SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Semakin Giat Belajar


__ADS_3

Siang ini, di sana, di sebuah gedung yang menjulang cukup tinggi, Rafi nampak sibuk mempelajari semua yang diarahkan sang asisten. Kali ini Rafi tidak hanya belajar di ruangannya sendiri, tapi dia juga diarahkan untuk terjun langsung ke setiap bagian dari perusahaan tersebut.


Yang pertama Rafi kunjungi adalah bagian tim produksi. Meski pada tim tersebut hanya ada petunjuk cara memasang kerangka mobil, tapi Rafi mempelajarinya dengan sangat serius. Semua yang bekerja dalam tim tersebut saling bergantian memberi informasi yang memang bagian dari pelajaran tersebut.


"Kalau Tuan ingin melihat langsung proses produksinya, lebih baik tuan pergi ke bagian produksi yang ada di kota sebelah, nanti di sana, Tuan Rafi bisa mempelajari segala bagian mobil dengan mudah," usul salah satu staf produksi.


"Begitukah?" tanya Rafi yang memang tidak tahu apa apa. beberapa staf yang ada disana hampr serentak mengiyakan. "Baiklah, nanti aku coba tanyakan sama Daddy."


Setelah merasa cukup belajar pada tim produksi, Rafi berpintah ke tim lainnya, dan tempat berikutnya yang dituju adalah tim marketing. Tim tersebut bertugas memantau setiap unit penjualan mobil maupun motor yang tersebar di beberapa kota yang ada nergara ini. Kedatangan Rafi di ruang tim marketing tentu saja langsung disambut baik semua orang.


Sementara itu di ruang kerjanya, Moreno juga nampak sibuk dengan segala pekerjaannya. Pria itu bukan hanya menangani pekerjaan satu kantor saja, tapi beberapa kantor cabang yang tersebar di berbagai negara. Beruntung, jaman sudah sangat canggih. moreno bisa dengan mudah menangani pekerjaan kantor lainnya dari satu tempat.


"Permisi, Tuan," sapa sang asisten begitu memasuki ruangan Moreno dan mendekat ke arah pimpinan perusahaan.


"Bagaimana? Apa Rafi belajar dengan baik?" tanya Moreno menjeda pekerjaanya sejenak dan menatap sang asisten yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Tuan muda belajar dengan sangat baik, Tuan," jawab sang asisten. "Ini ada undangan untuk Tuan besar dan Tuan muda."

__ADS_1


Kening Moreno sontak berkerut. "Undangan apa?"


"Undangan pesta peresmian kantor angkasa jaya, Tuan."


Moreno nampak manggut manggut, namun tak lama setelahnya Moreno kembali nampak terkejut "Rafi diundang? darimana mereka tahu anak saya? Bukankah saya belum memngenalkan Rafi dan mengumumkan siapa dia?"


"Mungkin ini ada sangkut pautnya dengan Tuan Sergio, Tuan," jawab sang asisten. "Apa Tuan besar tahu kalau Rafi ada dendam dengan Sergio walington?"


"Aku tahu, makanya Rafi belajar sangat giat. Dia ingin menghancurkan Sergio."


"Tentu saja, aku akan membantunya. Biar bagaimanapun aku juga marah saat tahu orang yang menolongku dibunuh secara keji. Tapi aku juga ingin melihat sejauh apa usaha Rafi. Karena aku merasa, Raafi cukup kesulitan menjangkau Sergio dan juga orang orang yang sudah menghabisi ayahnya."


Sang asisten nampak manggut manggut. Dia cukup senang menyaksikan sendiri kalau Moreno memang serius dengan keputusannya untuk menolong Rafi. Sang asisten juga tahu banyak tentang apa yang terjadi pada Tuannya, jadi dia cukup setuju dengan segala tindakan Moreno.


Masih di hari yang sama, namun di tempat beerbeda, seorang wanita nampak sedang termenung sambil sesekali melihat layar ponselnya. Dilihat dari gerak geriknya, wanita itu seperti sedang menunggu seseorang menghubunginya dengan segera. Karena yang ditunggu tak kunjung memberikan respon, wanita itu memilih beranjak dari kampusnya menuju ke tempat parkir mobil.


Mendengar nama Rafi disebut oleh salah satu teman kuliahnya, membuat wanita itu penasaran dan cukup panik juga. Wanita itu cukup mengenal wanita seperti apa Tania itu. Makanya dia berharap Rafi yang dimaksud Tania bukanlah Rafi yang dia kenal. Begitu wamita itu sudah berada di dalam mobil, dia langsung menacapkan gas mobilnya melaju meninggalkan area kampu menujus ke suatu tempat.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan dengan memakan waktu hampir satu jam, wanita itu langsung turun dari mobil begitu mobil terparkir dengan sempurna dan dia beranjak menemui seorang pria yang nampak sedang berbincang dengan seorang wanita di sebuah post jaga tempat kost.


"Permisi, Mas? Rafinya ada?"


Wildan yang memang pernah melihat wanita itu datang ke tempat kost, sempat mengerutkan keningnya. Begitu juga dengan wanita yang sedari tadi ngobrol dengan Wildan. "Bang Raafi sudah tidak tinggal disini lagi, Mbak," jawab Wildan.


"Loh, kenapa? Apa dia pulang kampung?" tanya wanita itu terlihat terkejut mendengar jawaban dari Wildan.


"Tidak, Bang Rafi sekarang tinggal di rumah mewah yang ada di kota sebelah."


"Hah? Rumah mewah? Rafi pindah kerja apa gimana?"


"Iya, Bang Rafi sekarang kerja kantoran, kalau nggak salah di perusahaan otomotif."


"Apa!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2