
"Hallo!"
"Gimana?"
"Ya udah kamu kesini aja, kita bicarakan di sini?"
"Salam saja buat Madi dan istrinya."
"Oke!"
Klik.
Panggilan pun berrakhir. Seorang pria yang sedang duduk di tepi ranjang, memeriksa sejenak ponselnya. Di sana menunjukkan waktu sudah pukul jam dua belas siang. Pria itu lalu merebahkan tubuhnya dia atas kasur yang baru saja dia duduki. Sedangkan wanita yang bersamanya saat ini langsung menempelkan tubuhnya pada pria tersebut.
Entah hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani. Rafi dan Marisa begitu sangat dekat, bahkan mereka sudah layaknya seperti pasangan sah. Tapi diantara mereka belum satupun tercetus kata cinta. Entah karena mereka terlalu nyaman bisa sedekat itu atau memang awalnya ada kesenjangan ekonomi yang menjadi jarak antara dua anak manusia itu.
"Barusan yang telfon siapa?" tanya Marisa sambil memainkan dada bidang pemuda yang saat ini sedang dia jadikan guling.
"Kalina, cewek yang tinggal di rumahku," jawab Rafi jujur sembari mengusap lembut rambut Marisa.
"Pacar? Kok bisa sampai tinggal di rumahmu?"
"Bukan, dia ..." Rafi lantas menceritakan siapa Kalina dan bagaimana kisah hidupnya yang cukup pahit. "Mungkin dia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan paman dan bibinya."
"Kalau dia kesini terus lihat aku sama kamu gimana?"
__ADS_1
"Emang kenapa? Kan aku nggak ada hubungan apa apa sama kamu dan juga dia? Jangan mikir yang aneh aneh ."
Marisa semakin mengencangkan pelukannya. Wanita itu juga sebenarnya sadar diri kalau dia dan Rafi tidak sedang menjalin suatu hubungan. Tapi kalau ada wanita lain yang menghampiri Rafi, Marisa mendadak jadi dilema.
"Lebi baik kita kembali ke rumah Tuan Moreno, Nggak enak kalau kita disini kelamaan," ucap Rafi beberapa saat kemudian.
"Lah terus kalau nanti cewek itu datang gimana?"
"Ya kan ada Wildan. Nanti aku nitip pesan sama Wildan. ayo, pulang!"
"Aku beresin barang barang aku dulu."
"Ya udah, aku tunggu di bawah. "
"kamu nggak beresin barang barang kamu?"
Keduanya lantas bangkit dan Rafi segeera keluar kemar setelah kembali mamakai pakainnya menuju ke pos jaga. Ternyata di sana ada supir yang mengantar Rafi sedang ngobrol dengan Wildan. Sedangkan Marisa memilih beberapa barang yang akan dia bawa. Di post jaga Rafi, langsung menitip beberapa pesan kepada Wildan termasuk soal Kalina. Selagi Marisa masih sibuk mengemas barang, Rafi menyuruh Wildan membeli ponsel terlebih dahulu, karena Rafi butuh untuk komunikasi sama pemuda itu.
"Bapak sudah lama kerja pada Tuan Moreno?" tanya Rafi begitu Wildan pergi bersama sang adik menuju tempat penjualan ponsel terdekat.
"Ya sudah hampir sepuluh tahun. Kenapa, Tuan muda?" balas sang supir.
"Nggak kenapa. Aku merasa heran saja. Oh iya, dimana keluarga Tuan Noreno? Kok tidak di rumah itu?"
Sang supir lantas tersenyum. "Tuan muda nanti tanya saja sendiri sama Tuan besar. Maaf, saya tidak berani mengatakan apapun tentang kehidupan pribadi Tuan besar."
__ADS_1
Kening Rafi sontak berkerut dengan tatapan tertuju pada sang supir. tapi tak lama setelah itu, Rafi memilih diam, mencoba memahami ucapan pria yang usianya sudah di atas tiga puluh tahun itu. Bebarapa saat kemudian, terlihat Marisa turun dari kamar sembari menenteng kopernya.
"Kita tunggu sebentar. Sildan sedang beli ponsel," ucap Rafi begitu Marisa sampai di dekatnya. Sang supir langsung mengambil alih koper milik Marisa dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Beberapa menit berlalu, Wildan pun kembali.
"Ya udah, Wil, aku berangkat dulu. Jangan lupa pesan aku ya? Kalau ada ada apa apa, telfon?"
"Baik, Bang. Makasih."
"Alisa, Mbak pulang dulu yak? Besok kalau ada waktu Mbak kesini lagi. Kita main dan jajan bareng, oke?" bocah yang sekarang dalam degapan Marisa terlihat mengngguk dengan antusias. Akhirnya setelah berbasa basi sejenak dan saling pamit, Rafi dan Marisa pergi meninggalkan tempat kost tersebut.
"Pak, mampir ke rumah ku dulu ya? ada barang yang harus aku ambil," titah Marisa.
"Baik, Mona," jawab sang supir tanpa menoleh sedikitpun.
"Barang apa lagi sih?" tanya Rafi yang duduk di sebelahnya.
"Ya banyak, ada laptop dan yang lainnya. Aku kan juga butuh pakaian yang bagus. Kali aja aku nanti bisa ke kantor sama kamu."
Rafi langsung mencebikkan bibirnya lalu dia berpaling menatap sisi jalanan, sedangkan Marisa hanya tersenyum manis dan bergelayut di lengan pemuda di sebelahnya. Dengan mengikuti arahan dari Marisa, akhirnya mereka sampai di rumah wanita itu, setelah menempuh jarak yang cukup jauh hingga menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya.
"Mobil siapa itu yang masuk ke rumah Walington?"
"Foto cepet foto."
"Oke!"
__ADS_1
cekrek!
...@@@@@@...