
"Baiklah, nanti saya akan menemuinya. Di rumah sakit mana, Tuan Sergio dirawat?" Tanya Moreno.
"Bukan di rumah sakit, Tuan," jawab Lupita sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Moreno. "Tapi suami saya berada di sini."
Kening Moreno sontak berkerut sembari menerima sebuah kertas yang isinya cukup membuatnya terkejut. "Di hotel?" Lupita dengan wajahnya sedikit berbinar mengangguk pelan. "Kenapa Sergio dirawat di hotel?"
"Hanya untuk keamanan suami saya, Tuan. Anda pasti tahu kan kalau orang seperti dia pasti ada musuh? Nah saya hanya ingin menyembunyikan suami saya dari para musuh. Apa lagi anda juga tahu, keadaaan perusahaan suami saya sedang tidak baik baik saja. maka itu saya sengaja merawat dia di hotel."
Moreno lantas tersenyum. Sungguh kebohongan yang sangat sempurna dan terencana. "Baiklah, nanti setelah pulang kerja, saya akan usahakan untuk mampir menjenguknya."
Lupita ingin bersorak saat itu juga, tapi dengan sekuat tenaga, wanita itu menahan diri agar rencananya tidak ketahuan. "Terima kasih, Tuan. Saya akan menunggu kabar baiknya. Di situ juga ada nomer telfon saya. Kalau Tuan datang, tolong, Tuan kasih kabar sama saya."
Moreno mengiyakan saja. Dia tentu tahu, dengan mengiyakannya, wanita itu pasti sudah sangat kegirangan. Biar bagaimanapun, Moreno sudah sering menemukan wanita sejenis Lupita di belahan negara manapun. Namin Moreno selalu melihat kondisinya. Kalau wanita itu hanya ingin tidur dengannya tanpa ada niat buruk, Moreno bisa saja mau meladeninya. Tapi kalau wanita itu ada niat buruk dibalik rasa ingin tidur dengannya, Moreno sudah pasti akan menolaknya dengan cara lain.
Setelah mendapatkan jawaban yang ditunggu, Lupita pamit dari tempat Moreno dengan hati yang berbunga. Moreno meletakkan kertas itu di atas meja. Dia bangkit dan beranjak menuju meja kerjanya. Biarlah urusan Lupita dia selesaikan nanti setelah pekerjaannya beres.
Saat jam makan siang datang.
__ADS_1
"Apa ini, Dad? Kok nomer kamar hotel?" tanya Rafi yang kala itu sudah berada di ruangan Moreno. Seperti biasanya, mereka akan makan siang bersama di ruangan itu. Moreno belum menceritakan apa yang terjadi tadi pagi, tapi dia sudah menyerahkan nama dan alamat hotel kepada anak angkatnya.
Moreno tersenyum sinis lalu dia menceritakan tentang kedatangan Lupita dan segala kebohongannya sambil bersiap menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapannya. "Mungkin dia sudah tahu kalau Sergio kabur membawa semua aset asetnya."
"Astaga! jadi kali ini Daddy yang akan dia jerat?" tanya Rafi yang sedari tadi menunjukan wajah terkejutnya.
"Daddy sudah bisa menebak apa mau dia. Sepertinya dia juga sangat tergila gila sama Daddy. Wajar sih, Daddy masih tampan dan tenaganya juga masih mampu membuat wanita seperti dia terkapar keenakan."
Rafi langsung mencebikan bibirnya. Bukannya tidak percaya, Rafi sangat tahu, pria dihadapannya memang masih memiliki pesona yang kuat untuk membuat wanita resah. "Apa Daddy akan menemuinya?"
"Loh, kok aku?" Rafi kembali dibuat terkejut. "Aku juga mana mau menghadapi wanita seperti ini."
"Ya kamu cari saja cara yang membuat wanita itu senang. Intinya daddy serahkan dia sama kamu bukan nyuruh kamu menikmatinya."
"Hahaha ... okelah, nanti aku pikirkan." dan obrolan terus berlanjut sampai jam makan siang selesai. Rafi kembali ke ruangannya dengan pikiran yang cukup tersita. Dia mencari cara bagaimana mengatasi lupita, hingga matanya menatap sang asisten yang sedang bercengkrama dengan sekretarisnya. Rafi seketika memilki sebuah ide.
"Dit, masuk ke ruangan saya," titah Rafi sampai membuat dua pria yang bekerja di depan ruangannya menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Dito lalu dia pamit kepada rekan kerjanya. Rafi memang sengaja memilih sekretaris laki laki sebelum Marisa datang. Rafi tidak memakai sekretaris wanita lain karena tidak mau ada skandal nantinya yang sering terjadi antara bos dan sekretarisnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Dito begitu sudah menghadap Rafi di depan meja kerjanya. Rafi lantas memberikan kertas kepada Dito. "Apa ini?"
"Itu nama hotel dan juga nomernya. Nanti pulang kerja kamu kesana," jawab Rafi.
"Ngapain saya kesana, Tuan?" tanya Dito langsung duduk di kursi yang ada di seberang meja Rafi.
Rafi lantas tersenyum sinis lalu dia menceritakan semuanya, sama persis dengan apa yang dikatakan Moreno dan juga rencananya yang baru saja dipikirkan. "Kamu pasti tahu, apa yang harus kamu lakukan."
"Kalau urusan enak enak, mana mungkin aku bisa menolaknya, apa lagi dengan wanita cantik. Nggak masalah dia tante tante. Aku suka kok," Dito terlihat antusias.
"Baiklah, lakukan saja apa yang kamu suka."
"Baik, Tuan. Dengan senang hati."
...@@@@...
__ADS_1