakai kaos dan celana pendek selutut untuk pergi ke tempat kost sekalian ke rumah sakit. Saat ini Rafi seperti biasa, mengisi waktu paginya di meja makan bersama Marisa dan juga Moreno.
"Daddy hari ini acaranya apa?" tanya Rafi di sela sela menikmati menu sarapannya.
"Nggak, Om," Marisa yang menjawabnya. "Aku ada sesuatu yang harus dikerjakan."
Moreno nampak meganggukan kepalanya beberapa kali tanda mengerti. "Tapi kamu tetap ngajak penjaga kan, nak, Nak?"
"Ya paling bawa satu sekalian buat supir. Oh iya Dad, aku minta ijin latihan nyetir mobil ya? Biar nggak terlalu tergantung sama supir."
__ADS_1
"Ya siiakan," jawab Moreno lalu dia merogoh saku yang ada di baju tidurnya. "Daddy juga sudah bikinin kamu black card. Nanti uang tabungan kamu pindahin ke kartu itu, ya?"
"Wahh, makasih, Dad." ketiga orang yang duduk mengitari meja makan nampak saling senyum dan mereka kembali melanjutkan obrolannya mereka sampai waktunya Rafi berangkat.
Seperti yang sudah Rafi rencanakan, pemuda itu kini sudah berada di rumah sakit, menemui orang yangn kemarin dia tolong. Mereka nampak senang dengan kedatangan pemuda kaya itu dan Rafi merasa kalau kedatanganya memang sudah mereka tunggu.
"Gimana keadaan kamu hari ini?" tanya Rafi kepada pria yang terbaring di atas brangkar.
"Udah lumayan lebih baik, Tuan. Mungkin besok juga sudah pulang," jawab pria itu. Rafi nampak mengangguk dan ikutan tersenyum. "Tuan," panggil pria itu.
"Ya," balas Rafi.
"Tuan jadi membeli mahkota adik aku?"
Sejenak Rafi tertegun mendengar pertanyaan itu dan matanya langsung menatap kakak beradik dihadapannya secara bergantian. "Kalau kalian memang siap ya, aku nggak ada pilihan lain."
"Terima kasih, Tuan," pria itu terlihat senang.
__ADS_1
...@@@@@...