SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Ketika Belum Tidur


__ADS_3

"Kenapa? kamu ingin melakukannya juga?" tanya Kalina sembari menoleh sedikit ke belakang.


Pemuda yang sedang memeluk wanitanya dari belakang langsung cengengesan dan dengan segala rasa gemas yang menyeruak, dia langsung melayangkan kecupan di pipi wanita yang sedang dia peluk dengan segala perasaaan yang membuncah di dalam dadanya. Bagi pemuda itu, ini adalah moment pertama dia bisa sedekat ini dengan seorang wanita.


"Semua cowok yang sudah remaja hingga menjelang dewasa kayak aku, pastinya ingin dong, melakukan hubungan badan dengan lawan jenis. Tapi bagi aku, semua itu tidak harus dilakukan selama hubungan itu masih dalam arti pacaran. Kalau mau bersabar sedikit dan nunggu sah, bukankah itu akan lebih nikmat?" ucapan Wildan kembali membuat wanita yang sedang dipeluk olehnya tertegun mendengar penuturan itu.


"Seandainya wanita itu menyerahkan dirinya sendiri atas dasar rasa cinta dan sayang, bagaimana? Apa kamu akan menolaknya?" tanya Kalina mencoba menguji pemuda itu.


"Kalau itu sih semua tergantung keadaan, Sayang. Tapi kalau wanita yang menyerahkan dirinya sendiri pada laki laki, aku rasa itu wanita yang nggak benar, kecuali memang dalam keadaan yang genting," Wildan mencoba memberi jawaban yang realistis.


"Tapi aku nggak yakin banyak tuh cewek yang nolak jika ada cewek yang ngajakin," Kalina masih mengeluarkan pendapatnya.

__ADS_1


"Bisa jadi kalau cewek yang ngajakin cowok duluan itu udah pernah melakukannya dan dia aku sih yakin, cewek model kayak gitu tidak puas dengan satu laki laki. Bisa jadi jika dia berumah tangga, dia berpeluang mencari cowok lain."


Kalina terdiam. Apa yang dikatakan Wildan bisa saja itu salah satu kenyataan yang memang benar adanya. Kalina sendiri kadang merasa ingin melakukan hubungan badan lagi dengan lawan jenis, tapi sisi hatinya yang lain selalu menahan diri agar dirinya tidak disangka sebagai wanita murah meriah.


"Apa kamu waktu tahu aku sudah tidak suci lagi, terbesit dalam benak kamu untuk mencoba melakukannya denganku, wil?"


Sebelum menjawab, Wildan kembali mengecup pipi wanita yang baru saja melontarkan sebua pertanyaan. "Sebagai cowok normal, sudah pasti aku ingin melakukannya juga. Apa lagi saat menolong kamu jatuh di kamar mandi. Bahkan aku tak sengaja menyentuh isi celana kamu saat sedang memijat paha kamu. Tapi terbukti, aku bisa menahannya bukan?"


Wildan kembali mengecup pipi kalina. "Ya, kita lihat saja nanti seberapa aku kuat menahan godaan seperti ini." Keduanya lantas tertawa lirih. Karena waktu yang sudah menuju larut malam, Wildan dan Kalina memutuskan untuk segera memejamkan mata.


Masih di malam yang sama, terlihat Rafi masih menikmati bukit kembar yang tersaji dihadapannya. Meski si pemilik bukit kembar sudah terlelap, Raafi masih terjaga dan dengan rakus menyesap dua pucuk bukit kembar nan indah itu secara bergantian. Di saat mata Rafi tak sengaja memandang paha mulus Marisa, Rafi tiba tiba memiliki sebuah ide yang menurutnya cukup bagus.

__ADS_1


Di saat mulut Rafi sedang asyik memberi sedotan pada salah satu bukit kembar, salah satu tangan Rafi bergerak dan menjelajah, merayap ke perut ramping Marisa hingga jari jarinya meraih tali tipis yang melingkar dipinggang wanita itu. Perlahan Rafi menurunkan tali tipis tersebut. Beruntung pada saat itu Marisa sedang dalam posisi telentang jadi dengan sangat mudah dia menurunkan kain segitiga tipis yang menutupi gundukan daging terbelah milik Marisa.


"Tembem banget!" mata Rafi berbinar begitu melihat benda yang sekarang terpampang nyata di depan matanya. "Gemoy banget punya kamu, Sha." Rafi tak henti hentinya melontarkan rasa kagumnya. Di usapnya gundukan yang sangat menggemaskan itu. Ada bulu bulu halus yang mulai tumbuh di sekitarnya dan jari Rafi merasakannya.


Sambil terus membelai gundukan milik Marisa, Rafi mendongak, menatap wajah yang sudah terlelap sejak beberpa puluh menit yang lalu. "Pokoknya, harus aku yang pertama kali masuk ke sini loh, Sha. Kamu udah janji sama aku. Awas aja kalau sampai kamu menyerahkan ke laki laki lain. Aku akan sangat marah sama kamu, mengerti?"


Selesai berbicara sendiri seperti orang gila, Rafi menggeser tubuhnya hingga wajahnya tepat menghadap gundukan milik Marisa. Senyumnya terus terkembang dengan jari tangan yang tidak henti hentinya membelai lembut gundukan nikmat itu. Tak lama setelah itu, wajah Rafi menekat dan dia menggendus gundukan itu dengan segenap perasaan.


"Harum banget punya kamu, Sha. Udah gemoy, wangi lagi," gumam Rafi dan dia mulai memberi kecupan pada gundukan yang belum terjamah oleh laki laki.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2