SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Bujukan Wildan


__ADS_3

Wildan menatap kepergian kalina dengan sedikit frustasi. Tangannya beberapa kali menjitak kepalanya sendiri karena mulutnya yang tidak bisa mengontrol ucapannya. Entah kenapa tiba tiba ada rasa cemburu dalam benaknya saat membahas tentang pria yang telah menolongnya. Tapi jauh di dalam hatinya, Wildan sama sekali tidak ada niat untuk mengungkit apa yang telah terjadi antara Kalina dan Rafi.


Wildan memandang sang adik yang juga kelihatan terkejut. Bahkan Alisa sampai berhenti bermain karena Kalina pergi begitu saja. Wildan pun jadi merasa bersalah pada sanga adik. Biar bagaimanapun Kalina cukup membantu dirinya dalam menjaga dan memberi perhatian pada gadis cilik itu.


Untuk saat ini Wildan kembali yang memberi perawatan pada sang adik. Jika sejak dekat dengan Kalina, yang memandikan alisa,,l membantu mengenakan pakaian dan juga makan selalu bersama Kalina, untuk sore ini Wildan yang turun tangan melakukan itu semua.


Hingga malam menjelang, Kalina masih berkutat dalam kamarnya. Sejak marah dengan pria yang katanya menerima dia apa adanya, wanita itu memilih berdiam diri dan tidak mempedulikan Wildan yang sedari tadi merengek minta maaf dan memberi segala perhatiannya


Karena Wildan merasa seperti kehabisan cara merayu Kalina untuk membuka pintu kamarnya, pemuda itu kini mencoba memanfaatkan sang adik untuk mendatangi kamar wanita yang sedang marah kepadanya.


"Mbak Lina! Mbak! Alisa boleh masuk tidak?" teriak Alisa sembari mengetuk pintu beberapa kali. Bahkan tingkah gadis itu sempat menjadi perhatian penghuni kost yang lain saking menggemaskannya.


Kalina yang tidak tega membiarkan gadis kecil itu menunggu terlalu lama, akhirnya beranjak untuk membukaan pintu. "Ada apa, dek?" tanya Kalina sembari mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh gadis kecil itu.

__ADS_1


"Kata Bang Idan, mbak Lina disuruh ke bawah, makan dulu," jawab Alisa yang sudah pindah ke dalam dekapan Kalina.


"Tapi Mbak tidak laper, gimana dong?" Kalina mencoba menolak secara halus. Tapi penolakan wanita itu malah membuat Alisa cemberut.


"Padahal aku ingin makan bareng, Mbak," wajah gadis kecil itu terlihat kecewa.


"Loh, Alisa belum makan?" tanya Kalina nampak terkrjut, dan gadis kecil itu langsung menggeleng lemah. "Ya udah, ayok kita turun ke bawah. kita makan sama sama ya?" gadis kecil itu langsung tersenyum ceria dan mengangguk dengan antusias.


Senyum wildan terkembang sempurna saat melihat sang adik dalam gendongan Kalina. usahanya berhasil, dan kini wanita itu sedang beranjak menuju ruang tamu dimana makanan sudah tersedia. Wildan tidak menyia nyiakan kesempatan itu, dia langsung saja bangkit dari duduknya dan segera beranjak menghampiri sang kekasih.


Wildan beberapa kali mencoba memancing sebuah obrolan dengan melempar pertanyaan, tapi pemuda itu harus menahan rasa kecewa karena Kalina mendiamkannya dan sama sekali tidak memberi respon apapun. Yang bisa dilakukan Wildan saat ini hanya bisa bersabar.


"Mulai malam ini kita tidurnya bertiga ya, Yang?" Wildan mulai melancarkan rayuannya kembali begitu mereka selesai makan. sSepertinya pertanyaan itu berhasil mengusik diamnya Kalina. Terbukti, wanita itu langsung mendongak dan menatap tajam ke arah Wildan.

__ADS_1


"Maksudnya apa kita tidur bertiga?" tanya Kalina ketus.


"Ya nggak ada apa apa. Mulai malam ini kita tidur bertiga aja, daripada tidur terpisah. Biar menghemat tempat gitu," Wildan berusaha mencari alasan yang tepat agar tidak menyingung perasaan wanita yang sedang dalam mode marah.


Maskud aku, kamu pindah di kamarku. Di sana kan kasurku cukup luas. daripada kamu menempati kamar bang Rafi. Disana kan ada barang barang bang Rafi dan Marisa. Nanti kalau mereka main kesini terus menginap, kan kamu nggak perlu repot mindah mindahain barang kamu."


Kalina langsung mendengus. Meski begitu pikiran wanita itu bekerja, mencerna ucapan Wildan yang memang ada benarnya. Alih alih mengiyakan, Kalina malah memilih berpaling dan ngajak ngobrol Alisa membuat Wildan yang sedang menunggu persetujuan wanita itu merasa geram karena usulannya diabaikan.


"Gimana? Kamu setuju kan? Kita tidur bertiga?" Wildan kembali bertanya untuk meminta kepastian dengan segala kesabaran yang masih dia tahan.


"Ya sudah sana, kamu pindahin barang barang aku ke kamar kamu," balas Kalina ketus, tapi hal itu malah membuat senyum Wildan terkembang. Dengan wajah berbinar dia langsung melaksanakan perintah sang kekasih.


"Nah, kalau tidur bareng kan mau ngapain aja jadi enak," gumam Wildan begitu dia pergi menuju kamar yang digunakan Kalina dengan piikiran nakalnya.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2