
"Mahal amat? Apa jangan jangan kamu masih bersegel?" satu pertanyaan keluar dari mulut Marisa tapi jawabannya sangat ditunggu oleh pemuda yang sedari tadi diam diantara dua wanita itu. Rafi cukup merasa lega. Disaat dia sedang mencari cara untuk mengetahui wanita itu masih segel atau tidak, tiba tiba Marisa malah melontarkan pertanyaan seperti itu. Bukankah itu cukup mewakili isi hati Rafi.
"Emang kalau masih segel bisa semahal itu ya?" bukannya menjawab, wanita itu malah melempar pertanyaan yang membuat Rafi harus lebih bersabar lagi.
"Ya juga sih. Tapi memang pada kenyaatannya wanita yang masih bersegel sering laku lebih mahal daripada yang sudah nggak bersegel. Itu juga tergantung darimana wanita itu berasal dan alasan dia menjual segelnya."
Wanita itu manggut manggut dan jawaban yang keluar dari mulut Marisa juga cukp membuat Rafi takjub. Sebab, dimata Rafi, Marisa terlihat kalau dia wanita yang cerdas dan banyak pengalaman.
"Tapi menurutku pilihan yang tepat sih jika kamu kabur, oalnya misalkan kamu laku mahal pun, kamu nggak akan sepenuhnya nikmati semua uang itu," Marisa melanjutkan ceritanya dan hal itu cukup mengejutkan wanita yang lengannya terluka.
"Kok bisa gitu?"
"Ya iyalah. Tenagamu itu akan diperas. Bisa saja kamu nanti dibayar oleh pria yang menjual kamu dengan harga yang lebih murah. Kalau memang mau terjun kedunia seperti itu, mending jalur sendiri saja. uangnya kamu bisa nikmatian sendiri."
"Hahaha ..." wanita itu malah terbahak. "Nggak lah. aku nggak mau terjun ke dunia kotor kayak gitu. Meski jujur aku datang ke kota juga ingin merubah nasib. Apalagi ayahku sakit keras dan butuh biaya untuk operasi."
"Butuh biaya berapa?" kini Rafi yang bertanya dengan wajah serius. hal itu tentu saja mengejutkan dua wanita yang ada disana. Bahkan dua wanita itu langsung menatap Rafi dengan kening yang berkerut. "Kenapa malah menatapku seperti itu?"
__ADS_1
Marisa terkekeh. "Ya habis pertanyaan kamu serius banget, fi. Apa kamu mau membantu membayar biaya rumah sakit orangtuanya?"
"Kalau iya, emang salah? Nggak salah kan, aku membantu biayanya?" Rafi malah terlihat kesal karena lagi lagi merasa diremehkan.
"Ya nggak salah, Fi. Tapi aneh saja. kamu seakn akan ..." balas Marisa tapi ucapannya terpotong karena Rafi langsung menerjangnya.
"Seakan akan banyak uang gitu? Seakan akan aku orang kaya gitu? Aku tahu rasanya dalam posisi wanita ini, Non. Orang tua sakit tapi kita tidak bisa melakukan apa apa sampai orang tua meninggal. Kamu enak, oran tua sakit tidak pernah memikirkan biaya, nah kita orang miskin, bisa apa?" setelah mengatakan semua itu dengan nada kesal, Rafi langsung pergi meinggalkan dua wanita yang melongo melihatnya marah.
"Astaga, Mbak? sepertinya pria itu tersinggung,"
"Apa ucaapanku sudah sangat keterlaluan?" Marisa jadi merasa bersalah. Dua wanita itu saling pandang dengan tatapan yang penuh dengan sesal.
"Kamu sudah kembali?" baru saja terlintas dalam pikiran tentang dua wanita itu, salah satunya malah menampakan suaranya.
"Sudah," jawab Rafi agak ketus. bahkan dia tidak mau menatap wanita yang saat ini mendekatinya. Matanya lebih fokus ke layar ponsel.
"Maaf jika ucapanku tadi keterlaluan dan nyinggung perasaan kamu," rengek Marisa penuh sesal. Rafi tak menjawab, hatinya masih ada rasa kesal meski tidak ingin dia luapkan. "Malam ini sepertinya aku akan tidur di rumah."
__ADS_1
Mendengar kata yang diucapkan Marisa membuat Rafi langsung menoleh ke arahnya. "Kenapa?"
"Mommy pulang untuk melihat keadaan rumah. Mungkin besok aku akan kesini lagi."
Rafi mengangguk mengerti tapi dia tak ada niat untuk menjawabnya. Hingga Marisa kembali memutuskan masuk ke kamar.
Sampai waktu menjelang sore, disaat para penghuni kost berdatangan, terlihat mobil yang menjemput Marisa datang. Di sana ada pak Budiman, jadi Rafi menyempatkan diri untuk menyapanya dan berbincang. Wanita yang lengannya terluka juga kebetulan ada disana juga, jadi dia sekalian ikut mengantar kepergian Marisa.
"Mas, kamu masih marah sama Mbak yang tadi?" tanya si wanita begitu Marisa sudah pergi dari tempat itu.
"Nggak lah. tadi kamu lihat kan?" bantah Rafi.
"Lihat sih, cuma kamu masih sedikit dingin sikapnya."
"Hehehe ... nggak lah, biasanya saja."
"Hmm, tapi hebat ya wanita itu, meski hidup di luar negeri, dia masih bisa menjaga segelnya dengan baik."
__ADS_1
"Apa!"
...@@@@@@...