
Dua orang yang merupakan anggota dari jaringan tato tulang ikan TGM kini duduk di sebuah bangku yang ada di taman sebuah kota. Dua orang itu merasakan kesejukan yang berbeda dengan keadaan kota besar yang cukup panas. Meski di tempat mereka berada saat ini juga cukup panas, tapi cuacanya tidak sepanas kota besar.
Dua cangkir kopi menjadi teman dua pria itu beristirahat setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mereka juga sudah mendapat informasi tentang alamat yang mereka cari dari penjual kopi yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk keduanya. Sebelum melanjutkan tugasnya, kedua pria itu memilih beristirahat terlebih dahulu.
Sementara itu di kota besar, pria asing yang berasal dari negara Italia juga saat ini sedang menempuh perjananan. Dua pria itu terpaksa memakai jasa supir dan mobil sewaan karena meraka tidak terlalu menguasai area kota negara ini dan juga bahasanya. Maka itu dua pria asing itu memilih menyewa seseorang yang bisa melakukan beberapa hal yang mereka butuhkan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dari arah hotel tempat pria asing itu menginap, kini mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di depan gedung perkantoran yang mereka tuju. Sebuah kantor kantor kecil yang namanya tercantum dalam Video sebuah pesta, dimana dalam video tersebut menampilkan sosok Moreno dan anak angkatnya.
"Apa mungkin Moreno bekerja sama dengan kantor kecil seperti ini?" tanya salah satu pria asing saat matanya menatap gedung berlantai tiga di hadapan mereka. Jelas saja mereka heran karena keduanya sangat mengetahui siapa sosok Moreno. Jadi sangat mengejutkan jika pemilik perusahaan yang sangat besar itu sampai bekerja sama dengan kantor sekecil itu.
__ADS_1
"Lebih jelasnya, kita masuk aja. Aku rasa kantor sekecil ini, pemimpinnya nggak akan terlalu sibuk," rekan yang lain langsung menimpali dan tentu saja temannya sangat setuju. Dua pria asing itu masuk ke dalam, menemui wanita yang bertugas sebagai penerima tamu ataupun segala aduan dari pihak luar. Tak lupa juga dua pria asing itu juga mengikut sertakan pria yang mereka sewa untuk membantu mereka mengatasi kepentingan dua pria asing tersebut.
"Selamat datang, Tuan tuan, selamat datang," seru sang pemilik perusahaan dengan wajah yang begitu ceria. Pria pemimpin perusahaan itu nampak senang saat mendengar kabar dari resepsionisnya kalau ada pria asing yang ingin bertemu. Pria yang di atas meja ada papan nama bertuliskan Burhanudin itu, makin merasa bahagia saat mendengar tamunya berasal dari sebuah perusahaan besar juga. Dengan sangat antusias, pria yang akrab dipanggil dengan nama Burhan langsung bangkit dari duduknya saat kedua pria asing bersama pria yang mereka sewa, memasuki ruang kerjanya.
Untuk beberapa saat mereka hanya berbasa basi senejak agar mereka bisa terlihat akrab satu sama lainnya. Tanya jawab seputar perusahaan pun terjadi dan beruntung, Burhan bisa menggunakan bahasa inggris jadi komunikasi mereka cukup lancar.
"Tadinya saya memang berniat menjalin kerja sama dengan perusahan itu. Tapi, mungkin perusahaan saya tidak sebanding dengan perusahaan kelas dunia itu, saya ditolak mentah mentah oleh pemilik perusahaan," Burhan sengaja melakukan kebohongan. Ada rasa curiga saat dua pria asing mengatakan tentang falcano grup.
"Ditolak bagaimana? Apa anda sudah mengajukan kerja sama?" tanya pria asing lainnya yang akrab dipanggil Jim.
__ADS_1
"Aku belum sempat mengajukan kerja sama. Baru sebatas bicara tidak resmi dalam pertemuan yang tidak disengaja. Tapi melihat reaksi yang ditunjukkan oleh pemilik perusahaan itu, saya tahu kalau dia tidak ada minat kerja sama dengan saya. Apa lagi dia berdalih kalau keputusannya dia serahkan ke anak yang akan meneruskan perusahaannya di negara ini. Benar benar tidak menghargai saya sama sekali."
Mendengar keluhan Burhan, seketika dua pria asing itu berpura pura menaruh rasa simpatik. Padahal dalam hati mereka ada rasa senang bukan main karena sebentar lagi mereka yakin akan mendapat informasi yang mereka butuhkan.
Sementara itu di kampungnya Rafi, dua pria yang tadi beristirahat di taman kota, kini sudah berada tepat di komplek tempat tinggal Rafi dulu. Tidak terlalu jauh letaknya. Cukup menempuh perjalanan sepuluh menit dari taman kota, dua pria bertato tulang ikan itu sudah berada di tempat tujuan.
Saat mata mereka mengedar ke sekitar tempat tujuan sembari melangkah mencari rumah Rafi, mata mereka dikejutkan seseorang yang nampak keluar dari sebuah gang yang satu jalan dengan dua pria itu. "Loh, Bukankan dia Madi?"
...@@@@@...
__ADS_1