SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Sang Asisten Beraksi


__ADS_3

Waktu kembali berganti dan pagi ini, Rafi dan Dito menghabiskan waktu untuk berenang di kolam renang yang tersedia di hotel tempat mereka menginap. Sebenarnya kolam renang itu adalah kolam renang yang bisa juga digunakan untuk umum. Tapi berhubung letaknya masih satu wilayah dengan hotel dan juga memang milik si pengelola, kolam renang itu jadi bisa diakses para penghuni hotel.


"Mantan kamu keren, tuh, Fi, tidak ada menyerahnya," ucap Dito dengan mata menatap ke salah satu arah. Rafi yang awalnya terkejut dengan ucapan Dito, langsung mendengus ketika tatapan matanya diarahkann ke tujuan yang sama dengan Dito.


"Pagi pagi udah nongol aja dia. Mana pakaiannya seksi banget lagi," ucap Dito.


Rafi terlihat semakin kesal. Apa lagi dilihat dari langkahnya, wanita itu sedang berjalan menuju ke arah Rafi berada. "Dasar tidak tahu malu," umpat Rafi


"Hahaha ... mending kamu balik ke kamar deh. Biar aku yang tangani," Dito sepertinya memiliki rencana sendiri. Rafi yang paham dengan apa yang akan Dito lakukan, langsung berdiri dan meninggalkan Dito melalui arah yang berbeda dengan Arinda saat ini.


"Moga sukses," ucap Rafi sesaat sebelum dia pergi.


"Rafi! Tunggu!" teriak Arinda dengan wajah terkejut ketika melihat Rafi pergi melewati arah yang lain. Arinda pun bergegas mengejarnya. Tapi saat dia melewati sang asisten, Dito langsung mencegahnya.


"Mending jangan dikejar, Rafi malah akan jauh dari jangkauan jik dikejar," ucapan Dito berhasil membuat langkah Arinda terhenti. Wanita itu langsung menoleh ke arah pria yang kedua kakinya saat ini sedang bermain air. "Apa kamu nggak bisa main cantik?"

__ADS_1


Kening Arinda sontak berkerut. "Main cantik, maksudnya?"


Dito langsung menyeringai. Dia yakin, wanita itu akan masuk ke dalam berangkapnya. "Aku itu udah lama dekat dengan Rafi, jadi, aku cukup tahulah Rafi kayak apa. Aku juga tahu,kisah kalian dulu seperti apa. Makanya kamu itu harusnya main cantik agar bisa bersama Rafi."


"Main cantik, maksudnya gimana sih?" Arinda semakin penasaran.


Dito kembali tersenyum lalu dia bangkit dari duduknya dan menatap wanita itu. "Main cantik ya main secara halus. Nggak ngejar ngejar kayak gitu. Lagian kamu tahu darimana Rafi ada disini?" setelah ucapannya selesai, Dito melangkah menuju tempat duduk yang terbuat dari batu bata dan semen, berbetuk melingkar. Mau tidak mau, karena penasaran, Arinda pun mengikutinya.


"Tadi aku ke rumahnya, tapi Rafi nggak ada. Kata tetangga Rafi, dia nginap di sini. Ya aku susul kesini," jawab Arinda yang membuat kepala Dito mengangguk beberapa kali. "Emang kamu tahu, cara luluhin hati Rafi kayak gimana?"


Saat ini keduanya sudah duduk di atas tempat duduk yang sama dan berhadapan. "Rafi tuh nggak terlalu suka dikejar kayak gitu. Secara sekarang dia kaya raya, jadi kalau wanita yang mengejarnya, pasti Rafi berangggapan kalau wanita itu hanya mengejar hartanya saja."


"Ya nggak apa apa, jika kamu memang mengejar Rafi hanya karena hartanya doang. Aku juga gitu kok," ucapan Dito seketika membuat mata Arinda langsung melebar.


"Maksud kamu?"

__ADS_1


Dito menyeringai terlebih dahulu. "Dulu, waktu Rafi miskin, aku juga nggak mau dekat sama dia. Tapi begitu tahu dia bakalan jadi orang kaya, baru, aku mulai main cantik secara perlahan. Dan hasilnya, kamu lihat bukan? Paling nggak dalam satu bulan, aku bisa mengantungi uang lima puluh juta dari Rafi."


"Apa!" Arinda makin terperangah. "Lima puluh juta satu bulan? Banyak banget?"


Dito tersenyum, targetnya sebentar lagi akan masuk ke dalam perangkapnya. "Makanya, kan tadi aku bilang, kamu harus main cantik. Jangan kalah sama wanita lain."


"Tapi main cantiknya seperti apa? Dari tadi kamu cuma ngomong main cantik, main cantik mulu, tapi tidak menunjukan cara main cantiknya bagaimana?" Arinda langsung menggerutu.


"Hehehe ... aku akan kasih tahu kamu, asal ..." Dito langsung mengatakan sesuatu yang membuat Arinda kembali membulatkan matanya.


"Masa seperti itu? Nggak mau, nggak mau!" tolak Arinda dengan tegas.


"Ya terserah kamu. Nggak mau juga nggak apa apa. Aku nggak bakalan rugi. Yang rugi itu kamu."


"Aku rugi kenapa?" Arinda benar benar tidak sadar kalau dia sedang dipermainkan oleh pria yang memiliki ucapan begitu manis.

__ADS_1


"Aku kan cukup berpengaruh. Rafi itu akan nurut sama aku. Bagaimana kalau aku bilang sama Rafi agar dia nggak mau balikan sama kamu?"


...@@@@@...


__ADS_2