SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Karena Keadaan


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit, pria yang menjadi korban pengeroyokan masih terlihat berbincang dengan adik perempuannya. Pria itu masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan sang adik beberapa saat yang lalu.


"Kamu lagi nggak becanda kan, Wid?" tanya sang kakak dengan tatapan serius.


"Ya enggak lah, Bang," jawab sang adik dengan yakin. "Sekarang kalau kita tidak secepatanya melunasi utang orang tua kita, rumah kita bakalan disita, Bang. kalau itu terjadi, kita akan tinggal dimana? Bahkan hari ini adik kita saja belum makan karena nungguin Abang."


"Tapi nggak harus menjual mahkota, Wid. itu tuh aset masa depan kamu."


"Percuma kalau aku mempertahankan mahkotaku, sedangkan aku juga berkali kali hampir dilecehkan. Aku juga nggak mau meilhat Abang berjuang sendirian mencari uang. Cuma ini satu satunya cara, agar kita dapat uang dengan cepat, bang."


"Tapi, Wid ..."


"Bang, pliss, kali ini biarkan aku membantu Abang. Walaupun jalannya salah, yang penting rumah kita selamat, Bang. kasihan adik adik."


Sang abang terlihat mengehela nafas dalam dalam. "Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu dek, Maafkan abang ya?"

__ADS_1


"Abang nggak salah, yang salah orang tua kita, Hiks hiks ~~ "


Sementara itu, setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, mobil mewah yang dikendarai Rafi dan supirnya, terlihat memasuki gerbang yang menjulang tinggi, dimana, di balik pintu gerbang tersebut, berdiri rumah megah dan mewah yang saat ini menjadi tempat tinggal pemuda yang sedang bernasib sangat mujur.


Begitu mobil terparkir di tempatnya dengan sempurna, Rafi segera turun dari mobil tersebut dan melangkah menuju pintu utama. Ketika Rafi menoleh ke arah pintu gerbang, Rafi melihat dua pria yang biasa bertugas di dalam rumah sedang bercengkrama dengan penjaga pintu gerbang. Rafi membiarkannya saja karena mungkin di dalam memang tidak ada pekerjaan, jadi apa salahnya membiarkan mereka menikmati waktu santai mereka.


"Selamat datang, Tuan," sambut dua asisten wanita begitu Rafi memasuki rumah lewat pintu utama. Hal ini sudah menjadi rutinitas Rafi setiap dia pulang ke rumah pasti akan ada asisten yang menyambut kedatangannya. Entah itu satu orang atau dua orang, yang pasti mereka tidak pernah absen untuk menyambut kedatangan sang tuan rumah.


Rafi hanya mengulas senyum ramahnya. sebenarnya Rafi bingung memilih kata yang tepat untuk membalas sapaan mereka. Makanya, Rafi memilih tersenyum sembari menganggukkan kepala sebagai balasan sapaan mereka,lalu beranjak menuju kamarya.


"Nona Marisa ada di belakang, Tan muda. dia lagi berenang?" mendengar jawaban sang asisten wanita, Rafi pun melangkahkan kakinya ke tempat kolam renang berada. benar saja. Disana, Rafi melihat Marisa sedang asyik berenang layaknya perenang profesional. Rafi mendekat dan memilih duduk di kursi yang ada di sana tanpa mengeluarkan suaranya.


"Rafi!" pekik Marisa beberapa saat kemudian kala dia baru menyadari kehadiran Rafi disana. Rafi hanya melempar senyum sembari menatap Marisa yang sedang berenang ke tepi lalu naik ke daratan.


Wajah Rafi yang sedari tadi terlihat tersenyum, seketika berubah menjadi wajah terkejut dengan mata membulat, saat menatap betapa seksinya Marisa dalam balutan pakaian renang yang sangat tipis. "Kamu seksi banget, Sha," puji Rafi penuh kekaguman. Wanita itu hanya memakai pakaian renang yang super t kecil. Bagian atas kain yang digunakan hanya menutup pucuk bukit kembar dan bagian bawahnya seperti hanya menutupi gundukan daging terbelah saja.

__ADS_1


"Apaan sih, Fi, kayak nggak pernah lihat aku aja," balas Marisa dengan senyum yang terkembang lalu duduk di kursi yang ada disebelah Rafi.


"Tapikan aku baru kali ini lihat kamu memakai pakaian seperti ini, Sha," Rafi membeela diri. Bahkan dengan spontan salah satu tangannya bergerak dan mendarat di salah satu paha mulus Marisa yang letaknya di dekat keberadaan Rafi.


"Nanti kalau Om Sergio udah bangkrut, kamu akan bebas melihat semua tubuhku kok," balas Marisa dan dia membiarkan tangan Rafi mengusap lembut pahanya.


"Ah, bikin tegang aja kamu, Sha, Nih, isi celanaku langsung memberontak."


"Hahaha ... ya kan kamu memang cowok normal. Biasanya kalau tegang diapain?"


"Ya enaknya sih dimasukin ke dalam ini kamu," tanya Rafi dengan beraninya menyentuh gundukan di antara dua paha milik Marisa. "Tapi kalau nggak mau ya, pakai tangan atau mulut juga nggak apa apa deh. Lagian kamu sering diam diam memainkan punya kan kalau malam?"


Marisa sontak terkejut, tapi tak lama kemudian dia terkekeh. "Kita ke kamar aja yuk? Aku bantu pake mulut aja ya?" ajaknya, dan Rafi dengan sangat antusias menyetujuinya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2