
Pria paru baya yang masih memiliki semangat untuk bekerja itu nampak memandang pemuda yang ada di hadapannya dengan lekat. Dia cukup terkejut dengan permintaan tolong yang dilakukan anak dari mantan rekan kerjanya itu. Pria yang terbiasa dipanggil dengan nama Budiman merasa tidak percaya dengan permintaan pemuda bernama Rafi.
"Bapak pasti tidak percaya dengan keinginan saya?" terka Rafi dan tebakannya memang benar. Mana ada orang yang akan percaya begitu saja dengan permintaan Rafi.
"Wajar kan jika bapak nggak percaya?" Pak Budiman malah memutar balik pertanyaan. "Memangnya kamu punya banyak uang?"
Rafi tersenyum. Pak Budiman benar, mana mungkin orang akan percaya begitu saja jika melihat keadaan Rafi yang hanya menjadi penjaga kost tapi mampu membeli tempat kost tersebut seharga lima miliar. Rafi lantas meraih ponselnya dan menunjukkan saldo tabungannya kepada pria yang baru saja menyeruput teh buatannya.
"Astaga! Itu uang kamu? Kamu dapat darimana, Fi?" cecar Pak Budiman sesaat setelah diperlihatkan saldo tabungan milik pemuda itu. "Kamu nggak melakukan kejahatan, Kan?"
"Hehehe ..." Rafi malah terkekeh. "Ya nggak lah, Pak. Rafi juga kaget waktu tahu mendapat uang segini banyak."
Pak Budiman malah nenatap Rafi penuh selidik. "Emang bagaimana ceritanya kamu bisa memiliki uang sebanyak itu?"
__ADS_1
Rafi menghela naafsnya sejenak. Mau tidak mau dia memang harus memberi tahu asal usul uang yang dia dapat. Setidaknya Rafi percaya pada pria yang sudah dia anggap sebagai ayahnya itu. Meski begitu Rafi tidak menceritakan misi yang dia lakukan. Rafi tidak mau dipandang buruk. Rifi hanya bilang, dia harus melakukan satu kebaikan sesuai perintah maka uangnya akan bertambah.
Pak Budiman cukup tercengang mendengarnya. Rasanya dia ingin tidak percaya dengan apa yang diceritakan pemuda itu, tapi dari sorot mata Rafi, pria tua itu tidak menemukan kebohongan. Setelah mencerna ucapan Rafi beberapa saat, akhirnya dia percaya dan mau mengabulkan permintaan anak itu.
"Seandainya kalau bapak dan ibu masih hidup, pasti uang yang aku dapatkan akan sangat berguna buat mereka ya, Pak," Rafi berkata dengan bibir agak bergetar. Tentu saja dia sangat mengingat betapa susah hidup orang tuanya sejak dia masih kecil. Hanya gara gara tidak memiliki uang banyak, bahkan sering kekurangan.
"Udah jangan terlalu dipikirkan. Besok kamu hubungi saja pemilik kost ini, lakukan saja sesuai rencana kamu."
"Makasih, Pak. Besok aku ngasih kabar kalau mau transaksi ya, Pak."
Hari kembali berganti, seperti biasa, Rafi menjalani paginya dengan segala tugas yang menjadi kewajibannya. Untuk hari ini Rafi terlihat lebih semangat dari biasanya karena tidak lama lagi, tempat kost ini akan sah menjadi miliknya.
Rafi sudah memberi tahu pemilik kost semalam setelah pak budiman pergi dan dia sekarang tinggal menunggu waktu untuk mempertemukan Pak budiman dengan pemilik kost. Rafi juga tak lupa menanyakan kabar Kalina yang sudah menempati rumahnya sejak semalam. Rafi sangat lega, dengan sedikit alasan yang dirasa tepat, Pak Rt mengijinkan kalina dan wanita yang membawa anak untuk tinggal di rumahnya.
__ADS_1
Saat Rafi sudah melaksanakan semua tugasnya, kini pemuda itu bersiap menuju deretan pedagang di pinggir jalan untuk mengisi perutnya. Saat Rafi mengecek ponsel jadulnya, ternyata sudah ada pesan masuk dari sistem dengan misi yang sama dan hadiah yang semakin besar. kali ini hadiahnya seratus miliar, sangat fantastis. tapi Rafi bingung, mau mencari wanita bersegel dimana lagi.
Tidak seperti biasanya, Rafi memilih sarapan di post jaga. Karena hampir semua para pedagang sudah mengenal Rafi, mereka percaya saja saat Rafi membeli makanan tapi dengan piring milik pedagang. Apa lagi Rafi juga tidak pernah berhutang, jadi mereka percaya waktu Rafi membawa makannnya tanpa membayar terlebih dahulu.
Di saat Rafi sedang menyantap makannnya, matanya melihat kedatangan pria bertato tulang ikan. Setelah motornya terparkir, pria itu hanya menyapa Rafi dengan senyuman dan langsung menuju kamar anak dan istrinya. Rafi sudah menduga pria itu pasti akan sangat terkejut karena yang orang yang akan dia temui sudah tidak ada di tempatnya.
"Mas, lihat anak dan istri saya, nggak?" tanya pria itu beberapa saat kemudian.
"Anak dan istri Bapak? Kemarin, dia pamit pergi," jawab Rafi dengan memasang wajah sedikit terkejut karena mendapat pertanyaan seperti itu.
"Pergi? Pergi kemana?" pria itu terlihat sangat khawatir.
"Saya tidak tahu ya, Pak. Cuma kemarin saya dengar cerita kalau suaminya sedang menjadi buronan karena pekerjaannya."
__ADS_1
deg! Mata pria itu membelalak.
...@@@@@@...