SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Salah Sasaran Atau?


__ADS_3

"Permisi, Mbak, ini kartu identitasnyya, dan saya mau meminta bayaran awal masuk kost, Mbak. Seperti yang tadi sudah kita bicarakan," ucap Wildan begitu dia dipersilahkan masuk oleh wanita penghuni kost yang baru.


"Oh iya, tunggu sebentar ya, Mas," wanita itu mengulurkan tangannya meraih tas yang tergeletak dekat koper miliknya. Saat wanita itu melihat dua botol air minum yang berada di dekat tas slempang miliknya, wanita itu tiba tiba tersemyum licik. Dia jadi teringat akan rencaanya. "Duduk dulu, Mas, Jangan sungkan."


"Heheh iya, Mbak," jawab Wildan sambil menggaruk leher bagian belakangnya yang tiba tiba merasa gatal. Mau tidak mau, Wildan lantas duduk di lantai dekat pintu.


"Ya ampun, ngapain duduk disitu sih, Mas? Takut istrinya marah ya?" ledek wanita itu sembari menghitung uang yang akan diserahkan ke Wildan. "Nih, minuman, kebetulan aku beli dua tadi, wanita itu menyodorkan minuman yang sebenarnya sudah dicampur perangsang beberapa saat setelah dia berada di kamar tadi.


"Loh, nggak usah, Mbak," tolak Wildan. "Nanti Mbaknya kurang gimana?"


"Ya beli lagi. Di luar banyak pedagang kan? Oh iya, mobil bisa masuk kan, Mas? Soalnya tadi aku naruh mobil di depan."


Mau tidak mau, Wildan menerima air minum itu. "Oh, itu mobil Kamu, Mbak? Kirain mobil siapa. Bisa, Mbak."


"Ya udah, Nih uangnya. Delapan ratus ribu ya?" Wildan menerima uang itu dan menghitungnya kembali. Setelah urusannya selesai Wildan lantas pamit kembali ke post. wanita bernama Sindi menyeringai karena sebentar lagi rencananya berhasil.


Entah apa tujuan wanita itu sampai bisa melakukan hal sejauh ini. entah dia salah informasi atau memang sengaja ada rencana lain hingga dia mengira kalau pria penjaga kost itu adalah target yang harus dia taklukan. Tak lama setelah Wildan pergi, ponsel yang ada ditangan Sindi berdering. wanita itu langsung menggeser tombol hijau.


"Hallo!"


"Beres! Target sudah aku kasih botol air yang di campur perangsang. Tenang saja."

__ADS_1


"Sipp! kita pasti akan mendapatkan uang banyak."


"Oke, bye!"


klik.


"sekarang aku mandi dan memakai pakaian seksi lalu turun keluar," gumam wanita itu sembari tertawa penuh keyakinan kalau rencananya malam ini akan sukses. Dia pun segera mengambil perlengkapan mandinya lalu segera beranjak menuju kamar mandi.


Pukul tujuh malam lebih tiga puluh menit, Sindi sudah rapi dengan pakaian seksi. Sebuah dress dengan bahu terbuka dan bagian bawah pendek sepaha serta bergelombang. Begitu merasa penampilannya telah sempurna, wanita itu segera keluar kamar untuk mendekati penjaga kost dengan dalih akan memarkirkan mobil ke dalam area kost.


"Sendirian aja, Mas?" sapa Sindi. Matanya melirik botol yang pemberiannya berada di atas meja dengan isi yang sudah berkurang. Wanita itu sontak saja tersenyum senang. Dilihat dari sikap Wildan, Sindi yakin obatnya saat ini belum bekerja.


"Iya nih," balas Sindi. "Wanita yang tadi brsama kamu mana, Mas?" tanya Sindi basa basi sekalian ingin mencari info. Siapa tahu wanita itu ada di dalam kamar yang menjadi satu dengan post jaga


"Oh, dia lagi pergi, nginep di tempat temennya."


Mendengar jawaban Wildan, benak wanita itu sektika langsung bersorak dan wajahnya terlihat ceria. "Pacar kamu ya, Mas?"


Wildan sontak tersenyum. "Ya bisa dibilang begitu. Baru jadian kemarin."


"Wah, selamat ya!" ucap Sindi dan Wildan pun membalasnya dengan ucapan terima kasih. Setelah itu Sindi pamit hendak memarkirkan mobil ke dalam area kost, dan Wildan mempersilakannya sembari menunjukkan letak parkir mobil.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, kini mobil berwarna hijau itu telah terparkir di tempat yang ditunjukkan Wildan. Sindi kembali melangkah menuju post dan melihat Wiildan sudah sedang kegerahan. Saat mata Sindi menatap ke arah botol, isinya terlihat sudah berkurang banyak. Sindi pun sengaaja duduk di tembok yang ada di sana.


"Aku duduk disini boleh nggak, Mas?"


"Boleh, Mbak, silakan," ucap Wildan sembari mengipas ngipas tubuhnya yang terasa gerah.


"Kamu kenapa, Mas? gerah?" tanya Sindi pura pura tidak tahu dengan yang terjadi pada pria itu.


"Iya nih, gerah banget, tapi gerahnya lain," jawab Wildan sembari meraih botol minum di atas meja dan menghabiskan isinya.


"Gerahnya lain? Maksudnya, Mas?"


"Iya, gerahnnya lain. Bawaannya kayak pengin berhubungan badan gitu. kayak ada yang membakar dalam tubuh dan juga di dalam cana."


"Loh, bahaya itu, Mas. Harus dilampiaskan itu," Sindi memprofokasi.


"Sama siapa, Mbak? Pacarku aja sedang pergi."


Sindi langsung menyeringai. "Gimana kalau sama aku?"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2