SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Meski Tak Seimbang


__ADS_3

Trang!


Bugh!


Trang!


Dakh!


"Akhh!"


Tiga lawan satu. kelihatan sekali pertarungan itu tidak seimbang. Tapi dilihat dari pertarungan yang terjadi, yang satu justru menguasai keadaan. Di sana, diantara tempat yang cukup sepi, perkelahian antara begal dan korbannya tidak bisa dihindari. Beruntung korbannya memiliki ilmu bela diri yang masih bisa dia gunakan meski sudah lama tidak terlatih.


Tiga orang yang menyerang secara membabi buta terlihat tergolek pasrah di atas jalan aspal menyusul rekannya yang lebih dahulu kalah dengan mudah. Kemarahan dan rasa emosi jelas saja membakar jiwa keempat begal tersebut, tapi nyalinya dibuat menciut saat senjata yang mereka gunakan justru melukai tubuh mereka sendiri.


Rafi, korban begal yang berhasil mengatasi kawanan penjahat tersebut berhasil memberi luka di beberapa bagian tubuh para begal. Rafi sendiri juga mengalami beberapa lula pukul, tapi dia masih bisa menahannya hingga pertarungan berakhir dengan kemenangan berada dipihak Rafi.


Sebelum pergi dari lokasi kejadian, agar dua begal itu tidak mengejar dan tidak bisa berbuat apa apa lagi, Rafi menusuk dan merobek roda motor milik para pegal dan mencabut kunci motornya serta membuangnya ke sembarang tempat. Setelah memberi peringatan, baru Rafi melanjutkan perjalanan pulangnya bersama Marisa.


Dalam perjalanan, tak banyak pembicaraan yang dilakukan dua orang itu. Marisa yang tersentuh dengan apa yang baru saja terjadi, hanya mampu memeluk Rafi dari belakang dengan begitu erat. Rasa kagum dan bangga menyelimuti wanita itu. Dia tidak menyangka Rafi benar benar melindunginya dari bahaya.

__ADS_1


"Fi, bisa nyari tempat makan dulu nggak?" pinta Marisa dengan suara keras setelah beberapa menit melanjutkan perjalananya.


"Mau makan apa?" tanya Rafi sedikit menolehkan kepalanya. suaranyapun terdengar keras karena mereka tertutup helm.


"Terserah kamu."


Rafi mengangguk lalu sambil melajukan motornya, mata Rafi mengedar ke sekeliling tepi jalan yang dilalui dan dia memutuskan berhenti di depan warung tenda penjual seafood. Tidak ada penolakan bagi Marisa karena memang semua diserahkan ke Rafi yang memilih tempatnya.


"Kamu suka seafood?" tanya Marisa begitu mereka telah duduk di salah satu sudut kursi dan memesan beberapa menu.


"Ya pengin aja. Seumur umur baru kali ini aku beli makanan seperti ini," jawab Rafi jujur sampai wanita di depanya mengerutkan keningnya.


Rafi dengan mantap mengangguk. "Ya, baru kali ini aku makan makanan seaood komplit kayak begini. Dulu mana mampu aku. Makan udang aja aku jarang banget."


"Tapi kok kamu bisa beli gedung kost, Fi? Berarti kamu punya banyak uang kan?"


Rafi mendengus. " Mampu beli tempat seperti itu ya karena aku nabunglah. aku kan sejak lulus sekolah menengah pertama memang sudah bekerja apa saja. Wajar dong kalau aku bisa megumpulkan uang," jawab Rafi terlihat sangat meyakinkan. Padahal semua itu hanya karangan belaka. Dia memang memiliki tabungan, tapi tidak sebanyak itu dan Rafi juga tidak mungkin bisa jujur tentang sistem yang dia terima.


"Hmm, benar juga sih, hehehh ..." Marisa percya saja. Lagian dia juga takut menyinggung perasaan Rafi lagi. "Terus kamu bisa belajar ilmu bela diri darimana? Tadi kamu kayak jago banget?"

__ADS_1


"Aku belajar ilmu bela diri sejak umur enam tahun. Kebetulan dulu waktu aku kecil, aku sering ikut tetangga yang menjadi guru bela diri di kampung. Tapi sejak lulus sekolah, aku jadi jarang ikut berlatih karena harus mencari uang, biasa, tuntutan ekonomi. Terakhir berlatih sekitar dua tahun yang lalu."


"Oh, tapi tadi kamu hebat banget sih. Empat orang bisa dengan mudah kamu lawan."


Rafi tersenyum bangga. "Karena mereka asal menyerang saja. Sekali nyerang dengan kekuatan penuh. Maknya mereka mudah lelah dan mudah dikalahkan. Kalau aku nggak pnya ilmu dasar bela diri, mungkin juga tadi aku yang terkapar duluan."


Marisa ikut tersenyum. Di saat dia akan melanjutkan percakapannya, pesanan seafood pun datang dan akhirnya obrolan terhenti sejenak. Dengan lahap mereka berdua menikmati berbagai menu berbaahan utama hasil laut tersebut.


Sementara itu di tempat lain, karena gagal dalam menjalankan tugasnya, dua orang yang sedari tadi mengikuti mobil yang dikira membawa salah satu anggota keluarga Wallington, kini kembali ke markas. Tentu saja kehadiran dua orang itu disambut dengan amarah oleh orang yang memberi perintah kepada dua orang tersebut.


"Bagaimana kalian bisa kecolongan seperti itu, hah! Nagaiamana?" bentak pimpinan mereka dengan berusaha manahan amarahnya.


"Maaf, bos. Kami pikkir itu mobil yang membawa target. Karena sepanjang pengawasan kami, tidak ada satupun mobil yang keluar dari rumah target."


"Dasar bodoh!" maki sang bos. "Kata Tuan Sergio, anak dari target kita masih ada di negara ini. Tapi kemungkinan dia sedang bersembunyi di suatu tempat. kalian tahu kan, tugs kalian?"


"Tahu, Bos."


"Bagus. Segeralah temukan anak itu!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2