SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Permisi! Woy!" sebuah sapaan yang cukup menggelagar dan sangat tidak sopan, membuat tiga orang yang ada di dalam ruang tamu sebuah panti asuhan, merasa sangat tidak nyaman. Salah satu dari tiga orang itu langsung menunjukkan wajah paniknya karena dia sudah sangat tahu siapa yang datang dengan sikap yang tidak sopan. "Permisi!"


Mendengar suara yang kembali lantang terdengar, membuat wanita itu mau tidak mau bangkit dari duduknya dengan segala rasa takut yang menderanya. Rafi dan sang supir memilih diam terlebih dahulu, walapun dalam hatinya, Rafi cukup geram dengan pemilik suara yang terdengar tidak sopan.


"Cih! Akhirnya berani keluar juga kamu!" ejek tamu yang tadi berteriak. "Kapan kalian akan meninggalkan tempat ini, Hah!"


"Maaf, Pak. Tolong, beri kami waktu lagi, saat ini Ibu ada di rumah sakit," wanita bernama Bulan itu terdengar mengiba.


"Alasan mulu dari kemarin!" teriak orang itu dengan segala amarahnya. "Kenapa nggak sekalian mati aja wanita tua itu! Pokoknya aku nggak mau tahu, hari ini juga kalian harus pergi dari tempat ini!"


Mata Bulan langsung membelalak. Wanita itu segera saja bersimpuh. "Tolong, Pak, kasih kami waktu lagi, tolong."


"Nggak ada! Sudah hilang kesabaranku menghadapi kalian. Aku sudah memberi waktu untuk kalian selama satu bulan penuh, jadi tidak akan aku kasih waktu lagi untuk kalian, paham!" bentak pria itu dan dia langsung menoleh ke arah anak buah yang dia bawa. "Kalian, keluarkan semua barang barang yang ada di tempat ini, sekarang!"

__ADS_1


"Baik, Tuan!" enam orang berbadan tegap yang ikut bersama pria itu, menjawab dengan serentak dan langsung bergerak untuk melaksanakan perintah Tuannya. Bulan langsung bangkit dan berusaha menghalangi pria pria itu untuk masuk dengan air mata yang sudah menderas dan juga teriakan pilu menghalangi mereka.


"Dasar orang orang tidak tahu malu! Beraninya menindas kaum yang lemah! Mental apa itu?" suara ejekan yang tiba tiba keluar dari dalam ruangan panti sontak membuat beberapa pria itu tercengang mendengarnya. Mata mereka semua langsung menatap sosok yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu.


"Siapa kamu!" seru pria yang bertindak sebagai bos dalam rombongan tersebut. Matanya penuh dengan kilatan amarah meski ada rasa terkejut juga saat melihat sosok yang baru saja melontarkan pertanyaan yang diiringi dengan ejekan.


"Mental mental pengecut kayak kalian, nggak perlu tahu siapa saya," balas Rafi dengan angkuhnya. "Kalian dibayar berapa oleh pria tua ini, untuk menindas orang yang lemah?" pertanyaan Rafi kepada para anak buah orang yang tadi teriak teriak, cukup terdengar sangat menohok.


"Maksud kamu apa? Ngatain aku orang tua, hah!" pria itu malah terlihat tidak terima. "Kamu nggak tahu siapa saya!"


"Kebanyakan mulut! Sebenarnya saya tidak ingin menggunakan kekerasan, tapi sepertinya anda harus diberi pelajaran agar anda menyesal karena telah meremehkan saya," pria itu langsung berseru, memberi perintah pada anak buah yang dia bawa. Pria pria berbadan tegap yang jumlahnya ada enam orang langsung menuruti tuannya.


Perkelahian pun tidak dapat dihindari. Sang supir yang juga merupakan seorang pengawal, juga langsung bergerak untuk melindungi dan membatu majikannya. Sedangkan Bulan langsung bersembunyi di balik pintu dengan wajah yang masih ketakutkan.

__ADS_1


Dakh!


Bugh!


Duk!


Pukulan, tendangan dan hantaman, Rafi layangkan dengan sangat ringan. Rafi sendiri juga merasa heran. Meski dia memang menguasai ilmu bela diri, tapi dalam pertarungan ini, Rafi merasakan seperti ada kekuatan lain yang membantunya. Kekuatan tak kasat mata yang merasuk di dalam tubuh Rafi. sehingga hanya dengan gerakan ringan, Rafi bisa menumbangkan pria pria berbadan kekar itu.


Rafi sempat melihat supir yang membantunya juga cukup kewalahan menghadapi dua orang yang badannnya sama sama kekar, tapi Rafi malah terlihat ringan sekali dalam upaya membela diri dan juga melakukan penyerangan. Tangan Rafi bahkan dengan mudah mengangkat leher salah satu anak buah musuh yang badannya lebih tegap dan besar dari Rafi.


"Akhh!" pria itu berteriak dengan cukup keras karena tubuhnya dihempaskan oleh Rafi hingga membentur sebuah tiang yang menjulang tinggi di salah satu sisi teras panti. Tentu saja pihak musuh sangat terkejut melihatnya. Mereka sampai kewalahan menghadapi Rafi. Tapi pemuda itu justru masih berdiri tegar meski tersentuh oleh beberapa pukulan


Pemimpin dari para lawan juga sangat terkejut melihat lawan tanding orang orangnya. Kesombongan yang sedari tadi dia banggakan, runtuh seketika dan berubah menjadi rasa takut. Rafi dengan santainya mendekat orang itu dan langsung mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuh pria tua hingga pria itu menggigil ketakutan.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2