SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Barisan Pengganggu


__ADS_3

"Apa mungkin, Rafi yang menjadi anak Moreno adalah anak dari supirnya Alexander?" sebuah pertanyaan besar kini bergelayut dalam benak lima pria yang di punggung tangannya memiliki sebuah tatto yang menjadi ciri khusus dari jaringan tersebut. Mereka cukup tercengang saat mendapatkan satu informasi yang mereka dapat dari rumah sakit.


Sejak nama Mail mencuat dari mulut seorang wanita dan mengaitkannya dengan anak angkat dari pemimpin perusahaan kelas dunia, Sergio memerintahkan anak buah yang menjadi andalannya untuk melakukan penyelidikan. Dari penyelidikan itulah mereka mendapat informasi yang saat ini datanya sedang dipegang oleh pimpinan jaringan tersebut.


"Bagaimana? Apa kita lapor terlebih dulu pada bos kita, atau kita langsung meluncur ke alamat yang ditunjukkan di sini, untuk mencari informasi yang lebih akurat lagi?" tanya Bawor, sang ketua jaringan tersebut.


Sejenak keempat anak buahnya saling pandang. "Kalau menurut aku sih mending kita datangin kampung yang tertera dalam alamat itu. Kita pastikan dulu kalau nama Rafi yang tercantum dalam kertas itu adalah Rafi si penjaga kos. Jika kita sudah mengetahui fakta yang sebenarnya, baru kita beri laporan pada bos Sergio," salah satu dari mereka memberi masukan yang cukup masuk akal.


"Yang jadi pertanyaan saya adalah, kenapa Tuan Sergio mencari tahu latar belakang Rafi? Apa Rafi itu anaknya yang hilang atau bagaimana?" salah satu anggota yang lain ikut mengeluarkan suaranya.


"Bisa saja itu," anggota yang lain menimpali. "Pasti mereka ada hubungan darah sampai Sergio mau menyelidikinya. Apa lagi jika benar Rafi yang bersama Moreno adalah orang yang sama dengan Rafi ini, aku sih yakin, Sergio akan menghampiri anaknya demi sebuah perusahaan."

__ADS_1


Sisa anggota yang mendengar ucapan temannya sontak tersenyum dengan berbagai karakter. Ada yang tersenyum jahat, ada yang tersenyum tipis dan ada juga yang tersenyyum cukup lebar. Tapi dari semua senyuman itu, mereka memiliki satu keyakinan kalau Sergio memang mencari infornasi Rafi demi keuntungan perusahaannya.


Sementara itu masih di hari yang sama, dua pria asing yang beberapa hari ini datang ke negara ini, nampak sedang duduk berdua sambil menatap layar laptop. Meski terlihat santai, keduanya sebenarnya sedang sibuk melakukan tugas yang mereka emban dari atasan mereka. Kedua pria itu juga sedang menyelidiki orang yang sama dengan jaringan TGM. Tapi kedua orang itu masih belum banyak mengetahui identitas dari anak angkat Moreno.


"Sepertinya kita harus mencari orang yang mungkin saja ada sangkut pautnya dengan Moreno dan anak angkatnya, Brat," salah satu pria asing itu seketika mengeluarkan suaranya saat matanya menemukan sesuatu dari dalam layar laptopnya.


"Apa kamu mendapatkan petunjuk?" tanya pria asing yang dipanggil Brat oleh rekannya. Teman pria asing itu lantas membalikkan layar laptop dan mendorongnya agar lebih dekat dengan mata Brat. "Apakan pria muda ini anak angkat Moreno?" tanya Brat saat matanya menatap layar laptop di hadapannya.


"Ya, memang terlihat sangat jelas kalau Moreno sedang memperkenalkan pria itu sebagai anaknya. Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Brat tanpa mengalihkan pandangannya dari video yang terpampang pada layar laptop.


Sebelum menjawab, rekan Brat terlebih dahulu menyesap cangkir kopinya yang sudah dingin. "Kita harus cari tahu dulu pemilik perusahaan yang mengadakan pesta itu. Aku sih yakin, jika mereka mengundang Moreno, berarti penyelenggara pesta itu cukup dekat dengan Moreno."

__ADS_1


Brat nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. "Nah, benar juga. Kalau begitu, kita harus gerak capat, Jim," pria yang dipanggil Jim itu mengangguk antusias dan mereka mulai bekerja mengumpulkan informasi mengenai perusahaan terkait demi bisa mendekati si target.


Masih di hari yang sama, seorang wanita juga terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan santainya wanita itu melepas lilitan handuk yang menutupi tubuhnya dan memilih baju yang akan dia kenakan. Di saat matanya jelalatan mencari baju, telinganya mendengar dering ponsel berbunyi cukup keras. Wanita itu lantas mengurungkan niatnya untuk memilih baju dan lebih memilih meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur.


"Hallo!" ucap wanita itu saat benda pipi ditangganya menempel di telinga kanannya.


"Beres! Semuanya lancar."


"Hahaha ... aku gitu loh."


"Sip, kita tunggu saja momen yang bagus untuk melancarkan rencana kita selanjutnya."

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2