SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kembalinya Kalina


__ADS_3

"Apa Mbak ini yang bernama Kalina?"


Wanita yag menenteng tas itu kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan pemuda di hadapannya. "Iya, aku Kalina, kenapa?"


"Owalah!" seru Wildan. "Gini, Mbak, kata Bang Rafi kalau ada cewek yang datang bernama Kalina, disuruh nunggu dulu disini. Mbak lebih baik istirahat dulu. Nanti aku ngasih tahu Bang Rafi kalau tamunya sudah datang."


Wanita itu mengangguk lalu dia mengikuti ajakan Wildan menuju kamar yang akan digunakan Kalina untuk isitirahat. Begitu urusan dengan tamunya selesai, Wildan langsung memberi kabar tentang kedatangan Kalina kepada Rafi.


Di sisi lain, Rafi dan Marisa nampak sedang menikmati sarapannya bersama Tuan Moreno. Sembari sarapan, mereka juga membahas tentang apa yang harus Rafi kerjakan hari ini. Seperti hari kemarin, Rafi akan ikut ke kantor. Hari ini, Rafi dijadwalkan mempelajari beberapa hal tentang usaha yang akan dia pimpin.


"Katanya aku disuruh belajat sama Marisa, Dad? Kok ini saya harus ke kantor?" tanya Rafi yang agak keberatan dengan kegiatan kantornya. bukannya Rafi tak suka, dia hanya belum terlalu siap berhadapan dengan pekerjaan seperti itu.


"Belajar dengan Marisa kan bisa dilakukan siang atau sore hari, Nak. Lagian kamu di kantor paling sampai jam sebelas siang. Setelah itu kamu bebas ngapain aja," ucap Moreno santau tapi cukup tegas. Mau tidak mau Rafi memang harus menerima keputusan orang yang menganggap dirinya seorang anak.


"Baiklah," Rafi pasrah. Mereka lantas melanjutkan obrolan mereka ke hal yang lainnya. Hingga tanpa terasa, waktu keberangkatan ke kantor pun tiba. Rafi berangkat satu mobil bersama Moreno. Sepanjang perjalanan pun ada saja yang menjadi bahan pembahasan dua pria beda usia itu.


"Dad, apa nanti orang yang bernama Sergio akan datang lagi ke kantor?" tanya Rafi kepada pria yang sedang fokus menatap layar tablet di pangkuannya.

__ADS_1


Pria itu menoleh sejenak ke arah Rafi dan tatapannya terlihat begitu serius. "Kenapa? Apa kamu tertarik dengan kerja sama yang dia tawarkan?"


Rafi menghela panjang nafasnya lalu memalingkan wajah ke arah jalanan dan dia terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkan pemuda itu saat ini, tapi yang pasti sikap diam pemuda itu cukup menarik perhatian Moreno hingga pria berusia di atas lima puluh tahun itu kembali menatap Rafi.


"Apa ada masalah, Nak?" tanya Moreno. "Kalau ada masalah, katakan saja. Kali aja daddy bisa membantu."


Rafi langsung menoleh, membalas tatapan pria di sebelahnya. "Apa Daddy tidak tahu tentang Tuan Sergio?"


Alis mata kanan sergio terangkat. Ucapan Rafi cukup mengejutkan. "Sudah pasti Daddy tahu siapa dia. Tapi Daddy memang tidak terlalu kenal sama orang itu, Hanya kenal sekilas saja kalau dia kakaknya Alexander dan juga tentang perusahaannya, kenapa?"


Rafi nampak manggut manggut dan dia kembali menatap jalanan. "Aku yakin kalau dia dalah pembunuh ayah, Dad."


"Itu bukan perampokan biasa, Dad," jawab Rafi, lantas dia menceritakan semua yang dia ketahui dengan segala fakta fakta yang dia dapat. "Aku hanya ingin melihat dia hancur, Dad."


"Astaga! Kenapa kamu baru cerita sekarang, Nak? Kalau begitu kejadiannya. kita harus memberi dia pelajaran."


"Apa Daddy punya ide? Aku tidak punya kekuatan lebih, jadi aku bingung mau menyerang lewat mana."

__ADS_1


moreno sontak terkekeh. "Nanti kita bicarakan saat di kantor ya?" Rafi langsung merasa senang. Dengan sangat antusias, anak itu mengangguk.


Sementara itu masih di hari yang sama dan kembali ke tempat kost, berhubung para penghuni kost sudah pada berangkat kerja, Wildan langsung melaksanakan tugasnya sebagaimana yang pernah dilakukan Rafi sebelumnya. Sedangkan sang adik, dia tinggalkan di dalam kamar sembari menonton kartun lewat ponselnya.


Awalnya Wildan biasa saja saat sedang menyapu teras depan kamar kost. Tapi saat telapak kakinya menginjak pada salah satu depa. kamar, Wildan mendengar suara yang cukup keras dari dalam kamar tersebut.


"Tolong!"


Wildan terperanjat dan tubuhnya membeku sesaat. Wildan pikir itu suara hantu, tapi beberapa detik kemudian telinganya kembali menangkap suara yang sama. Wildan akhirnya sadar dan dia memang harus segera memberi pertolongan.


Wildan membuka kamar dimana suara minta tolong itu terdengar. Namun di dalam kamar tersebut, Wildan tidak menemukan seseorang di sana. Ketika Wildan sedang merasa kebingungan, suara minta tolong kembali terdengar. Ternyata suara itu berasal dari kamar mandi. Wildan pun bergegas melangkah ke arah kamar mandi.


"Mbak! ada apa, mbak? Mbak kenapa?" tanya wildan beruntun dari balik pintu kamar mandi yang tertutup.


"Aku jatuh, Mas. tolong ini sakit banget," rintih wanita yang ada di dalam.


"Baik, Mbak, aku buka pintunya ya?" wanita di dalam sana mempersilahkan. Wildan pun segera membuka pintu kamar mandi. Mata wildan langsung membelalak sempurna saat melihat wanita sudah tergeletak di lantai kamar mandi tanpa mengenakan busana.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2