SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Saran Moreno


__ADS_3

Dua orang yang mendapat tugas untuk mencari informasi tentang Rafi, nampak meninggalkan rumah Pak Rt dengan raut wajah terlihat cukup kecewa. Berbagai alasan yang mereka utarakan nyatanya tidak mudah untuk membuat pemimpin warga komplek tersebut mau memberitahukan tentang keluarga Rafi. Apa lagi Pak rt seperti mengetahui kebohongan mereka, hal itu membuat keduanya tidak mampu terus memaksa Pak rt memberi informasi.


Begitu keluar dari gang, dua pria itu memilih duduk di sebuah warung yang ada di sisi kanan gang menghadap jalan raya. Keduanya langsung memesan kopi untuk menemani istirahat mereka. Salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel dalam sakunya dan langsung mencari nomer pimpinan jaringan mereka untuk memberi infromasi yang mereka dapat.


"Gimana? Apa bos Bawor marah marah?" tanya salah satu pria itu setelah melihat rekannya mengakhiri obrolan lewat ponselnya.


"Ya begitulah, kayak nggak tahu bos Bawor saja," balas sang rekan yang tubuhnya lebih tinggi dari si penanya. "Tapi kita nggak boleh pulang dulu. Kita harus mencari informasi ke warga yang lain. Kita bisa pulang kalau sudah mendapat informasi yang kita butuhkan."


Temannya pun mengangguk. Pria bertubuh kekar dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh enam itu kembali mengeluarkan suaranya. "Bagaimana tanggapan dia soal Madi yang bersembunyi di kampung ini?"


Nah itu dia!" seru si tubuh tinggi dengan rambut agak bergelombang. "Gara gara mendengar berita tentang Madi, Bos jadi marah besar. Dia mengira kalau Madi pasti kerja sama dengan Rafi."


"Loh, aku juga mikirnya sama," jawab rekannya. "Kamu ingat nggak dulu? Saat aku dan yang lainnya mendatangi sebuah tempat kost. Udah jelas jelas ada yang menyaksikan Madi dengan anak istrinya memasuki kost tersebut, tapi penjaganya malah bilang tdak melihatnya bukan?"


"Ah iya, benar!" seru si rambut bergelombang. "Malah penjaganya sampai ngajak kamu menunjukkan cctv kan? Kenapa kamu nggak mau menerima ajakan dia?"

__ADS_1


"Saat itu ya aku nggak kepikiran kesana lah. Kamu kan tahu kita jangan sampai meninggalkan jejak. Kalau aku lihat cctv dan menemukan Madi bersama istrinya ada disana, besar kemungkinan jejak kita akan mudah terlacak oleh polisi."


"Benar juga, Hahaha ... kok aku nggak kepikiran sampai sana ya?"


"Nah kan, tapi ternyata penjaga kost itu benar benar bikin masalah."


"Lalu sekarang, apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan menunggu Madi atau mencari info ke yang lainnya?"


"Menunggu Madi sepertinya percuma. Dia sudah melihat wajah kita, tidak mungkin dia akan berani kembali lagi. Mending kita tanya tetangga yang lain, tapi jangan sampai ketahuan Pak Rt."


Sementara itu di hari yang sama tapi di waktu yang berbeda.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" sebuah suara yang tiba tiba menggema dalam sebuah ruangan Rafi, sontak membuat terkejut pemuda yang sedang termenung sembari menatap layar ponsel itu. Rafi menoleh ke sumber suara dan melihat pria paru baya pemimpin perusahaan ini, sedang melangkah menuju sofa dimana Rafi berada.


"Ada sedikit masalah, Dad," balas Rafi lalu dia meletakkan ponsel di atas meja dan menatap pria yang saat ini duduk dihadapannya. Dari tatapan yang Moreno layangkan, Rafi tahu kalau pria itu butuh penjelasan. Tanpa berpikir panjang Rafi langsung menceritakan apa yang sedang terjadi di kampungnya saat ini.

__ADS_1


Moreno nampak menganggukan kepalanya beberapa kali setelah mencerna semua yang Rafi ceritakan. "Lalu apa yang kamu takutkan? Biarkan saja mereka tahu tentang kamu yang sebenarnya "


"Maksud Daddy?" tanya Rafi dengan kening yang berkerut.


"Kamu tidak perlu takut kalau kamu ketahuan siapa asal usul kamu. Mungkin ini memang sudah saatnya, kamu harus bisa menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Jika kamu terus menyembunyikan identitas kamu, maka kamu tidak akan mudah melampiaskan dendam kamu. Sekarang kamu sudah memiliki banyak harta, kekuasan, apa lagi yang kamu butuhkan?"


Rafi sontak terdiam, ucapan Morena memang ada benarnya. Dia tidak perlu selamanya bersembunyi hanya untuk cari aman. Cepat atau lambat, semua akan tahu siapa diri Rafi sebenarnya. "Jika kamu membuka jati diri kamu yang sebenarnya, maka kamu akan tahu, mana yang musuh dan mana yang bukan, Nak," ucap Moreno kembali.


"Tapi aku kan butuh momen yang tepat untuk mengatakan itu semua, Dad?"


"Gampang soal itu, kita adakan saja pesta besar. Daddy yakin dalam pesta itu banyak orang yang akan datang termasuk orang yang kamu anggap musuh. Nanti dalam pesta itu kita buka sama sama siapa jati diri kamu, bagaimana?"


Rafi terdiam sejenak sembari mencerna semua yang dikatakan oleh moreno. Tak lama setelah itu, senyum Rafi nampak terkembang dengan sempurna. "Ide bagus, Dad, aku setuju."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2