SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Nasib Sergio


__ADS_3

Di hari yang sama, beberapa puluh menit kemudian, setelah kejadian yang menimpa Sergio, di tempat lain, nampak sebuah keluarga sedang berkumpul. Sesekali, suara tawa mereka menggema dengan suara canda di tengah tengah obrolan mereka.


"Lalu kapan, semua harta Sergio, akan beralih nama menjadi nama kamu, Lupita?" tanya seorang wanita tua yang ada di sana. Tatapannya menandakan kalau wanita itu sedang dalam keadaan serius.


"Tenang saja, Bu, sebentar lagi, pasti semua aset milik Sergio akan jatuh ke tanganku. Ibu kan tahu, Sergio itu cinta mati sama aku," jawab Lupita dengan penuh rasa percaya diri.


"Ibu tahu kalau soal itu, tapi setidaknya kamu juga harus bertindak. Jangan sampai semua harta Sergio jatuh ke tangan anak dan istri pertamanya. Seharusnya kamu itu punya anak dari Sergio, agar posisi kamu juga kuat," balas sang ibu.


"Aku juga kok, Bu posisinya, aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Kalau aku punya anak dengan Sergio, nanti aku nggak menarik lagi dong, Bu. Ogah!" jawab Lupita dengan santainya sembari memasukan potongan buah segar ke dalam mulutnya.


"Kamu sendiri gimana, Han? Jadi nggak kerja sama dengan perusahaan milik musuhnya Moreno?" kini gantian anak laki lakinya yang dilempar pertanyaan.


"Itu dia, Bu. Aku nggak tahu dua pria asing itu kemana. Nggak ada kabar. Aku hubungi nomernya, sama sekali tidak aktif," jawab Burhan.


"Yah, bagaimana bisa begitu?" sang ibu terlihat tidak terima. "Jadi sekarang, harapan kita hanya pada Lupita?"


Di saat bersamaan, ponsel Lupita berdering. Wanita itu langsung saja melihat ponsel yang tengkurap di ata meja di hadapannya. Keningnya berkerut saat melihat nomer yang tidak dikenal melakukan panggilan. Tanpa pikir panjang, Lupita langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

__ADS_1


"Hallo!


"Iya, saya sendiri!"


"Apa! Sergio kerampokan!"


"Baik baik, saya akan segera kesana."


Klik!


"Iya, Yah. Katanya gitu. Tadi polisi yang memberi kabar," ucap Lupita segera bersiap diri untuk pergi. "Aku ke rumah sakit dulu, Yah, Bu."


"Ya, hati hati. Kabari ibu kalau ada apa apa!" Lupita mengiyakan dan dia segera saja beranjak meninggalkan rumah itu. Seketika suasana mendadak menjadi hening dan keluarga Cahaya Gemilang hanyut dalam pikiran masing masing.


Entah skenario apa yang Rafi jalani, saat ini Sergio sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan mata terpejam. Namun beberapa saat kemudian, telinganya mendengar suara dari orang yang dia kenal. Perlahan mata Sergio pun terbuka.


"Sayang, kamu sudah sadar?" wajah panik Lupita terlihat surut begitu melihat mata suaminya terbuka. Wanita itu ditemani keponakannya yang tadi langsung datang ke rumah sakit begitu mendengar kabar yang menimpa Sergio dari orang tuanya. Kini mereka berdua berdiri di sisi brangkar tempat Sergio terbaring.

__ADS_1


Sergio hendak mengeluarkan suaranya, tapi tiba tiba dia tercekat dan matanya membelalak. Suaranya tidak bisa keluar sama sekali. Bahkan mulut Sergio juga agak melenceng ke kiri. Lupita dan Tania seketika langsung panik melihat keadaan Sergio yang tidak bisa berbicara sama sekali. Salah satu dari mereka lantas keluar untuk memanggil dokter.


"Dari ciri ciri yang dialami pasien, kemungkinan suami Ibu mengalami gelaja stroke, Bu," ucap dokter setelah memeriksa keadaan pasien.


"Apa! Tidak mungkin!" seru Lupita merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Mungkin kejadian yang menimpanya sangat membuat pasien terkejut sehingga saraf sarafnya melakukan respon yang berlebih hingga menajadikan pasien mengalami stroke," penjelasan dari dokter membuat tiga orang yang ada di sana ternganga tak percaya.


"Ya ampun, Sayang, bagaimana bisa kamu mengalami hal seperti ini?" Lupita nampak begitu sedih. Sedangkan Sergio juga sebenarnya sedih, tapi dia juga diliputi rasa marah dan juga takut. Sergio yakin, penyakitnya disebabkan cairan yang dimasukkan melalui suntikan yang dilakukan oleh anak buahnya Rafi.


"Ini baru permulaaan, Tuan Sergio," gumam Rafi dari dalam mobil setelah keluar dari kantornya, sembari memasukan ponsel ke dalam kantong bajunya. Pria itu baru saja mendapat kabar dari orang suruhannya yang bertugas untuk mengawasi Sergio di rumah sakit. "KIta pulang, Dit." Dito hanya mengangguk lalu menyalakan mesin mobilnya dan mobilpun melaju menuju kediaman Rafi.


Tak lama waktu berselang, mobil yang dikendarai Dito telah sampai di tempat tujuan. Begitu keluar dari mobil, Rafi bergegas masuk ke dalam rumah. Rafi tidak melihat Marisa ada di sana dan Rafi pikir wanita itu pasti di kamarnya. Rafi langsung saja naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Begitu pintu kamar terbuka, mata Rafi membelalak saat melihat sesuatu di dalam kamarnya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2