SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Masih Berlanjut


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, begitu para penghuni kost berangkat beraktifitas dan kost sudah dalam keadaan sepi, Rafi dan Nadia bekerjama sama membersihkan tempat kost tersebut. Dengan Arahan dari Rafi, Nadia dengan cekatan membersihkan tempat tempat yang ditunjuk oleh Rafi, sedangkan Rafi menangani tempat lainnya.


Karena yang mengerjakan dua orang, jadi pekerjaan yang biasa selesai sekitar pukul sembilan pagi, hari ini selesai lebih cepat yaitu pukul delapan lebih sedikit. Di saat Nadia masih melanjutkan sisa pekerjaannya, Rafi memilih keluar dari tempat kost membeli makanan untuk sarapan mereka berdua. Seperti biasa, Rafi akan meminjam piring milik pedagang meski di tempat kost juga ada piring dan yang lainnya.


"Sarapan dulu, Nad," panggil Rafi. Begitu mereka berdua keluar dari kamar, panggilannya langsung berubah. Semalam hanya kata sayang yang Rafi ucapkan saat berdua dalam kamar, tapi sekarang Rafi memanggil wanita itu dengan nama aslinya.


"Langsung sarapan, nggak mandi dulu?" tanya Nadia setelah dia selesai merapikan semua ruangan dapur, ruang olah raga dan yang lainnya.


"Nanti saja, aku sudah lapar," tolak Rafi. Nadia pun menurutinya. Biar bagaimanapun saat ini hidup Nadia tergantung pada laki laki itu. Mereka berdua menikmati sarapan di ruang tamu yang ada disana sambil berbagi cerita.


"Mas Rafi sudah lama kerja di sini apa?" tanya Nadia disela sela menikmati santapan paginya.


"Ya lumayan, kenapa?" balas Rafi sedikit berbohong. Dia tidak mau ada orang lain yang tahu kalau tempat kost ini sudah menjadi miliknya.


"Kerjanya enak dan santai. Gajinya pasti gede ya?"


"Hahaha ... ya lumayanlah."


"Jadi pengin kerja di tempat seperti ini. Apa lagi kalau kerjanya bareng Mas Rafi, bakalan sangat betah pasti."

__ADS_1


Rafi sedikit terkekeh. "Bukankah daripada kerja, lebih baik usaha sendiri ya? Enak. Nggak ada yang ngatur ngatur."


"Iya sih. Eh nanti aku ke bank jam berapa, Mas?"


Sebelum menjawab Rafi melihat jam yang tertera dilayar ponselnya. "Nanti saja setelah semuanya selesai. sekarang aja baru mau jam sembilan. nanti aku nyodok lagi saat kita mandi, boleh nggak?"


"Kita mandi bareng?"


"Iya lah sekalian. Nggak apa apa, kan?"


"Terserah mas Rafi aja, aku nurut."


Rafi langsung tersenyum senang. Mereka lantas mengobrol ke hal yang lainnya sembari mengabiskan sarapannya. Sesaat setelah makanan habis, Rafi memilih duduk berdampingan dengan Nadia. Seperti orang pacaran, mereka saling menempel. Bahkan Nadia tak segan segan memasukan tangannya ke dalam celana Rafi dan bermain main disana. Agar lebih memudahkan Nadia memainkan isi celananya, Rafi segera saja membuka celananya hingga turun ke lutut.


"Ya, sebenarnya ada dua alternatif jawaban, Mau jujur atau bohong. Kalau bohong, kamu harus menyiapkannya dengan matang. Orang tua kamu pernah lihat pacar kamu nggak?"


"Belum pernah. Orang aku aja jarang lihat. Kan kenal di dunia maya. Aku ketemu cuma tiga kali sama dia dan paling parah ya kemarin."


"Ya, kalau kamu mau bohong, kamu bilang saja ini minjam dari pacar kamu. Tapi kalau kamu mau jujur, ya kamu katakan saja dari awal kalau kamu kena tipu oleh pacar kamu, terus kamu bilang saja kalau kamu dijual tapi pas pembayaran, kamu kabur sambil membawa uangnya. Kamu ceritakan saja seesedih sampai orang tua kamu bisa mengerti."

__ADS_1


Nadia tersenyum lalu dia mendaratkan bibirnya pada pipi kanan Rafi. "Maksih ya, Mas. Sudah memberi solusi pada masalah saya."


Rafi pun ikut tersenyum. "Aku cuma bisa menolong semampuku. Kalau aku bisa nolong, ya kenapa nggak?"


"Tapi kan jarang ada yang mau menolong sampai ngasih uang begitu banyak."


"Tapi kan apa yang aku berikan setimpal dengan apa yang aku dapatkan. Tapi kamu nggak menyesal kan menyerahkan mahkotamu?"


Nadia menggeleng dengan cepat. "Tidak. Aku malah beruntung menyerahkannya pada kamu, Mas."


"Ya udah sekarang kita mandi yuk."


Nadia mengangguk. Mereka berdua segera saja beranjak untuk mandi bersama dan melakukan hubugan lagi di sana. Keduanya terlihat sangat antusias dalam menapaki lembah nikmat itu.


Begitu semuanya selesai, seperti yang direncanakan, Nadia pergi ke bank yang letaknya tidak jauh dari tempat kost. Dii sana memang ada beberapa bank berskala nasional dan jaraknya saling berdekatan. Jalan kaki beberapa menit saja langsung nyampai di tempat yang dituju.


Sedangkan Rafi sendiri saat ini memilih duduk di post jaga sambil bermain ponsel seperti biasanya, sembaari menunggu misi berikutnya. Di saat Rafi sedang asyik bermain ponsel, tiba tiba ada yang melakukan panggilan dan Rafi tahu siapa yang melakukan panggilan tersebut. Rafi langsung menggeser tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga.


"hallo!"

__ADS_1


"Apa!"


...@@@@@@...


__ADS_2