
"Udah, sekarang katakan, kamu mau bayar pakai apa?" tanya Rafi dengan tegas.
Wanita yang tadi terlihat garang saat berdebat, seketika berubah menjadi salah tingkah dan malu sendiri. "Saya hanya bisa bayar pakai ini," sambil menunduk, Bulan menunjuk ke arah bawah dengan wajahnya.
Rafi diam diam tersenyum karena gemas dengan tingkah wanita itu. Rafi tahu, maksud dari Bulan yang menunjuk ke arah bawah dengan wajahnya, tapi sepertinya dia memiliki ide jail untuk mengerjai wanita itu agar lebih kesal. "Itu, celana kamu atau baju kamu?"
Bulan langsung mendongak dan menatapnya tajam. "Nggak usah pura pura deh, Tuan," ucapannya langsung ngegas.
"Astaga! Siapa yang pura pura?" Rafi tidak mau mengalah. "Orang kamu nunjukinnya ke arah bawah, itu kan ke celana kamu, atau baju, memang ada yang lainnnya?"
Bulan malah terlihat semakin kesal. "Nggak lucu!"
"Loh, siapa yang lagi ngelawak?" Rafi tetap berusaha tidak mau kalah. "Orang kamu nunjukinnya ke bawah, malah dianggap lagi ngelawak."
"Udah deh, Tuan. nggak usah pura pura nggak tahu gitu," Bulan makin terlihat kesal.
__ADS_1
"Lah pura pura darimananya? Kamu berharap aku tahu meski kamu hanya menunduk? Maaf, aku bukan Tuhan yang harus peka dan bisa mengetahui isi hati wanita. "
Bulan terlihat begitu kesal. Tapi sepertinya dia mencerna ucapan Rafi yang memang terdengar benar. JIka Bulan tidak berterus terang, Rafi mana tahu dengan kode yang dia tunjukan. Tapi sebenarnya Bulan malu jika mengatakan yang sebenarnya, makanya dia memilih menunjuk dengan wajah ke arah celana.
"Aku hanya bisa bayar dengan isi celanaku, puas?" akhirnya Bulan memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya dengan nada kesal. Untuk sesaat Rafi melongo lalu dia hanya berkata oh saja, dan hal itu semakin membuat rasa kesal pada diri Bulan. "Kok jawabnya cuma Oh doang?"
Rafi seketika langsung terkekeh. "Hehehe ... ya abis bingung mau jawab apa?"
"Ya tinggal di jawab, mau apa nggak bayar pakai isi celanaku dan isi celana Dewi," sungut Bulan.
"Iya lah, orang uang sepuluh miliar. Walaupun aku rasa itu nggak cukup, tapi aku sama dewi berharap itu cukup buat menebus uang sepuluh miliar itu. Asal Tuan tahu, kami berdua masih bersegel, masih suci."
Rafi nampak manggut manggut sebagai tanda kalau dia percaya dengan ucapan wanita itu agar si wanita tidak kesal terus. "Apa kamu dan teman kamu itu sudah memikirkan matang matang?"
"Ya sudah. Ini semua demi panti asuhan ini," jawab Bulan dengan mata menerawang, menatap ke arah bangunan panti. "Aku dan Dewi sama sama tinggal disini sejak kami tidak mengenal kalau dunia itu kejam. Bukan aku saja, bahkan anak anak yang lain juga. Kalau bukan tempat ini sebagai rumah kami untuk pulang, lantas kami akan pulang kemana, kalau tempat ini hilang?"
__ADS_1
Suasana yang tadinya terlihat tegang, sekarang malah berubah menjadi mengharukan. Biar bagaimanapun dikehidupan panti, selalu ada cerita sedih pada tiap penghuninya. Rafi masih terbilang beruntung. Walaupun dia anak yang hadir diluar pernikahan, tapi orang tua Rafi tidak membuang dia. Malah merawatnya dengan segala keterbatasan.
"Baiklah, aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Nanti aku kabari keputusanku bagaimana," bukan tanpa alasan Rafi berkata seperti itu. Yang dia hadapi saat ini adalah dua wanita yang besar di panti. Rafi harus memikirkan dengan matang jika menikmati tubuh wanita itu. Biar bagaimanapun nanti keputusan Rafi bisa berpengaruh pada masa depan wanita itu dan juga nama baik panti asuhan tempat mereka bernaung.
Akhirnya pembicaraan pun selesai. Rafi pulang dengan hati yang cukup gundah. Rafi memeriksa ponsel jadulnya dan membaca misi dari sistem yang sudah cukup lama dia abaikan, karena sibuk dengan urusan lain. Untuk misi kali ini, hadiahnya tujuh ratus lima puluh miliar. Uang yang sangat banyak bukan? Tapi hal itu malah membuat Rafi semakin gundah karena Mahkota yang akan dia dapatkan kali ini milik anak anak panti.
Hingga waktu terus berlalu, malam ini telah hadir dan sekarang Rafi terliat sedang berbaring diatas ranjangnya. Pikirannya masih melayang ke kejjadian tadi siang tentang pembicaraanya dengan Bulan sampai Rafi tidak menyadari kedatangan Marisa di kamarnya.
"Kamu kenapa, Fi? Apa ada yang kamu pikirkan?" pertanyaan Marisa sontak membuat Rafi tersadar dari lamunannya. "Ada apa? Apa ada masalah serius?" tanya wanita yang saat ini mulai membaringkan tubuhnya dan menempel pada pria yang tadi melamun.
"Bohong kalau aku jawab tidak ada masalah. memang benar, ada yang sedang aku pikirkan," jawab Rafi.
"Ada masalah apa emangnya?"
"Sha, kalau kita menikah tapi aku minta ijin sama kamu untuk menikah lagi, kamu ijinkan apa tidak?"
__ADS_1
...@@@@@...