
Begitu masuk ke dalam kamar yang dia sewa, Rafi langsung bergegas bersiap siap karena beberapa saat lagi dia harus kembali ke kota. Rafi juga sudah memberi tahu Dito untuk bersiap siap juga. Mandi dan sebagainya segera Rafi lakukan hingga akhirnya dia telah siap untuk kembali bergelut dengan pekerjaan kantor esok hari.
"Gimana tadi, main sama Arinda? Puas?" tanya Rafi pada pria yang sedang menyantap beberapa hidangan menjadi satu. Sebelum pulang, Rafi memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Mereka berdua kini sudah berada di restoran yang masih berada dalam satu kawasan dengan area hotel.
"Sepertinya yang nggak puas itu mantan kamu," jawab Dito nampak bersemangat sembari mengunyah makanannĺya. "Gila! Ngajakin sampe tiga ronde coba? Untung aku kuat."
"Hahaha ... pasti udah longgar banget ya lubang ya?" tanya Rafi lagi yang juga sedang melakukan hal yang sama dengan asisten rasa sahabat itu.
"Nggak tahu juga sih, entah punya aku yang memang terlalu gede atau lubang Arinda yang masih seret, tapi ya lumayanlah, masih sangat enak."
Rafi langsung menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan apa yang baru saja dia dengar. Padahal dulu waktu masih menjadi pacarnya, Rafi sangat menjaga hasratnya untuk melindungi Arinda agar tidak rusak. Tidak tahunya malah sudah rusak duluan sebelum kenal dengan Rafi.
"Kamu masih nyari cewek bersegel nggak, Fi?" tanya Dito lagi karena tadi Rafi terdiam dengan ucapan terakhirnya yang membahas soal mantan pacar Rafi.
__ADS_1
"Untuk saat ini sih lagi nggak terlalu. Tahu sendiri kan, kesibukanku kayak apa setelah jadi presdir."
"Lah, apa kamu nggak kepengin? Aku aja yang ikutan jadi sibuk sejak kerja sama kamu, masih sempat kepengin main dengan cewek."
"Rasa kepengin pasti adalah, Dit. Tapi kan aku nggak mau main sembarangan. Selain takut kena penyakit, aku juga nggak mau dijadikan alat oleh wanita untuk menjebakku nantinya karena aku seorang presdir. Walaupun ada kamu, aku bisa aman mengatasi wanita wanita seperti itu, tapi aku juga harus jaga diri dong."
Dito terlihat mengangguk beberapa kali. "Terus, rencana kamu sama Marisa gimana? Sampai nikah tidak?"
"Aku sih nggak berharap lebih, tapi kalau jodoh ya aku cukup senang. Selain cantik, Marisa wanita yang cukup cerdas. Ayahnya juga orang berperanguh. Dia juga tidak cemburu berlebih saat tahu aku sudah pernah tidur dengan wanita lain."
Rafi sudah pasti ikut tertawa mendengarnya. "Ya, semoga saja sih, apa yang kamu inginkan terkabul, Dit. Apa lagi pekerjaan kamu sekarang lebih bagus. Masih bisa menjaminlah untuk mencari wanita yang baik baik saja."
"Nah! itu dia pendukung pentingnya," seru Dito. "Eh, tapi urusan kamu sama si Sergio gimana?"
__ADS_1
"Nah itu dia, aku sendiri juga heran. Entah kenapa sampai detik ini, orang itu dan anak buahnya belum juga beraksi. Apa mereka takut atau mencari waktu yang tepat untuk menyerangku."
"Nah, kalau aku sih yakin, Mereka nyari waktu yang tepat untuk menyerang kamu. Pasti Sergio dan orang orangnya juga sudah tahu kalau kita di sini."
"Berarti ada kemumngkinan hari ini mereka beraksi ya, Dit. Secara, kita hanya berdua, aku tidak bawa pengawal. Senjata senjata yang aku butuhkan, kamu bawa kan?"
"Pasti, dong, Bos. Nggak perlu khawatir."
Rafi terlihat lebih lega. Padahal acara makan sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu. Tapi karena keasyikam ngobrol, mereka sampai lupa waktu kalau mereka sudah cukup lama berada di sana. Akhirnya mereka segera keluar dari restoran dan kembali bersiap diri untuk segera kembali ke kota.
Karena sudah tidak ada yang perlu dilakukan lagi, pukul empat kurang sedikit, mobil yang dikemudikan Dito bergerak, meninggalkan hotel tempat mereka menginap. Mereka juga sejenak mampir ke makam orang tua Rafi, lalu mampir juga ke komplek tempat tinggal Rafi untuk pamit kepada Pak Rt sekalian kembali memastikan tentang rencana Rafi yang memasrahkan semua urusan renovasi rumah kepada pak Rt.
Begitu urusan selesai, mobil benar benar meninggalkan kampung yang sudah menjadi saksi tumbuhnya Rafi menjadi anak yang tegar. Di saat langit hampir gelap dan ruas jalan terlihat sepi, tiba tiba mata Dito dikejutkan dengan dua sepeda motor yang melewati mereka, lalu tak lama setelahnya, motor itu seperti memberi kode agar mobil yang dikendarai Dito berhenti.
__ADS_1
...@@@@@...