
Tok! Tok! Tok!
"Permisi!" suara seorang pria terdengar menggema di depan pintu kamar yang ada di salah satu gedung area kost. Pria yang akrab dipanggil Dito itu terlihat sedikit tegang dengan apa yang akan dia lakukan pada seseorang yang berada di dalam kamar, dimana kamar itu baru saja diketuk pintunya.
"Masuk saja! Nggak dikunci!" seru seseorang dari dalam kamar tersebut. Senyum Dito merekah dan dia segera saja menggerakkan tangannya untuk meraih gagang pintu. Dito cukup terkejut saat matanya menangkap seseorang yang ada di dalam kamar itu. Sosok yang merupakan seorang wanita yang saat ini terlihat sedang melilitkan sebuah handuk di tubuhnya. Sepertinya wanita itu hendak mandi. Dito sampai terpaku beberapa saat melihat kemulusan kaki wanita itu.
Melihat reaksi Dito yang memendadak bengong, senyum wanita itu seketika merekah tipis. Sepertinya wanita itu sangat menikmati rasa keterkejutan Dito saat ini. Dengan begitu dia akan menggunakan kesempatan ini untuk menarik perhatian pria yang dia anggap adalah target dari rencananya. "Mas, hallo," ucap wanita itu, menyadarkan Dito dari keterpakuaannya.
"Eh, em, iya, Mbak, ada apa?" Dito menjadi salah tingkah sendiri karena aksinya kepergok oleh wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Loh, kok malah tanya ada apa? Kan harusnya aku yang bertanya, Masnya ada perlu sama saya?" ucapan si wanita seketika kembali membuat Dito tergagap sampai dia menggaruk tubuhnya yang tidak gatal beberapa kali. "Emang lihat apaan sih, Mas? Sampai bengong gitu?"
Dito sontak cengengesan. "Eh maaf, lihat wanita cantik, jadi ya wajar kalau aku sampai bengong," ucap Dito dengan alasan yang cukup masuk akal. "Oh iya, Mbak, aku Rafi dan ini kartu identitas milik kamu. Aku juga mau meminta uang sesaui kesepakatan yang sudah diceritakan oleh teman saya, Mbak."
mendengar nama Rafi disebut, wanita itu terlihat terkejut. Matanya menelisik pria berkulit sedikit hitam dengan tubuh yang tegap di hadapannya. Wajar jika Dito memiliki tubuh yang tegap dan terlihat lebih gagah. Sesuai dengan profesinya sebagai satpam, Dito memang selalu menjaga tubuhnya tetap terbentuk dengan sempurna. Meski wajahnya tidak setampan Rafi, tapi Dito juga memiliki wajah yang cukup manis.
Tak lama setelah rasa terkejut hilang, wanita itu lantas menunjukkan senyum manisnya. "Oh iya, makasih," wanita itu menerima kartu identitas dari tangan Dito. "Masnya duduk dulu bentar ya, aku ambil uang," wanita itu berbalik badan setelah mendapat anggukkan dari Dito. Sambil melangkah menuju letak dimana tasnya berada, wanita itu berpikir keras mencari cara agar pria yang mengaku bernama Rafi itu bisa bertahan di dalam kamarnya.
"Aduh, Mas, aku belum ada uang pecahan gimana? Cuma ada lima ratus ribu dalam dompet. Apa boleh aku ke ATM dulu?" ucap wanita itu sembari menunjukan isi dompetnya untuk meyakinkan Dito. "Atau aku transfer aja pembayarannya?"
__ADS_1
Seketika Dito tergagap mendengar penawaran yang diberikan oleh wanita itu. Dito tidak mungkin akan memberi tahu nomer rekening miliknya karena dia tidak tahu nomer rekening milik Rafi. "Seadanya dulu nggak apa apa, Mbak. Lagian ini sudah malam, kurangnya, Mbak bisa berikan esok hari."
Wanita itu sontak tersenyum. Seperinya dia nampak lega dengan kebijakan yang dilakukan Dito, dan mungkin juga itu bagian dari rencananya. "Ya udah kalau gitu, makasih," wanita itu bangkit dari duduknya di atas kasur hendak menyerahkan uang itu kepada Dito. tapi seperti disengaja, handuk yang melilit tubuh wanita itu tiba tiba terlepas bersamaan gerakan berdiri wanita itu.
"Akh!" wanita itu memekik hingga menghamburkan uang yang akan diserahkan kepada Dito. Bukannya segera mengambil handuk yang terlanjur jatuh di bawahnya, wanita itu malah menutup dua bagian tubuh pentingnya dengan telapak tangan.
Tentu saja pemandangan seperti itu membuat Dito takjub dan tercengang. Matanya hampir tak berkedip memandang keindahan wanita di depannya tadi sebelum ditutupi dengan tangan. "Indah banget!" ucap Dito penuh dengan rasa kagum dan suaranya sampai di dengar oleh si wanita.
"Apaan sih, Mas, jangan dilihatin dong? Malu tahu," protes wanita itu dengan genitnya sembari meraih handuk yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Malu kenapa? Nyatanya tubuh Mbaknya bagus banget," pujian Dito membuat wanita itu merasa bangga seketika. Dengan gerakan menutup kembali tubuhnya dengan handuk, wanita itu merasa kalau apa yang dia rencanakan sebentar lagi akan berhasil.
...@@@@@@...