
Ting!
Sebuah nada terdengar berdering dari ponsel yang tergeletak di atas meja. Tak jauh dari ponsel tersebut, nampak si pemilik ponsel sedang duduk dengan wajah terlihat gelisah, menanti sebuah kabar yang menurutnya sangat penting. Kabar yang sangat menentukan nasib orang itu di masa yang akan datang. Orang itu segera meraih ponselnya untuk memeriksa, siapa yang telah mengirim pesan.
Senyum orang itu terkembang dengan sangat lebar begitu mengetahui isi pesan yang baru saja dia buka. Di sana, sebuah pesan foto terpampang dengan jelas seseorang yang sangat ingin dia hancurkan, terikat tak berdaya. Dengan hati yang sangat gembira, orang itu bergegas meraih kunci mobil dan segera keluar dengan penuh semangat untuk pergi ke alamat yang tertera pada pesan beserta foto tadi. Tentu saja, orang itu juga telah mempersiapkan senjata untuk menghabisi targetnya.
Dialah Sergio, pemimpin sebuah perusahaan yang cukup ternama, yang mau melakukan segala cara demi bisa memperbanyak harta dan memperbesar usahanya. Sergio begitu bahagia, tatkala mendapat pesan kalau target yang ingin dia habisi, kini sudah berada di tangan anak buahnya dengan posisi tidak berdaya. Sekarang sang anak buah sedang menunggu kedatangannya untuk mengeksekusi langsung targetnya sesuai keinginan Sergio.
Hampir memakan waktu empat puluh menit, Sergio kini telah sampai di tempat tujuan. Sebuah tempat yang memang menjadi markas para anak buahnya berkumpul, untuk istirahat sekaligus merencanakan sesuatu untuk keuntungan mereka. Sebuah bangunan berlantai dua yang suasananya memang cukup sepi dan aman untuk persembunyian.
Begitu mobil terparkir dengan sempurna, Sergio bergegas keluar dari mobilnya dan melangkah dengan cepat menuju tempat anak buahnya berada. Senyum kemenangan tak luntur menghiasi bibirnya sedari tadi. Berbagai makian dan umpatan telah dia ucapkan di sepanjang perjalanan, dan akan kembali dia lakukan, saat memberi pelajaran pada musuhnya.
__ADS_1
Sepi, itu yang pertama kali Sergio lihat saat membuka pintu gedung itu. Lantai bawah terlhat sepi, tanpa seorang pun yang menyambutnya. Padahal dia sudah mengirim pesan kalau dia akan segera datang. Sergio tetap berpikir positif, mungkin anak buahnya berada di lantai atas saat ini. Sergio langsung melangkah lebih cepat menuju lantai dua.
Ternganga, itulah reaksi yang Sergio tunjukan saat ini begitu tiba di lantai dua. Senyumnya yang sedari tadi menghiasi wajahnya, langsung berbuah dengan mata yang melebar, begitu melihat apa yang terjadi di depan matanya. Di sana, di lantai dua, yang Sergio lihat sama sekali tidak sama dengan apa yang dia lihat di dalam foto.
"Kalian! Apa yang terjadi! Mana Rafi!" seru Sergio mendekati lima orang yang justru kini terikat dengan kencang dalam kondisi yang sangat tidak terduga. "Sial! ini jebakan!" umpat Sergio ketika menyadari sesuatu.
Tanpa pikir panjang dan tidak ada niat untuk membantu para anak buahnya yang tidak berdaya, Sergio bergegas kembali turun untuk segera kabur, setelah menyadari kalau itu semua hanya pancingan supaya dia datang. Namun sayang, begitu kembali ke lantai bawah, langkah Sergio terhenti dan dia mematung di sana. "Rafi!"
Ya, Rafi sudah menunggunya dilantai bawah. Pemuda itu hanya tersenyum tipis melihat rasa terkejut yang Sergio tunjukan. "Kenapa, Tuan Sergio? Apa anda sangat terkejut?" tanya Rafi dengan santainya dari atas kursi yang menghalangi pintu keluar.
"Kenapa? Kaget? Karena bukan aku yang terikat?" tanya Rafi tersenyum sinis. Rafi bangkit dari duduknya dan melangkah pelan menuju Sergio yang tidak bisa berkutik. "Sayang sekali, aku bukan ayahku, yang tidak bisa melawan orang orangmu, Tuan."
__ADS_1
"Jangan asal nuduh kamu! Mereka bukan orang orangku!" Sergio masih pandai berkilah. Tentu saja untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Hahaha ..." Rafi terbahak dengan keras sampai menggema di ruangan tersebut. "Alasan anda untuk meloloskan diri terlalu klasik, Tuan. Apa tidak ada cara lain yang lebih elegan, agar anda bisa terhindar dari masalah yang akan menimpa anda?"
Sergio menatap penuh amarah pada anak muda itu. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. "Jangan banyak omong kamu, Rafi. Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, hah!"
Sergio menyeringai, lalu dengan gerakan cepat, pria itu meraih sesuatu yang dia sembunyikan di balik tubuhnya. Langkah Rafi terhenti. Senjata api kini sedang mengarah kepadanya. Sergio menyeringai penuh kemenangan melihat Rafi yang diam tidak berutik.
"Kenapa? Kejutan bukan?" ucap Sergio kembali penuh rasa kemenangan. "Sekarang terbukti kan, kalau kamu sama bodohnya dengan ayahmu? Hahaha ..." Sergio tertawa penuh kemenangan. "Sepertinya aku memang harus secepatnya mengirim kamu menyusul ayah kamu itu!" Sergio segera menarik senjata api yang ada di tangannya dan seketika bunyi ledakanpun menggema. "Mampus kau!"
Dorr!
__ADS_1
"Akhh!" Rafi terpental ke belakang sambil memegangi dadanya.
...@@@@@...