SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Rafi Bingung Sendiri


__ADS_3

Pesta itu masih berlangsung dengan meriah. Jika di kampung, sebuah pesta hiburannya adalah musik dangdut, di pesta yang dihadiri oleh kalangan orang kaya itu hiburannya musik yang hanya terdiri dari nada piano, terompet dan satu gitar saja. Terdengar sangat membosankan, bagi pemuda yang baru saja diangkat menjadi seorang presdir.


Yang lebih membosankan lagi adalah sikap para tamu yang super ramah. Mereka ramah bukan karena ketulusan. Keramahan yang mereka tunjukkan adalah sebuah bentuk dari salah satu tujuan mereka untuk meraih sesuatu. Seperti misal, seorang ibu yang menunjukkan keramahannya dengan menceritakan putrinya dengan segala keunggulannya, atau seorang pria yang menunjukan keramahannya dengan cara mengisahkan perjalanan hidupnya hingga dia sukses.


Dari cerita yang Rafi dengar, dengan sangat terpaksa, Rafi juga menunjukan keramahan palsunya seakan akan mengagumi setiap cerita yang keluar dari mulut lawan bicaranya. Saat Rafi sedang berbncang dengan tamu yang usianya lebih tua darinya, matanya menangkap sosok yang dia kenal sedang membimbing beberapa anak kecil di ruangan yang sama. Rafi lantas memilih mengakhiri obrolannya dan mendekat ke arah sosok tersebut.


"Kalian jadi datang?" suara Rafi yang tiba tiba menggelegar, nampak mengejutkan dua wanita muda yang sedang membimbing sekumpulan anak anak di sana. "Kalian sudah pada makan semua?"


"Sudah, Tuan, ini aja ada yang belum habis makanannya," jawab salah satu dari wanita muda itu. "Maaf, Tuan, Ibu kepala panti tidak bisa ikut hadir, karena kondisinya belum terlalu membaik."


"Tidak apa apa, saya ngerti kok," ucap Rafi ramah sambil memperhatikan tingkah anak anak panti tersebut yang membuat senyumnya terkembang. "Kalian bisa makan apapun semua makanan yang ada di sini ya? Jangan sungkan."


"Baik, Tuan, terima kasih," jawab dua wanita muda yang menjadi pendamping anak anak kurang beruntung tersebut. Rafi hanya mengulas senyum lalu dia berbalik badan hendak beranjak. Namun sebelum dia beranjak, gerakan Rafi terhenti saat salah satu wanita itu memanggilnya. "Tuan."


Rafi kembali membalikkan tatapannya ke arah dua wanita tadi. "Ya, ada apa? Apa kalian butuh sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Kami cuma mau bilang kalau kami siap membayar hutang kami dengan apa yang kami miliki."


Rafi tercengang. "Maksudnya?"


"Tuan jangan pura pura tidak mengerti, kami tahu kok, apa yang tuan inginkan dari kami. Demi anak anak agar bisa hidup lebih tenang, kami rela menebus hutang kami dengan apa yang kami miliki, sesuai dengan keinginan Tuan tempo hari."


Rafi melongo. Dirinya semakin tidak mengerti. padahal Rafi mengatakan itu semua hanya untuk bercanda saja kepada salah satu dari dua wanita itu. Namun dia malah menganggap serius dan dia bersama temannya akan membayarnya. Rafi juga tidak tahu, apa yang mereka miliki untuk mengembalikan uang yang Rafi keluarkan.


Di saat Rafi akan membalas ucapan dua wanita muda itu, Marisa datang menghampirinya dan perhatian Rafi pun teralihkan oleh Marisa yang ingin berkenalan dengan anak anak panti. Setelah itu Marisa mengajak Rafi pergi dari sana karena pemuda itu dipanggil oleh Moreno.


"Kamu kenapa, Fi? Kok bengong gitu?" tanya Marisa saat memasuki kemar Rafi dengan pakaian yang berbeda.


"Nggak kenapa kenapa, cuma agak capek aja," jawab Rafi antara jujur dan bohong. "Kamu nangung amat pakai baju tidurnya, Sha. Mending kalau pakai baju kayak gitu, kamu nggak usah pakai baju sekalian aja."


"Hehehe ..." Marisa malah terkekeh. "Ini baju tidur dari Angela. Baguskan?"

__ADS_1


"Bagus sih bagus, tapi percuma pakai baju kalau bagian tubuh kamu sangat kelihatan dari luar begitu. Mending nggak usah pakai baju sekalian."


"Hahaha ...ya nggak apa apa, aku kan menghargai orang yang memberikan baju ini. Lagian juga paling sebentarr lagi kamu yang melepaskan bajunya. Kayak nggak tahu kamu aja."


"Hehehe ..." kini Rafi malah cengengesan. "Maka itu, aku bilang mending kamu nggak usah pakai baju," ucap Rafi yang tangannya langsung bergerak nakal ke arah tubuh wanita yang terbaring di sebelahnya. "kamu berangkat keluar negeri kapan, Sha?"


"Mungkin sekitar dua hari lagi, kenapa?"


"Duh, sebentar lagi. Aku pasti akan sangat merindukan bukit kembar dan bau harum lubang nikmatmu, Sha."


"Ya udah, malam ini mainan aja sampai puas."


"Tanpa di suruhpun, aku akan melakukannya," Marisa hanya tersenyum dan dia pasrah saja saat Rafi mulai nakal pada tubuhnya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2