
"Cari siapa, Tuan?" sebuah suara dari arah belakang sontak membuat dua pria beda usia itu terkejut. Keduanya lantas menoleh dan mata Rafi langsung membelalak saat melihat wajah si pemilik suara.
"Loh, Kamu!" seru Rafi dengan jari menunjuk ke orang yang tadi mengeluarkan suara untuk menyapanya. "Kamu tinggal di sini?"
orang yang tadi menyapa Rafi dan supirnya juga nampak terkejut begitu melihat pria yang menolong dirinya dan ibunya, sedang berdiri di tempat tinggalnya. "Iya, Tuan, saya tinggal disini. Tuan mau menagih biaya rumah sakit?"
Pertanyaan wanita itu tentu saja membuat Rafi terkejut seketika. Apa lagi wajah wanita di hadapannya langsung berubah agak panik. "Tidak," Rafi langsung membantahnya. "Saya kesini ada perlu dengan pimpinan panti asuhan ini."
Sekarang gantian wanita itu yang nampak terkejut sampai keningnya berkerut. "Tuan ada perlu sama Ibu? Apa jangan jamgan Tuan yang mau merampas tempat ini?"
"Merampas tempat ini?" Rafi tercengang mendengar tuduhan dari wanita itu. begitu juga dengan supir yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya. "Maksud kamu apa?"
Wanita itu malah mendengus dan raut wajahnya seketika berubah menjadi memelas. "Anda jangan berpura pura. Saya sudah tahu semuanya. Tapi tolong lah, Tuan mau bersikap bijak sedikit. Kami sangat butuh tempat ini. JIka tempat ini anda ambil, kami mau tinggal dimana?"
__ADS_1
Rafi terus diselimuti rasa terkejut. Kemarin dia tidak sengaja mendengar gumaman wania dihadapannya tentang tempat ini, dan sekarang wanita itu malah salah paham dengan kedatangannnya. "Maaf ya, Mbak, kamu itu salah orang. Saya tidak ada maksud untuk mengambil tempat ini. Saya bahkan tidak merasa memiliki tempat ini, jadi untuk apa saya mengambil sesuatu yang bukan hak saya?"
Wanita itu menatap tajam pemuda yang baru saja mengeluarkaan suaranya. Wajahnya kini kembali menunjukan kalau dia cukup terkejut mendengar ucapan Rafi. "Yakin, Tuan bukan mau mengusir kami?"
Dengan sangat antusias, Rafi langsung menggeleng. "Tidak. Kami kesini hanya ingin mengundang penghuni tempat ini untuk menghadiri sebuah acara dari perusahaan kami."
Wajah wanita itu kini terlihat lebih lega. Meski masih ada guratan terkejut dari wajah cantik itu, tapi melndengar ucapan Rafi yang seperti orang jujur, membuat rasa takut wanita itu musnah seketika. "Maaf atas tuduhan dan salah paham yang saya lakukan tadi, Tuan. Kalau begitu, Tuan tuan, silakan masuk dulu."
"Anak anak lagi pada ngapain?" suara menggelegar wanita yang tadi mengajak Rafi masuk nampak mengejutkan anak anak yang lagi mengintip. "Jangan seperti itu. Nggak sopan. Sana, masuk ke kamar."
Anak anak itu langsung menurutinya dengan patuh. Begitu semuanya pergi, si wanita keluar dari pintu yang tadi dipakai anak anak untuk mengintip dengan tangan membawa sebuah nampan berisi dua gelas teh hangat. "Silahkan, Tuan, diminum tehnya. Maaf cuma ada teh saja," ucap wanita itu setelah melekkan dua gelas teh di atas meja di hadapan Rafi dan supirnya.
"Ngapain repot repot sih, Mbak, orang saya kesini cuma sebentar," balas Rafi. "Pemimpin panti asuhan ini mana, Mbak?"
__ADS_1
"Ibu masih di rumah sakit, Tuan. Kan Tuan tahu sendiri keadaan ibu kemarin gimana. Kalau Tuan memang ada perlu dengan panti asuhan ini, biar ke saya saja. Nanti saya sampaikan ke ibu."
"Emang disini tidak ada pengasuh lain?"
Pertanyaan Rafi sontak membuat wanita muda itu tersenyum getir sekaligus menggeleng. "Nggak ada yang mau bertahan untuk merawat tempat ini, Tuan. Selain karena kekurangan pendonor dana, panti asuhan ini juga sedang terlibat masalah dengan orang yang mengaku sebagai pemilik tanah dari bangunan panti asuhan ini berdiri."
Untuk beberapa saat, Rafi hanya terdiam sembari mencerna ucapan wanita di hadapannya. Terdengar miris dan sangat memprihatinkan. Rafi juga tidak sanggup membayangkan nasib anak anak yang tadi sempat dia lihat jika keluar dari bangunan ini. "Terus untuk kebutuhan harian, kalian dapat darimana?"
"Ada yang bekerja, ada juga yang jualan. Karena aku dan anak anak yang lainnya tidak mungkin berdiam diri menunggu donatur datang."
Rafi tersenyum kecil dengan perasaan yang cukup iba. Di saat dia akan mengeluarkan suaranya, Rafi dan dua orang yang sedeng bersamanya dikejutkan dengan suara yang sangat lantang dari luar panti.
...@@@@@...
__ADS_1