SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Setelah Melakukan Misi


__ADS_3

"Fi?"


"Hum."


"Nanti kalau aku hamil gimana?"


"Gimana apa maksudnya?"


"Ya kalau aku hamil nanti aku gimana? Tadi kan benih kamu keluar di dalam lubangku semua."


Rafi terkekeh lirih. Tangannya memijat salah satu bukit kembar milik wanita yang sekarang terbaring dihadapannya. "Ya aku bakalan tanggung jawab dong, Kal. Kamu takut aku bakalan kabur?"


Kalina mengangguk pelan. "Aku tahu kita melakukan ini karena kamu bersedia membayarku, tapi aku takut jika tumbuh benih nantinya."


"Jangan khawatir, aku pasti akan tanggung jawab. Kita sudah tahu rasanya tidak memiliki orang tua itu bagaimana, bukan?" Kalina kembali mengangguk pelan. "Ya sudah kita pakai baju ya? Sebentar lagi sore, Orang orang pasti akan pulang. nanti biar aku yang keluar dulu, oke?"


Lagi lagi Kalina hanya mengangguk. Rafi tersenyum dan mengecup kening Kalina lalu bangkit, tangannya meraih pakaiannya yang tergeletak di sembarang lantai. Setelah rapi, dia keluar kamar terlebih dahulu, membiarkan Kalina untuk merapikan diri.

__ADS_1


Tak butu waktu lama, Kalina keluar dengan langkah yang agak beda. sesekali dirinya meringis menahan perih yang dia rasakan pada area bawah perutnya. Meski tersenyum, Rafi merasa tak tega melihat wanita itu menahan sakit akibat sodokannya.


"Apa sakit banget, Kal?" tanya Rafi begitu Kalina duduk di tembok seperti biasa.


"Lumayan. Punya kamu terlalu gede, Fi. Mana nyodoknya kencang banget lagi."


"Hahaha ... maaf. Abis nggak tahan lihat tubuh seindah milik kamu. Ya udah kamu istirahat di kamar aja, nanti urusan makan dan yang lainnya kamu ngomong sama aku."


Kalina memandang lekat wajah Rafi. "Kamu memang cowok yang baik, Fi. AKu nggak menyesal telah menjual tubuhku ini sama kamu."


Rafi kembali tersenyum. "Sudah, sana istirahat. Kalau ada apa apa jangan sungkan untuk ngomong. Urusan pembayaran, nanti kamu kirim nomer rekening ya? Biar aku transfer sekalian."


Di satu sisi, Rafi merasa senang, karena, selain mendapatkan uang banyak, dia juga bisa menikmati mahkota wanita sebagaimana yang diinginkan banyak pria dimanapun berada. Mungkin jika Rafi tidak memiliki uang, entah kapan dia akan merasakan nikmatnya milik wanita yang belum pernah tersentuh.


Di saat Rafi hendak bangkit untuk membereskan kamarnya, pria yang memiliki tato tulang ikan terlihat baru saja kembali bersama anak dan istrinya setelah tadi pergi. Kening Rafi berkerut, Tadi pria itu katanya pergi sebentar bersama istri dan anaknya, tapi mereka kembali setelah hampir empat jam lamanya.


Meski penasaran, Rafi menahan mulutnya untuk sekedar bertanya dan dia hanya membalas senyum yang dilontarkan orang itu. begitu pria itu pergi, Rafi langsung masuk ke kamarnya. Saat Rafi sedang merapikan sprei, matanya menangkap ada noda darah disana. Senyum Rafi terkembang begitu saja dengan pikiran yang mengingat kembali permainan yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


Hingga waktu terus bergerak maju, kini para penghuni kost mulai berdatangan. Wajah wajah lelah sangat nampak dari mereka yang baru selesai dari medan tempur demi nafkah untuk menyambung hidup. Di saat bersamaan, mata Rafi menangkap sebuah mobil mewah masuk ke area kost. Kening Rafi sontak berkerut dengan mata yang terus memandang ke arah mobil itu.


"Loh, Pak Bos!" seru Rafi begitu pengemudi mobil keluar. Ternyata dia adalah pemilik tempat kost tersebut. Seorang pria berusia lebih dari lima puluh tahun. Rafi langsung melangkah mendekat menyambutnya. "Selamat malam, pak," ucap Rafi ramah.


"Malam, Rafi," balas pria itu sambil matanya mengedar ke sekiling area kost memperhatikan sekitar kost dan bangunannya. "Gimana, Fi? Apa ada keluhan dari penghuni kost?"


"Tidak, Pak. sampai saat ini semua baik baik saja," jawab Rafi jujur.


Sang pemilik kost yang wajahnya keturunan Tionghoa nampak manggut manggut, lalu dia meminta Rafi untuk berbincang di ruang tamu yang ada di sana. Dalam hati Rafi penasaran, ada perlu apa sang bos sampai datang ke tampat ini. Dari wajahnya, sepertinya sang bos terlihat sedang ada masalah serius.


"Apa ada yang ingin bapak bicarakan dengan saya?" akhirnya Rafi memberanikan diri untuk bertanya karena sejak mereka duduk bersama, Sang bos lebih banyak diam. Jadi karena penasaran, Rafi memberanikan diri mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.


"Yah, saya kesini memang ada perlu dengan kamu, Fi."


"Ada perlu dengan saya? Apa ada masalah serius, Pak?"


Terlihat sang bos menghela nafasnya dalam dalam sebelum menjawab pertanyaan dari pekerjanya. Sikap bosnya tentu membuat rasa penasaran Rafi semakin bertambah dan dia cukup tegang menunggu sang bos mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2