
Rafi terpaksa mengambil keputusan untuk menuruti keinginan orang yang menculik Arinda. Bukan karena masih cinta, tapi ini hanya demi rasa kemanusian. Apalagi pria tua itu minta tolong di depan banyak warga, jadi cukup sulit bagi Rafi untuk menolaknya. Rafi sangat yakin sikapnya ini pasti akan membuat pria itu salah paham.
Keyakinan Rafi memang tidak meleset, pria yang tak lain adalah ayah kandung Arinda, terlihat sangat senang saat Rafi memutuskan untuk menolongnya. Bahkan dia sangat yakin, Rafi masih mencintai anaknya. Pria itu bergegas mengikuti Rafi.
"Anda duduk di depan," ucap Dito saat melihat ayahnya Arinda membuka pintu mobil bagian belakang. Melalui Dito, Rafi memang memerintahkan pria itu untuk satu mobil dengan Rafi agar lebih praktis pergi ke tempat tujuan.
"Loh, bukankah sama aja?" pria itu malah terlihat tidak suka dengan ucapan Dito yang melarang dia agar bisa duduk dekat dengan Rafi.
"Anda bukan Tuan saya, jadi anda harus duduk di depan. Lagian Tuan Rafi tidak suka ada orang lain yang duduk di sebelahnya tanpa ada ijin," tegas Dito. Ayahnya Arinda langsung menatap Rafi dan berharap pemuda itu mau membela dia. Tapi, jangankan mendapat pembelaan, untuk menatapnya pun Rafi enggan. Pemuda itu malah memasang wajah datar dengan tatapan ke arah lain.
"Kurang ajar! Awas aja, jika Rafi sudah menjadi menantuku, aku akan suruh dia pecat supir sialan itu," gerutu pria itu dalam hati. Dia langsung menutup pintu mobil dan berpindah ke pintu bagian depan. Setelah itu baru Rafi masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, pria itu terus mengeluarkan suaranya. Segala pujian dan harapan, dia lontarkan kepada pemuda yang sedari tadi lebih banyak terdiam. Jangankan merespon, menatap ayahnya Arinda pun, Rafi enggan melakukannya. Dito yang merasa berisik juga memilih abai. Dito hanya bisa mengerutu dalam hati kalau ayahnya Arinda terlalu percaya diri kalau Rafi akan kembali bersama anaknya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya, mobil yang dikemudikan oleh Dito sampai di lokasi yang ditunjukkan si penculik. Kening Rafi sempat berkerut karena lokasinya sama dengan yang dulu, saat Rafi menolong Arinda. Tidak ada yang berubah. Bangunan kosong seperti bekas rumah masih berdiri di sana.
Ketiga orang itu langsung keluar dari mobil dan matanya menatap ke arah bangunan di mana Arinda berada. Sebuah bangunan yang terletak di tempat sepi kalau malam. Karena sepanjang mata memandang, hanya ada sawah yang mermbentaang. Meski cukup dekat dengan jalan yang besar, tapi karena jalan itu jalan pernghubung antar desa, jadi kalau malam cukup sepi.
Brak!
Satu kali tendangan yang dilayangkan Dito langsung membuat pintu yang menjadi jalan masuk ke bangunan itu terbuka dengan paksa. Dito yang mantan seorang satpam, tentu saja tidak diragukan lagi dengan kekuatannya. Tubuhnya yang gagah dan tegap, menegaskan kalau pria itu mempunyai kekuatan yang bisa diandalkan. Maka itu, Rafi merekrut pria itu menjadi asisten pribadinya. Banyak potensi yang bisa Rafi manfaatkan dari pria itu.
"Akhirnya kamu datang juga, musuh lama," salah satu dari penjahat langsung memberi ucapan sambutan. "Waw! Sekarang kamu sangat berbeda banget ya?"
__ADS_1
Untuk saat ini Rafi lebih memilih terdiam. Ternyata memberi kabar tentang kedatangannya ke kampung, bukan hanya sambutan baik yang Rafi dapatkan, tapi juga kejadian yang tidak pernah Rafi duga. Entah dari mulut siapa, Arinda dan para penjahat itu tahu dengan kedatangan pemuda itu di kampungnya. Mungkin ini akibat dari hebohnya para tetangga Rafi yang langsung menyebarkan berita kedatangan pemuda tersebut dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga mereka.
"Apa yang kamu inginkan dari saya?" akhirnya suara Rafi keluar dengan sikap yang tenang dan cukup dingin.
Para penjahat sontak saling tatap dan juga saling menyeringai senang. "Harusnya kamu tahu, tanpa harus kami mengatakannya," ucap orang yang sama. Kemungkinan dialah pemimpin dari kawanan penjahat itu.
"Jangan berbelit, katakan saja apa yang kalian inginkan?" Rafi sedikit mendesak. Tapi sikapnya masih terlihat tenang.
"Baiklah, kalau kamu ingin tahu. Jika kamu ingin Arinda selamat, kami minta, siapkan sejumlah uang untuk menebusnya."
Rafi seketika menyeringai. "Uang? Kamu minta saya untuk menyiapkan uang, untuk orang yang tidak memiliki hubungan apapun dengan saya? Hahaha ... apa kalian sedang bercanda?"
__ADS_1
Semua mata yang ada di sana sontak tercengang dengan apa yang dikatakan Rafi.
...@@@@@...